Bandara Polonia, Januari 2002. Untuk pertama kalinya aku menjejakkan kaki di Medan. Polonia adalah wajah Medan yang sesungguhnya, semrawut dan acak-acakan. Polonia memang sudah tua. Diresmikan pada tahun 1928, bandar udara ini dibangun di atas lahan pekebunan tembakau milik Baron Michalsky. Nama Polonia sendiri diambil dari bahasa latinnya Polandia, negeri asal Michalsky.
Polonia tercatat sebagai bandara tersibuk di Sumatra. Walau berstatus internasional, dari segi fasilitas dan kenyamanan Polonia jauh tertinggal dibanding bandara internasional manapun di Indonesia. Setiap harinya, bandara seluas 7.941 meter persegi itu dipaksa menampung 2.000 penumpang dalam waktu yang bersamaan. Kursi tunggu penumpang sangat sedikit tersedia. Garbarata, belalai penghubung tempat tunggu dengan kabin pesawat, satu-pun tak ada. Lobi bandara yang terlihat kusam, kadangkala harus dipenuhi kuli angkut dan sopir taksi yang berteriak menawarkan jasa.
Dari Polonia, aku dijemput supir kantor klien tempat ku bertugas. Pak Hadi namanya, orang Melayu asli. Seperti kebanyakan orang Medan yang banyak cakap, Pak Hadi-pun tak pernah berhenti bercerita. Ceritanya macam-macam, dari soal PSMS sampai makanan khas kota Medan. Selama disini, Pak Hadi-lah yang mengantarkan ku berkeliling-keliling Medan. Hari pertama sesampainya di Medan, langsung stock opname persediaan. Kebetulan klien ku ini salah satu perusahaan kosmetik kesohor di tanah air, yang punya persediaan beraneka rupa. Jadilah penghitungan inventory di gudang, makan banyak waktu. Siang menjelang sore, semua pekerjaan selesai ditunaikan. Sebelum jam 3 sore, kami telah tiba di hotel. Selama di Medan kami menginap di Hotel Danau Toba, di Jalan Imam Bonjol. Hotel ini hotel tua, milik keluarga Pardede pengusaha asal Batak. Interior kamarnya boleh lah, walaupun agak terkesan angker.
DIarsipkan di bawah: Wisata | Ditandai: Bandara Polonia, Cina Medan, Danau Toba, Istana Maimun, Medan, Melayu Deli, Tionghoa | 1 Komentar »








