Sejarah Sumatra pada Periode Klasik (1)

Kisah Sumatra pada periode klasik sangat jarang dibahas dalam literatur-literatur sejarah nasional. Kejayaan imperium orang-orang Sumatra yang akbar, seolah-olah tenggelam dalam bahasan panjang sejarah Jawa. Pola pandang Jawasentris dalam banyak kajian sejarah Indonesia, telah menutup informasi-informasi penting seputar kehidupan masyarakat Sumatra. Dengan merujuk pada catatan-catatan China, India, dan Arab, serta beberapa prasasti yang terserak di sepanjang pulau Sumatra, kita akan menengok sejarah bangkit dan jatuhnya orang-orang Melayu yang bermukim di pulau tersebut sejak abad ke-7 hingga ke-15. Masa tersebut, yang dikategorikan oleh sejarawan Krom sebagai masa klasik, merujuk pada masa terbentuknya kerajaan Malayu hingga bangkitnya kerajaan Aceh di ujung utara Sumatra.

Dalam catatan musafir-musafir mancanegara, Suwarnadwipa atau Zabag atau Sanfotsi, merupakan tempat penting dalam rute perdagangan mereka. Pedagang-pedagang Arab dan Persia kerap mendapatkan bumbu-bumbu masak yang dibutuhkan pasaran Eropa dari wilayah ini. Sedangkan raja-raja China dan India membutuhkan mineral-mineral yang banyak dikandung oleh pulau emas ini. Kerajaan Kantoli di Sumatera Selatan yang mengalami keruntuhan pada pertengahan abad ke-6, mengakhiri periode kuno Sumatra. Selanjutnya, sejarah Sumatra masuk pada fase ekspansi dan kedewasaan kultural kerajaan Budha dan Hindu.

Pada awal abad ke-7, persekutuan antara komunitas Batanghari dan pedagang-pedagang Minangkabau yang bermukim di lereng pegunungan Bukit Barisan, membentuk sebuah pemerintahan yang bernama Malayu. Pelabuhan dagang Malayu diperkirakan berada di Jambi, hilir sungai Batanghari. Kehidupan kerajaan disokong oleh kegiatan perdagangan emas yang banyak diusahakan oleh masyarakat pedalaman Minangkabau di hulu sungai Batanghari. Pedagang-pedagang ini menggunakan jalur Batanghari untuk mengangkut barang dagang mereka dari pedalaman ke muara Jambi di pesisir timur Sumatra, untuk ditukarkan dengan produk-produk impor dari mancanegara.

Baca selebihnya »

Politisi Minang dan Kabinet Beraroma Rendang

Situasi Rapat Kabinet Hatta I

Kiprah politisi Minang dalam kancah pemerintahan Indonesia cukup menarik untuk disimak. Ketertarikan tersebut mengingat kecilnya jumlah etnis Minang dalam populasi Indonesia, namun mampu memainkan peranan penting dalam roda pemerintahan. Peranan ini sangat nampak mencolok pada masa perjuangan kemerdekaan dan demokrasi parlementer, ketika banyak orang Minang yang duduk sebagai perdana menteri serta mengisi pos-pos penting kabinet. 15 tahun awal berdirinya republik Indonesia, bisa dikatakan sebagai era keemasan politik orang Minang. Pada periode 1945-1960, politisi Minang tidak hanya duduk di posisi strategis pemerintahan, namun juga cukup mewarnai kebijakan politik negara. Di penghujung dekade 1950-an era kejayaan tersebut berakhir. Dimulai dengan lengsernya Hatta dari kursi wakil presiden (1956), yang diikuti oleh gerakan koreksi PRRI (1958-1959), serta dibubarkannya partai Masyumi dan PSI (1960), dua partai yang menjadi motor politik orang-orang Minang.

Sejak negeri ini merdeka, hingga kini telah 39 kabinet yang terbentuk. Angka 39 itu, tanpa mengikutsertakan kabinet sementara Susanto dan kabinet tandingan PRRI, yang hanya bersifat ad hoc. Dalam 39 kali pembentukan kabinet, tak pernah sekalipun orang-orang Minang absen duduk sebagai menteri. Kabinet Presidensial yang terbentuk pada tanggal 2 September 1945, merupakan kabinet pertama yang dibentuk oleh pemerintahan Soekarno-Hatta. Pada masa ini, Mohammad Amir putra kelahiran Sawahlunto, tercatat sebagai orang Minang pertama yang diangkat menjadi menteri.

Berdasarkan data statistik, populasi etnis Minangkabau hanyalah berjumlah 2,7% dari seluruh jumlah penduduk Indonesia, namun jumlah keterwakilan mereka dalam kabinet jauh melampaui angka tersebut. Sekurang-kurangnya 94 posisi kementerian diisi oleh orang-orang Minang, angka tersebut belumlah ditambah dengan posisi menteri muda serta pejabat setingkat menteri yang pernah ada dalam beberapa kabinet. Jumlah itu setara dengan 8% dari seluruh posisi kementerian yang ada, atau 3 kali lebih banyak dari jumlah orang Minang yang bermukim di Indonesia. Dalam sejarah kabinet, jumlah menteri dari ranah Minang melampaui etnis Sunda, Melayu, Madura, Bugis, dan Batak yang secara populasi di atas mereka. Jumlah keterwakilan orang Minang, hanya kalah dari orang-orang Jawa yang memang mayoritas di republik ini.

Baca selebihnya »

Gedung Tertinggi Di Indonesia

Wisma 46

Wisma 46, di Tengah-tengah Pencakar Langit Jakarta

Indonesia tak kalah dengan negara-negara lain yang telah maju di dunia. Mampu membuat struktur bangunan yang menjulang tinggi ke langit. Saat ini bangunan tertinggi di Indonesia ialah menara televisi Indosiar, yang terletak di daerah Kembangan, Jakarta Barat. Tinggi menara mencapai 395 meter dan berfungsi sebagai pemancar siaran Indosiar ke seluruh Indonesia.

Untuk kategori gedung tertinggi, Indonesia belum bisa berbicara banyak. Gedung-gedung tinggi di Indonesia, masih kalah ukuran jika dibandingkan dengan gedung-gedung di Kuala Lumpur atau Singapura. Malah jika dibandingkan dengan negara-negara seperti Amerika Serikat, Cina, ataupun Uni Emirat Arab, Indonesia tidak ada apa-apanya. Sejak tahun 1997, Indonesia telah berencana untuk membangun gedung tertinggi di dunia, yakni Menara Kemayoran. Namun, menara yang kabarnya akan dibangun setinggi 550 meter ini, hingga kini tak pernah terwujud. Sekarang Indonesia hanya berpuas dengan Wisma 46, yang menjadi gedung tertinggi dengan ketinggian 262 meter. Gedung perkantoran milik Bank Negara Indonesia ini terletak di Jalan Sudirman, tepat di jantung ibu kota Jakarta. Bentuknya yang unik seperti pulpen, menjadikan Wisma 46 sebagai ikon kota Jakarta disamping Tugu Monas. Pembangunan Indonesia yang tidak merata, tercermin pula pada penyebaran gedung-gedung tinggi yang dimilikinya. Kesepuluh gedung tertinggi Indonesia, semuanya berada di Jakarta.

Berikut 10 Gedung Tertinggi di Indonesia :

1. Wisma 46, tinggi 262 meter, terletak di Jalan Sudirman Jakarta Pusat, pemilik BNI.
2. Menara BCA, tinggi 230 meter, terletak di Jalan M.H Thamrin Jakarta Pusat, pemilik BCA.
3. The Peak I, tinggi 218,5 meter, terletak di Jalan Sudirman Jakarta Selatan, apartemen.
4. The Peak II, tinggi 218,5 meter, terletak di Jalan Sudirman Jakarta Selatan, apartemen.
5. Graha Energi, tinggi 217 meter, terletak di Sudirman CBD Jakarta Selatan, pemilik Medco Group. Baca selebihnya »

Orang Kaya Indonesia

Konglomerat Indonesia

Konglomerat Indonesia

Forbes, dalam ritual tahunannya, kembali menurunkan daftar orang-orang kaya Indonesia. Ada yang berbeda tahun ini, Aburizal Bakrie yang tahun lalu duduk di kursi paling atas, kini harus merosot ke posisi keenam. Sejak krisis pasar modal terjadi pada bulan Oktober 2008 lalu, saham BUMI yang menjadi mesin uang grup Bakrie, terjun bebas dari Rp 8.800 hingga mencapai Rp 700. Selain itu, diambil alihnya beberapa saham perusahaan di kelompok Bakrie dari tangan Aburizal, juga turut menekan jumlah kekayannya. Sukanto Tanoto, pengusaha kertas dan bubuk kertas asal Medan, ambil alih posisi menjadi yang teratas. Berikut daftar konglomerat Indonesia menurut versi majalah Forbes Asia.

1. Sukanto Tanoto, US$ 2,8 Milyar; 58 tahun. Di bawah bendera Raja Garuda Mas International yang berpusat di Singapura, Sukanto memproduksi kertas, minyak kelapa, dan sumber daya energi.

2. Putera Sampoerna – US$ 2,1 Milyar; 58 tahun. Perusahaannya, PT H.M Sampoerna, Tbk menjadi perusahaan rokok paling menguntungkan di Indonesia. Selain bisnis rokok, Sampoerna juga mengembangkan perkebunan dibawah kendali PT Sampoerna Agro Industri.

3. Eka Tjipta Widjaja & keluarga – US$ 2,0 milyar; 80 tahun. Pemilik Sinar Mas Grup, yang bergerak di bidang perkebunan, kertas, perbankan, dan sekuritas.

4. Rachman Halim & keluarga – US$ 1,8 Milyar; 59 tahun. PT Gudang Garam yang berbasis di Kediri, Jawa timur merupakan kepunyaannya. Saat ini Gudang Garam menjadi perusahaan rokok terbesar di Indonesia.

5. R. Budi Hartono & keluarga – US$ 1,4 Milyar; 64 tahun. Selain bisnis rokok kretek dengan merek Djarum, Hartono dan keluarga juga merupakan penguasa sebagian saham bank swasta terbesar tanah air, BCA. Hartono juga mulai merambah ke bisnis properti, dengan proyek terbesarnya saat ini ialah kompleks hotel, mal, dan apartemen Grand Indonesia. Baca selebihnya »

Melancong ke Kota Tua Jakarta

Kali Besar, Jakarta Kota

Kali Besar, Jakarta Kota

Pergi melancong ke kota tua Jakarta (Oud Batavia), ternyata memiliki keasikan tersendiri. Tak perlu harus merogoh kocek dalam-dalam, saya sudah bisa menikmati keindahan tempat-tempat bersejarah di lokasi awal mula kota Jakarta berdiri. Agar hemat diperjalanan, saya memilih moda transportasi murah seperti kereta listrik dan bis Transjakarta.

Sudah beberapa kali saya bertamasya ke kota tua. Tapi untuk perjalanan kali ini, saya memilih naik kereta listrik ekonomi. Harga tiketnya super murah. Untuk perjalanan dari stasiun Cakung hingga stasiun Jakarta Kota, cukup dengan tiga koin Rp 500. Setibanya di Jakarta Kota, keluar dari gerbang utara stasiun, saya berjalan kaki menyusuri pedestrian yang sempit dan berdebu. Tak jauh dari stasiun, saya berserobok dengan bangunan tua yang kokoh perkasa dengan lapangan besar di depannya. Kompleks bangunan ini kira-kira berukuran 100 meter kali 150 meter. Konon tempat ini dulu menjadi balai kota dan kantor bagi para penggede VOC. Dari bangunan besar inilah, VOC mengendalikan bisnisnya yang terbentang luas mulai dari Afrika Timur hingga Kepulauan Maluku. Kini bangunan yang berdiri sejak tahun 1710 itu, dikenal dengan Museum Fatahillah atau Museum Sejarah Jakarta. Museum ini memang terkesan angker. Di bawah tanah museum, terdapat beberapa ruang penjara setinggi tengkuk orang dewasa. Baca selebihnya »

Kapitalis Modal Dengkul

Kapitalisme

Di zaman ekonomi kartal dewasa ini, segalanya menjadi mungkin. Orang-orang yang mencoba untuk menjadi kaya, cukuplah tampil parlente. Tak perlu sekolah tinggi-tinggi, asal bisa berhitung, baca peluang plus pergaulan luas, menjadi seorang miliuner tak sulit digapai. Hanya pakai jas, dasi, sedikit wewangian, dan diantar sopir dengan mobil bermerek, bisa menambat hati banyak orang. Tak terkecuali pihak bank. Masuklah Anda ke bank dengan gaya necis macam ini, layanan prioritas tak kan sulit diraih. Tawaran kartu kredit platinum tanpa limit, serta bunga pinjaman yang menarik menanti Anda. Mau buka usaha tapi tak punya modal, tinggal pinjam uang ke bank. Cukup kasih komisi 1% ke pejabat bank, dijamin urusan Anda selesai secepat kilat. Buka usaha tak perlu pintar-pintar amat, asal bisa menej orang serta patpatgulipat dengan birokrat, bisnis Anda dijamin sukses. Untuk tenaga kerja, Anda tinggal hire alumni-alumni terbaik UI dan ITB. Kasih gaji tinggi dan minta mereka menjalankan usaha Anda sebaik mungkin.

Mau memperbesar skala usaha, banyak jalan menuju Roma. Mungkin salah satu cara yang tepat, masuk ke pasar modal. Sukses di pasar modal resepnya cuma satu, buat semenarik mungkin kinerja saham perusahaan Anda. Jadikan seolah-olah saham ini sebagai tempat investasi yang menguntungkan bagi banyak orang. Dimasa sekarang, dimana kepeng rupiah yang bicara, menciptakan yang seperti ini tidaklah terlalu sulit. Baca selebihnya »

Audisi Kabinet SBY Jilid Dua

Kabinet SBY Berpose Di Depan Istana Negara

Kabinet SBY Berpose di Depan Istana Negara

Nama-nama telah tersusun dengan lengkap. Hari ini (Senin, 19/10/09), SBY telah rampung mengaudisi calon-calon yang nantinya bakal membantu beliau dalam menangani problema bangsa. Tanggung jawab bagi mereka yang terpilih tidak lah ringan. Dari daftar nama yang datang ke Cikeas menemui presiden, nampak muka-muka baru yang muda menyegarkan. Yang muda-muda itu datang dari berbagai latar belakang profesi, etnis, dan keahlian. Ada Helmy Faishal Zaini politisi PKB kelahiran 1972. Beliau merupakan menteri termuda dalam kabinet ini. Ada Andi Mallarangeng, bang kumis asal Bugis yang kerap mendampingi SBY kemanapun ia pergi. Ada Marty Natalegawa, yang kemungkinan besar akan di plot menjadi menteri luar negeri. Disamping mereka, ada Tifatul Sembiring, presiden PKS dan Gita Wirjawan, pengusaha pemilik Ancora Capital.

Kabinet SBY kali ini juga akan diisi oleh orang-orang bersih. Mr. Clean yang masuk kabinet antara lain Gamawan Fauzi, gubernur Sumatera Barat yang berhasil meningkatkan kinerja aparatur negara sekaligus memberantas korupsi di lingkungan pemerintahannya. Selain Gamawan ada Sutanto, mantan kapolri yang dikenal idealis dan bersih.

Baca selebihnya »

Adakah Zakat Profesi Itu ?

Zakat Profesi

Di bulan Ramadhan, ketika pembayaran zakat diwajibkan kepada seluruh umat Muslim, banyak saudara-saudara kita yang juga mengikutsertakan pembayaran zakat profesi disamping zakat fitrah. Emangnya zakat profesi tuh ada? Zakat profesi, zakat jenis apa tuh ..? Definisi yang berkembang luas dimasyarakat, zakat profesi merupakan zakat yang wajib dikeluarkan oleh para profesional, dari gaji yang diterimanya setiap bulan. Entah itu ia berprofesi sebagai dokter, akuntan, konsultan, pengacara, pegawai, atau jenis profesi lainnya. Besarannya 2,5% dari total gaji yang diterima, tanpa ada haul (putaran satu tahun), dan nisab yang sama dengan zakat harta.

Kita semua sepakat bahwa zakat itu wajib hukumnya. Jadi kalau zakat profesi itu ada, maka haram hukumnya bagi umat Muslim yang tidak menyisihkan 2,5% gajinya. Wah..wah kasihan juga ya buat orang-orang yang punya kebutuhan banyak, sedangkan gaji yang mereka terima tidak mencukupi untuk menutupi kebutuhan itu. Sudah tak mampu memenuhi kebutuhan, masih harus diwajibkan berzakat. Apa benar hal yang seperti ini sesuai dengan prinsip ajaran Islam yang pro kepada orang-orang lemah.

Baca selebihnya »

Mengapa Indonesia Sulit Berkembang ?

Perkampungan Miskin

Pada tahun 1960, pendapatan per kapita Indonesia masih setara dengan Korea Selatan, kini setelah hampir 50 tahun berselang pendapatan per kapita rakyat Korea Selatan 10 kali lebih besar dibandingkan kita. Pendapatan rakyat China yang pada tahun 1990 jauh di bawah, kini 1,5 kali lebih besar dibandingkan kita. Malaysia yang tahun 1970 masih banyak berguru pada kita, kini telah melampaui Indonesia dengan mantap. Mengapa Indonesia sulit berkembang ?

Keterbelakangan suatu negara mesti disebabkan oleh keterbelakangan mental masyarakatnya. Keterbelakangan mental bagaikan virus penyakit yang masuk ke dalam tubuh kita, yang secara tak sadar menjalar dan melumpuhkan seluruh sistem tubuh. Harus diakui bahwa saat ini mayoritas rakyat Indonesia mengalami keterbelakangan mental. Amien Rais dalam sebuah pernyataannya menyindir bangsa Indonesia sebagai bangsa bermental kuli. Menurut dia, bangsa ini hanya bisa menjadi babu dan kuli untuk bekerja di negeri orang. Sedangkan di negerinya sendiri, pemerintahnya malah sibuk menjual aset-aset negara dan menyerahkan banyak kekayaan alam untuk dieksploitasi bangsa asing.

Sejatinya, sebelum kedatangan Belanda, orang-orang Indonesia telah mengidap keterbelakangan mental. Hal ini disebabkan karena sentralisasi kekuasaan yang memasung semua bentuk kreativitas rakyat. Di beberapa kerajaan berbasis agraris, terutama di pulau Jawa, hal ini berlangsung cukup lama. Baca selebihnya »

Tan Malaka, Soekarno, Hatta, dan Sjahrir

Tiga Serangkai : Sjahrir, Soekarno, Hatta

Tiga Serangkai : Sjahrir, Soekarno, Hatta

Jika di Indonesia ini harus dibuat pula patung kepala pendiri bangsa seperti di Amerika sana, maka saya akan mengusulkan empat tokoh founding fathers kita, Tan Malaka, Soekarno, Hatta, dan Sjahrir. Mereka adalah orang-orang Indonesia di atas rata-rata, yang berpikir melampaui zamannya. IQ mereka mungkin tak pernah ada orang yang tahu, tapi dari kemampuan mereka menulis, mengelola partai politik, hingga berhasil mendirikan republik ini, jelas mereka-mereka itu sangatlah pintar.

Mereka berempat orang-orang segenerasi yang lahir pada saat politik dunia sedang memanas. Tan Malaka (lahir 1896), Soekarno (lahir 1901), Hatta (lahir 1902), dan Sjahrir (lahir 1909) berada di usia matang pada saat kekuasaan orang-orang Belanda mulai memasuki senja. Sehingga pada tahun 1945, disaat Perang Dunia Kedua berakhir dan terlepasnya Indonesia dari kolonialisme Belanda, mereka siap memimpin negeri. Walau dalam perjalanan bangsa, Soekarno, Hatta, dan Sjahrir duduk dalam kursi formal pemerintahan negara, sedangkan Tan Malaka menjadi pemimpin oposisi.

Baca selebihnya »