Afandri Adya

Keikhlasan dan Keserakahan

Nopember 14, 2008 · Tidak ada Komentar

Tempo hari pengalaman menarik saya dapatkan. Sebuah cerita yang mengingatkan saya, bahwa sebuah keikhlasan sangat diperlukan dalam hidup ini. Cerita itu datang bukan dari motivator ulung atau pak ustad, tapi dari seorang rakyat terpinggirkan, tukang ojek. Begini ceritanya; hari menunjukkan pukul 7.50, 10 menit menjelang waktu saya masuk kantor. Kopaja, jelaslah pilihan yang salah untuk cepat sampai kantor, memilih Kopaja bisa-bisa telat lagi. Taksi, oh no…, mahalnya argo taksi tak cukup untuk karyawan kecil macam saya. Tak ada pilihan lain, selain memilih ojek untuk sampai sebelum jam 8.00 di kantor.

Panas yang mulai meninggi di downtown kota Jakarta, plus kondisi lalu lintas yang cukup semrawut, tak membuat wajah ini absen mengumbar senyum. Senyum pagi itu, saya tumburkan ke seorang tukang ojek setengah baya. Senyum tipis dari pengojek itulah, yang membuat saya membalas senyum. Setelah itu, tawar menawar pun terjadi diantara kami. “Bang, Komdak sepuluh ribu ya?” Tanya saya pada pengojek tersebut. Tawaran saya pun langsung di iyakan olehnya, setelah tawaran saya kepada dua tukang ojek sebelumnya ditolak mentah-mentah. Tanpa ba bi bu, si pengojek ramah tersebut langsung menancap motor bebek bututnya.

Sesampainya di bilangan Setia Budi, si pengojek itu mulai bercericau. “Mas, besok-besok kalo mo naik ojek, langsung aja naik ojek saya” si pengojek itu memulai pembicaraan. “Emangnya kenapa mas?” balas saya, “Iya, kalo tukang ojek lain dia suka milih-milih bawa penumpang. Mereka gak bakalan mau bawa penumpang yang jarak jauh.” “Oohh gitu”, sahut saya heran. “Kalo saya sih bawa penumpang kagak pernah milih-milih, rejeki gak bakal kemana Mas” tambahnya dalam logat betawi yang kental. Singkat cerita, ternyata si pengojek ini pernah mendapatkan uang kaget Rp 2.500.000, dari acara reality show Tolong. Keberuntungan ini terjadi karena hanya dia lah satu-satunya tukang ojek yang bersedia membawa penumpang berongkos Rp 2.000, dari Dukuh Atas ke Pulo Gadung. “Tukang ojek lain kagak ada yang mau Mas, eh ternyata gak nyangka malah saya dapet dua setengah juta” Berawal dari pengalaman itulah, si pengojek itu makin yakin bahwa jika bekerja dengan ikhlas maka Tuhan akan memberikan harta lebih yang tak disangka-sangka.

Lain dari kisah pengojek itu, Richard Fuld Jr bukanlah orang bodoh. Tapi ketamakannya lah yang membawa bank investasi terbesar nomor tiga Amerika, Lehman Brothers, jatuh terperosok hingga bangkrut. Berdiri sejak 1850, garapan bisnis Lehman cukuplah luas. Dari pinjaman untuk properti, obligasi perusahaan, hingga aset manajemen. Lehman selalu lulus uji melewati krisis ekonomi dunia, sejak depresi AS 1929 sampai krisis Asia 1998. Tapi kali ini keberuntungan Lehman tak secemerlang sebelumnya, mengharap untung besar, Fuld Jr memberikan kredit rumah yang berlebihan kepada nasabah-nasabah sub-prime, nasabah yang jelas-jelas tak memiliki riwayat bagus dalam berurusan dengan bank.

Lehman tak pernah berpikir bahwa nasabah sub-prime ini akan memacetkan likuiditasnya. Yang mereka tahu adalah jika nasabah sub-prime itu menunggak, mereka bisa melego aset properti yang menjadi jaminannya, dengan harapan nilai properti tersebut terus meningkat. Tapi skenario Lehman tak berjalan mulus, nasabah sub-prime memang menunggak, tapi nilai propertinya terus merosot. Walhasil likuiditas Lehman seret, nilai asetnya terus tergerus. Kerugian, so pasti, tapi nasib Lehman tak seberuntung AIG, J.P Morgan, dan Merril Lynch yang disuntik dana segar oleh pemerintah. Kebangkrutan pun tak tertahankan, karier perusahaan Lehman berakhir. Ini semua terjadi akibat manajemen Lehman yang serakah, yang tak peduli lagi dengan resiko, demi mengejar laba besar.

→ No CommentsKategori: Motivasi

Orang Kaya Dunia

April 24, 2008 · 2 Tanggapan

India … Negeri miskin di anak benua Asia, dengan populasi besar, penduduk yang kurang kreatif, dan hanya mengandalkan hasil pertanian sebagai mata pencahariannya. Tetapi itu dulu, kisah dua puluh tahun lalu. Kini India telah mengkilap, telah berubah dan menjadi salah satu pesaing terberat Amerika. Tengoklah dalam daftar orang-orang tajir se-jagat yang dikeluarkan oleh majalah ternama, Forbes. India menempatkan empat wakilnya, dalam top sepuluh orang-orang kaya dunia. Amerika yang dari tahun ke tahun mendominasi daftar ini, hanyalah menempatkan dua orang dalam top sepuluh.

Adalah Lakshmi Mittal, Mukesh Ambani, Anil Ambani, dan Kushal Pal Singh, empat pengusaha India yang duduk di posisi tersebut. Lakshmi, yang memiliki pabrik baja terbesar di dunia masih yang terhebat diantara mereka. Pada tahun 2007 lalu, Arcelor Mittal memberikan US$ 45 milyar ke pundi-pundi Lakshmi. Angka ini hanya kalah dari Warren Buffett, Carlos Slim Helu, dan Bill Gates. Gates yang tahun lalu menduduki posisi kampiun, pada tahun ini harus puas di urutan ketiga tergeser oleh raja investasi Warren Buffet yang mampu mengumpulkan US $ 62 miliar dibawah bendera Berkshire Hethaway.

Dari daftar ini banyak hal menarik yang perlu dicatat, walaupun Amerika masih mendominasi dalam melahirkan orang-orang kaya dunia, namun penduduk-penduduk Asia sudah mulai dapat mengimbanginya. Majalah ini juga mencatat, India dan China pada tahun lalu merupakan negara yang paling banyak melahirkan miliarder baru. Tak salah jika dalam 1000 daftar orang kaya dunia, China dan India banyak menempatkan taipan-taipannya dalam daftar tersebut.

Disamping India dan China, Rusia - negeri beruang merah yang tak berdaya semenjak keruntuhan Uni Soviet - kini juga banyak melahirkan miliarder baru. Tercatat 79 miliarder Rusia masuk dalam Top 1000 dengan total kekayaan US$ 463,1 milyar. Seperti halnya miliarder-miliarder Timur Tengah, taipan Rusia banyak mendulang fulus dari pertambangan. Oleg Deripaska (#9) misalnya, yang mengais pundi-pundi dari perusahaan tambangnya, Rusal.

Seperti halnya Fortune 500 - yang memuat 500 perusahaan besar dunia - daftar Forbes 1000 ini juga semakin menunjukkan bahwa persaingan global semakin merata, antara kutub Amerika Utara, Eropa, dan Asia Timur. Untuk tahun-tahun mendatang akankah tercipta kutub baru dalam persaingan global, mungkinkah Timur Tengah berikutnya ?

Berikut daftar Top 10 dunia :

Rank | Nama | Kewarganegaraan | Usia | Kekayaan (US$ milyar) | Domisili
1 | Warren Buffett | Amerika Serikat | 77 | 62 | Amerika Serikat
2 | Carlos Slim Helu | Meksiko | 68 | 60 | Meksiko
3 | William Gates III | Amerika Serikat | 52 | 58 | Amerika Serikat
4 | Lakshmi Mittal | India | 57 | 45 | Inggris
5 | Mukesh Ambani | India | 50 | 43 | India
6 | Anil Ambani | India | 48 | 42 | India
7 | Ingvar Kamprad | Swedia | 81 | 31 | Swiss
8 | Kushal Pal Singh | India | 76 | 30 | India
9 | Oleg Deripaska | Rusia | 40 | 28 | Rusia
10 | Karl Albrecht | Jerman | 88 | 27 | Jerman

Berikut daftar Top 10 negara asal miliarder dunia *

Rank | Negara | Kekayaan (US $ milyar) | Jumlah
1 | Amerika Serikat | 1.555,5 | 417
2 | Rusia | 463,1 | 79
3 | India | 326 | 45
4 | Jerman | 280,6 | 55
5 | China | 237,7 | 65
- Hongkong | 135,3 | 25
- China Daratan | 74,2 | 33
- Taiwan | 28,2 | 7
6 | Prancis | 112,8 | 13
7 | Meksiko | 96,2 | 10
8 | Kanada | 92 | 25
9 | Inggris | 91,5 | 29
10 | Swedia | 88 | 9

* Jumlah dan Kekayaan dari total Top 1000 miliarder

→ 2 CommentsKategori: Ekonomi Bisnis

Will America Fall in Last Century?

April 8, 2008 · Tidak ada Komentar

Like to Roman Empire history in fifth century, America will replay its history. The Roman Empire fell because it was bankrupted by its leaders. Well, look at the American leaders now, not only the leaders in governance, but the CEO in big companies. Like the Roman senator were selfish and self-absorbed, determined to hoard the huge wealth of the empire and determined to promote empire to enhance their wealth even further.

In business, American CEOs receive higher salary than European or Japanese CEOs. Even though American not more productive than European or Japanese. Like Jack Welch who received salary 70 times compare than his lower staff. In governance, not as well as in business, George Walker Bush, like the kings of Roman, conquering many of world. Consequently, cost of conquers, make the budget deficits, trade deficits, and a huge national debt that has tripled. Today, the sub-prime mortgage issues, bring American financial companies go to seriously loss along its history after the great depression.

The Fed solution was only simple effort. Decrease the interest rate in commercial banking, hopeful credit sector to wake-up overall economic system. Nowadays, American effect like not twenty years ago. China and India were changed American as motor of world economic. The big investor floated their capital to financial centre in the east, like Hong Kong, Singapore, Shanghai and Mumbai. China and India were changed American as motor of world economic since early century. Goldman Sachs, in its economic forecast, highlighted the trend towards mainland China becoming the largest and India the second largest economies by the year 2050.

Today, American stands on postindustrial sector. The service sector is contributing 67.8% of GDP. Only by creative people — in IT, financial sector, etc — American economic could be strength. Now, half of expert in service sector come from other countries, like India, China, Russia, and Middle East. If the creative people runway from America, the economic maybe collapse. Twenty years ago, maybe American could be delighted, 60% of global fund invested in America. But, nowadays the global investor are shifting their money to China, India, and Russia. Fact, many of American’s big companies take over to strange investor. Citicorp, the nation’s largest banking company was acquisition by Prince al-Waleed bin Talal, had agreed to invest $590 million, in a deal that will help Citicorp strengthen its finances. The investment will make Prince Waleed the largest single shareholder in Citicorp.

On economic snapshot, Will America Fall in Last Century?

→ No CommentsKategori: Ekonomi Bisnis

Mengapa Nusantara Jatuh Miskin

Desember 10, 2007 · Tidak ada Komentar

Nusantara dalam kajian sejarah dunia, merupakan daerah pinggiran yang jarang tersentuh serta disorot secara menyeluruh. Sejarawan besar macam Arnold Toynbee pun hanya mengulas sedikit kehidupan budaya dan sejarah masyarakat Nusantara dalam bukunya yang sensasional “Mankind and Mother Earth”. Sejarawan besar dunia hanya memintaslalukan perkembangan masyarakat Nusantara yang diapit oleh dua budaya besar China dan India. Bahkan Arnold Toynbee menganggap bahwa kebudayaan Nusantara hanyalah perkembangan dari budaya India (Indian civilization influenced), seperti halnya budaya Benggala dan Urdhu. Namun ada beberapa pakar yang mengulas sejarah Asia Tenggara (Nusantara) secara mendalam dan menyeluruh. Diantara sejarawan-sejarawan tersebut ialah Dennys Lombard, Anthony Reid dan Rovere van Bruegel. Ketiga sejarawan besar tersebut perlu mengulas Nusantara secara mendetail sebagai bangsa besar dan berpengaruh dalam percaturan perdagangan dunia.

Dalam konteks materi kali ini, kita akan melihat dan meneropong Nusantara sebagai daerah yang maju dan akhirnya menjadi bangsa yang miskin. Kita akan melihat penyebab dan dampak dari merosotnya perdagangan Nusantara sehingga akhirnya hal ini memiskinkan penduduk Nusantara.

“Kalau membandingkan Banten di masa lampau, ketika bangsa-bangsa Eropa muncul di Asia, dengan keadaannya yang miskin sekarang, maka orang harus pasrah pada Tuhan Yang Maha Kuasa yang menciptakan kerajaan-kerajaan dan menghancurkannya lagi sekehendak-Nya … Pusat perdagangan yang terbesar di Timur itu telah menjadi tempat orang-orang sial” demikian pendapat van Bruegel pakar sejarah negeri Belanda. Pendapat ini mengesankan bahwa Nusantara yang berjaya telah lemah dan miskin, sementara Eropa telah meninggalkan Nusantara dengan unsur-unsur dinamika budaya dan teknologinya. Mengenai kejayaan Aceh dan kekuatannya dalam mendikte pedagang-pedagang Arab, Persia, India, China dan Eropa di Selat Malaka hingga kini menjadi salah satu propinsi termiskin di Nusantara, menjadi cerita lain lagi dari kisah tragis bangsa-bangsa Nusantara.

Reid dalam bukunya “Southeast Asia in the Age of Commerce 1450-1680” mengulas beberapa faktor yang menjadi penyebab dari kemiskinan Nusantara. Hubungan antara penguasa dan rakyat, serta budaya feodalistik masyarakat Nusantara telah melemahkan mereka. Pada masa awal krisis, akhir abad ke-17, di Campa rakyat tidak bisa memiliki barang berharga, sedangkan orang Kamboja hanya bisa memiliki harta selama diperkenankan raja. Di Tongking, Vietnam Utara, sudah menjadi kebijakan istana untuk tidak membiarkan rakyat kaya karena dengan itu mereka akan sombong. Kurang berminatnya masyarakat Nusantara mengalihkan hartanya menjadi modal terpasang sebagai pijakan untuk pengembangan ekonomi mereka juga menjadi faktor penyebab miskinnya Nusantara. Sementara Eropa menggiatkan kapitalistik ditengah masyarkatnya, masyarakat Nusantara justru mengalihkan harta-harta mereka menjadi barang-barang konsumtif, seperti permata dan pakaian indah. Reid berpendapat tidak adanya budaya kapitalis dan pemupukan modal dalam masyarakat Nusantara menjadi penghambat majunya perekonomian bangsa ini.

Perkongsian enam kota plus pemupukan modal oleh masyarakat Yahudi Belanda, telah melahirkan VOC sebagai perusahaan multinasional pertama yang maju dan berkembang. VOC seperti yang kita ketahui akhirnya menguasai perdagangan global. Hampir setiap kota-kota perdagangan penting dunia dari Tanjung Harapan di Afrika hingga Batavia di Nusantara menjadi basis perdagangan mereka. Mundurnya perdagangan Nusantara dalam abad ke-17 dapat dijelaskan sebagai kemenangan militer dan ekonomi VOC. Monopoli VOC dalam hasil-hasil bumi Nusantara telah melemahkan pedagang-pedagang Melayu, Mon, dan Jawa dalam persaingan ekonomi. Pedagang-pedagang Nusantara yang terkenal ulet dan gigih itu harus menerima pil pahit karena tidak adanya penumpukan modal yang berarti dalam usaha-usaha mereka.

Selain itu tidak adanya perlindungan terhadap kelas pedagang dari pihak kerajaan dan mewahnya kehidupan istana menjadi faktor penyebab lainnya. Dua kekuasaan besar di Nusantara, Aceh pada masa Sultan Iskandar Muda dan Mataram pada masa Sultan Agung, menjadi titik balik mundurnya perdagangan Nusantara. Walaupun kita mengenal dua raja tersebut merupakan raja-raja paling sukses di kerajaannya, tetapi kehidupan mewah dan sikap otoriter mereka terhadap para pedagang telah melemahkan kerajaan terhadap orang-orang Eropa. Pedagang Minangkabau dibawah perlindungan Aceh dan pedagang pesisir utara Jawa yang bekerja untuk Mataram akhirnya harus takluk atas dominasi VOC Belanda.

Korupsi dan suap di tubuh kerajaan, ternyata juga menjadi penyebab melemahnya masyarakat Nusantara. Laporan orang-orang Belanda yang menyuap pejabat-pejabat Banten atas pendirian benteng Belanda di Batavia menjadi bukti bahwa kolusi telah melemahkan Nusantara. Berawal dari benteng ini Belanda menaklukkan kota-kota perdagangan Jawa di Banten, Cirebon, Demak, Tuban hingga jantung kekuasaan Jawa di Mataram. Tahun 1640, kedudukan VOC di Jawa tidak pernah mendapat ancaman yang berbahaya lagi dari Mataram. Penerus Sultan Agung yang lemah dan dengan mudah “menggadaikan” kerajaan untuk kekuasaan semakin mempercepat jatuhnya Mataram. 1750, Mataram yang sudah miskin dan lemah itu akhirnya kini berada dibawah kekuasaan Belanda.

Persaingan antar kerajaan-kerajaan Nusantara juga menjadi penyebab melemahnya mereka. Sejarah mencatat, persaingan paling keras terjadi di Maluku dan Sulawesi. Tidak adanya kekuatan yang mendominasi di wilayah tersebut, menyebabkan persaingan perdagangan berjalan seimbang. Persaingan yang cukup keras ini membangkitkan semangat Portugis dan Belanda untuk mengadu domba raja-raja Nusantara. Di Maluku, persaingan Ternate-Tidore dalam memperebutkan hegemoni Nusantara timur menyebabkan ikut sertanya Belanda dalam menyelesaikan konflik ini. Untuk melawan Ternate, raja-raja Tidore meminta bantuan militer VOC untuk berada di pihak mereka, yang mana kompensasi dari semua ini ialah monopoli hasil bumi Tidore di tangan pedagang VOC. Demikian pula di Sulawesi, persaingan internal orang-orang Bugis berhasil dimanfaatkan oleh VOC hingga terbitlah perjanjian Bongaya yang melemahkan kota perdagangan termaju di Nusantara timur, Makassar.

Kondisi dan faktor-faktor utama diatas, hingga kini masih berkembang dalam masyarakat Nusantara, walaupun negeri-negeri di Nusantara telah lepas dari kolonialisme Eropa sejak 60 tahun lalu. Saat ini, kita masih melihat otoritarian penguasa di tubuh pemerintahan Myanmar, pergolakan etnis yang cukup hangat terjadi di Malaysia, dan tradisi korupsi-kolusi yang masih jamak dipraktekkan di Vietnam dan Indonesia. Hingga kini-pun kita masih merasakan kentalnya budaya feodalistik ditengah-tengah mayarakat Thai dan Jawa. Kondisi ini tentunya haruslah dapat dipecahkan oleh pemimpin-pemimpin bangsa di Nusantara, agar masyarakat ini tidak terus menerus miskin serta dapat pula memiliki peran yang signifikan seperti halnya dua tetangga Nusantara, China dan India.

→ No CommentsKategori: Sejarah

Bangsa-bangsa Hindia Timur

Desember 10, 2007 · 1 Tanggapan

Menarik membaca hasil pengamatan serta pandangan para peneliti-peneliti asing mengenai kehidupan masyarakat dan budaya Nusantara. Pada perjumpaan kali ini, kita akan melihat penuturan Oliovier serta pandangannya mengenai kehidupan bangsa-bangsa Hindia Timur pada abad ke-19. Oliovier dalam pandangannya hanya melihat tiga etnis pribumi dan dua etnis asing yang menonjol dalam kehidupan kerajaan-kerajaan Hindia Timur. Pengkategorian tiga etnis pribumi, Jawa, Melayu, dan Bugis, merupakan suatu bentuk simplifikasi para sejarawan dan budayawan asing mengenai bangsa-bangsa Hindia Timur. Melayu misalnya, mungkin Oliovier menyamaratakan seluruh etnis yang hidup di pulau Sumatera dan Kalimantan sebagai etnis Melayu. Dalam hal ini etnis Aceh, Melayu Pesisir, Minangkabau, Ogan, dan Rejang dikelompokkan kedalam etnis Melayu, yang mana secara kultural mereka sangat berbeda. Begitu juga dengan etnis Jawa, yang diartikan sebagai bangsa yang hidup di pulau Jawa, dan Bugis merupakan orang-orang yang berada di Sulawesi.

Mungkin pandangan Oliovier dan peneliti-peneliti sealiran Oliovier inilah yang akhirnya diserap oleh pemerintahan Malaysia, untuk menggelembungkan jumlah etnis Melayu di Malaysia. Pemerintahan Malaysia pasca kolonialisme Inggris, menggolongkan perantau-perantau asal Aceh, Mandahiling, Minangkabau dari Sumatera sebagai etnis Melayu, bahkan untuk kepentingan politis tersebut, Malaysia menggolongkan pula perantau-perantau asal Jawa, Banjar dan Bugis sebagai orang Melayu Malaysia, sehingga kini secara keseluruhan etnis “Melayu” di Malaysia berjumlah 60% dari total populasi, melebihi China (25%) dan India (15%). Jikalau kita melihat secara cermat, mungkin etnis Melayu asli tidaklah akan lebih dari 20% di Malaysia.

Berikut penuturan Oliovier mengenai kehidupan bangsa-bangsa Hindia Timur yang di sariwartakan kembali oleh wartawan senior Rosihan Anwar.     

Penduduk kepulauan Hindia Timur terdiri dari sejumlah bangsa yang jelas jati dirinya. Yang menonjol di antara volkeren atau bangsa-bangsa itu adalah orang-orang Jawa, Melayu, Bugis, Arab, dan Cina. Yang kedua belakangan tentulah vreemdelingen atau orang-orang asing.

Lukisan ini dari tahun 1820-an. Penuturnya J. Oliovier yang pada tahun 1836 menulis buku Tafereelen en merkwaardigheden uit oost Indie. Olivier (1789-1858) punya aneka ragam profesi, pegawai dengan pangkat kommies di Algemene Secretarie di Batavia, sekretaris komisaris pemerintah yang mengepalai daerah, wartawan, guru kepala, direktur percetakan negara, pengarang.

Secara umum dilukiskan oleh Olivier bahwa bumi putera dari kepulauan Hindia Timur, baik yang Jawa, maupun yang Melayu serta Bugis, pada asal usulnya tergolong suku bangsa yang sama, walaupun dalam hal tabiat mereka sangat berbeda. Orang-orang Jawa yang sejak zaman baheula adalah petani memiliki watak yang lebih damai, adat istiadat lebih lembut dibandingkan dengan orang-orang Bugis serta Melayu yang lebih merupakan bangsa pelaut dan mencolok lantaran usaha-usaha yang nekat, perjalanan yang berani dan adat susila lebih kasar.

Jangan mengira orang-orang Jawa (-awal abad ke-19) bodoh dalam soal ilmu pengetahuan. Beberapa orang Jawa yang memperoleh pendidikan seksama di bawah pengawasan orang-orang Eropa yang ahli, membuktikan mereka juga mampu mencapai kemajuan di bidang bahasa, sastra, sejarah dan ilmu lain. Buktinya terlihat pada kedua putera regent Semarang yakni Adi Manggolo yang bisa bersaing dengan pemuda-pemuda Eropa yang paling beradab, dan Raden Saleh, sang pelukis yang ketika itu berdiam di Den Haag.

Kebanyakan orang Belanda waktu itu berpendapat, stereotipe orang Jawa adalah lamban dan masa bodoh, tapi Olivier mengatakan hal itu disebabkan oleh iklim dan oleh pemerintahan despotik dari raja-raja Jawa. Pada zaman VOC atau Kompeni (1602-1798) orang Jawa diserahkan nasibnya kepada raja-raja pribumi dan petinggi rakyat atau volkshoofden, sedangkan kekuasaan Belanda sudah puas dengan menerima produk-produk tertentu dari Inlandsche volkshoofden. Inilah alasan sederhana kenapa orang pribumi alias inlanders selama dua abad sedikit sekali membuat kemajuan di bidang peradaban, kerajinan dan ilmu pengetahuan.

Terdapat kaitan antara sifat lamban si pribumi dengan pemerintahan semau gue oleh para sultan. Hal ini terjadi bukan saja di Jawa, melainkan juga di Sumatra. 

Kaum perempuan di Jawa

Orang-orang Jawa, tulis Olivier, adalah bisa diulur-ulur atau rekkelijk, penurut dan bertabiat lunak, puas dengan hal yang sedikit, sederhana serta setia. Kepala-kepala suku memberikan perintah mereka dengan suatu kasih sayang. Penghinaan yang menusuk kehormatan atau bahkan kata-kata caci maki terhadap yang lalai atau pembangkang, sama sekali tidak dikenal di kalangan mereka. Keramah-tamahan merupakan sifat yang utama pada mereka. Seorang musafir tanpa takut dan tanpa bahaya bisa menginap di kediaman miskin penduduk gunung. Ia dijamin tidak akan disakiti. Kalau perlu dia akan diberi pertolongan dan perlindungan.

Keadaan kaum perempuan pada masa itu juga dilukiskan oleh Olivier. Kaum perempuan di Jawa pada umumnya sangat rajin dan pandai menenun dan membuat barang pakaian. Di semua lapisan dan kelas penduduk, dari sultan hingga petani sederhana adalah sebuah kebiasaan lama bahwa perempuan, ibu rumah tangga dengan tangannya sendiri membuat pakaian bagi suaminya. Perempuan juga membantu bekerja di sawah. Biasanya menyiapkan lahan, menanam, mengairi dan memanen dikerjakan oleh laki-laki, seraya perempuan menyelesaikan segala sesuatu selanjutnya dan diserahi menjual hasil bumi di pasar.

Nasib kaum perempuan di Pulau Jawa, di kepulauan Sunda dan di Maluku adalah lebih menyenangkan ketimbang di kebanyakan negeri-negeri Timur lainnya. Kendati si laki-laki, banyak sedikitnya, dengan perempuan yang dikawininya membelinya dari orang tuanya, dengan membayar suatu harga tertentu, dia selalu memperlakukan perempuan dengan hormat dan kasih cinta. Kaum perempuan Jawa tidak hidup secara terpisah, tapi berbagi sama dalam perbuatan dan kesenangan para suami. Lebih dari satu kali terjadi bahwa di Jawa dan di Sulawesi kaum perempuan dari raja-raja yang mangkat menaiki takhta.

Para istri ningrat Jawa, dari pangeran-pangeran atau raja-raja tidak biasa meninggalkan istana mereka, tetapi mereka menerima kunjungan orang-orang Eropa yang terkemuka atau petinggi-pe-tinggi rakyat. Atau mereka diangkut dengan tandu bergabung dalam kumpulan-kumpulan terhormat dan di sana berperlakukan sangat sopan. Dalam semua tindakan dan perkataan kaum perempuan itu memperlihatkan pengendalian diri dan martabat.

Olivier juga bertutur tentang keadaan yang dilihatnya dalam kunjungan ke Sumatra seperti Bengkulu, Palembang dan lain-lain. Orang-orang Palembang, tiada kekurangan akal, ketajaman, kepintaran, kegairahan dan kesabaran. Mereka kaum perajin yang sangat piawai dan karya mereka mengerjakan kayu dipuji oleh ahli-ahli Eropa. Dalam mengolah dan mengerjakan gading mereka sangat indah dan halus. Begitu pula dalam mengerjakan barang-barang dari tembaga, pe-rak dan emas. Kaum perempuan mahir membuat kain songket. Tapi pendidikan masih rendah tarafnya. Sedikit sekali wong Palembang yang mampu membaca Quran. 

Penduduk Sumatera dan “Chinezen”

Menarik membaca keterangan Olivier ada pun penduduk Sumatra pada umumnya terdiri atas empat suku besar atau groote stammen yakni orang Batak, Melayu, Redjang dan Lampong. Suku Redjang terutama bermukim sepanjang pantai barat di sebelah barat pegunungan. Orang Redjang tidak besar perawakannya, warna kulitnya cerah. Busananya tidak banyak berbeda dengan pakaian orang Jawa. Ada kebiasaan mengasah gigi yang putih menjadi hitam. Pada umumnya mereka santun, ramah, pintar dan sangat rendah hati terhadap kaum perempuan dan gadis. Di pihak lain mereka dicap sebagai lamban, berganti-ganti suasana perasaannya, suka berjudi dan sangat pendendam jika merasa dihina. Umumnya mereka senang musik, nyanyian dan tarian.

Soal pantun di kalangan suku Redjang tidak luput dari perhatian Olivier. Dia mencatat beberapa contoh pantun. Di antaranya pantun menyatakan cinta dan kesetiaan berbunyi (dalam ejaan bahasa Melayu-pasar awal abad ke-19): Memoeti ombak di ratau Kalaun/ Patang dan pagi tida berkala/Memoeti boenga di dalam Kobong/Sa tangkei sadja jang menggila. Sedangkan pantun yang menyatakan kesedihan berbunyi: Parang bumbam di seberang/pohon di hela tiada karoean/Boelan pernama niatalah benderang/Sayangnia lagi die sapoer awan.

Sudah barang tentu Olivier menulis tentang de Chinezen yang pada zamannya belum mengenal digunakannya penamaan Tionghoa, tetapi menyebut Cina saja. Orang-orang Cina di tengah semua bangsa Asia asing di Pulau Jawa dalam segala hal adalah menarik karena sifat rajin mereka yang luar biasa, pengaruh mereka terhadap petinggi-petinggi dan penduduk bumi putera, pengetahuan tentang urusan dagang, kecerdikan mereka, kekayaan mereka, kesusilaan dan paham keagamaan mereka yang berbeda.

Saban tahun jung-jung (kapal layar) Cina mengangkut ribuan orang Cina dari negeri leluhur, kebanyakan miskin untuk mencari harta di Jawa. Tiada kota, tiada desa di Pulau Jawa, juga di daerah-daerah kepunyaan Belanda lain, yang tidak punya penduduk Cina. Biasa saja apabila seorang Cina tiba di Batavia dengan badan ditutup oleh kulit pohon yang dijalin atau oleh daun kelapa, namun dalam beberapa bulan saja tampak berjalan dalam pakaian bagus, malahan gagah sebagai tuan terkemuka alias voornaam heer. Orang-orang Cina sudah ada di Pulau Jawa sebelum tahun 1600 (ketika Belanda dan VOC mulai menetap).

Banyak yang diceritakan oleh Olivier mengenai orang-orang Cina. Satu di antaranya adalah khas. Pada suatu hari seorang pedagang keliling Cina datang di kantor Algemene Secretarie, menjajakan minyak wangi (rozen olie) dalam botol-botol kecil, dengan harga satu ropij per botol.

Hampir semua pegawai muda membeli, lantaran biasanya di Indie harganya 2 Spaanse daalders. Cina itu bercerita kenapa dia bisa menjual dengan harga murah. Dalam sekejap habislah jualannya. Ketika mereka membuka botol, maka yang ditemukan ialah minyak kelapa, seraya penutup botol dioles dengan rozen olie, sehingga menyebarkan bau harum, dan menipu pegawai-pegawai Belanda itu. Orang Cina tadi dengan ropijen-nya telah lenyap diam-diam, demikian cerita Olivier.

→ 1 CommentKategori: Sosial Budaya

Road to Success

Nopember 7, 2007 · Tidak ada Komentar

Merubah lanskap pemikiran memang tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Dewasa ini kita sering mendengar banyak rakyat bawah yang mengeluh dengan kondisi mereka serta tak pulihnya kondisi negara kita semenjak krisis sepuluh tahun lalu. Sebagian aktivis bahkan sering melontarkan pernyataan, bahwa sistem liberalisme yang di anut pemerintah kita, telah mengakibatkan menganganya jurang pemisah antara si kaya dengan si miskin. Kalangan jetset dan berduit yang barang tentu sudah hidup mapan, semakin hari semakin kaya saja, sedangkan kaum papa yang kurang beruntung semakin susah hidupnya karena semakin melambungnya harga barang-barang di pasaran. Singkatnya, kondisi ini mengakibatkan si kaya makin kaya dan yang miskin semakin miskin.

Seorang motivator pernah berkata kepada saya, bahwa kondisi tersebut sebenarnya merupakan hukum Tuhan. Sesaat saya sempat berpikir, kenapa motivator tersebut bisa men-judge itu sebagai hukum Tuhan, sebegitu kejamkah Tuhan sehingga tak berpihak terhadap kaum papa. Apa yang di maksud dengan hukum Tuhan? Ia berujar, kaum kaya yang sudah mapan dari hari kehari semakin menajamkan kemampuannya, semakin meningkatkan pengetahuannya, dan semakin memperluas jaringannya, sedangkan si miskin dari hari ke hari tanpa disadari malah sering melakukan tindakan-tindakan yang memiskinkan dirinya. Penjelasan lanjutan dari sang motivator tersebut membuat saya diam dan berpikir. Motivator tersebut menambahkan, coba saudara simak dalam kehidupan sehari-hari saudara, tindakan si kaya tersebut akan menghasilkan sesuatu yang lebih, sehingga dari hari ke hari ia akan semakin besar, semakin kaya, dan semakin sukses.

Coba tengok sepintas kehidupan anak-anak jalanan, kita bisa melihat bahwa anak-anak umur sepuluh tahun dengan asyiknya mengisap rokok, ganja, atau sabu-sabu. Uang yang mereka kais dari hasil mengamen atau meminta-minta bukannya mereka gunakan untuk bersekolah, tapi malah digunakan untuk hal-hal yang merugikan mereka. Nah inilah sebenarnya tindakan-tindakan yang semakin memiskinkan dirinya. Kadangkala seperti halnya mereka, kita juga sering melakukan tindakan-tindakan yang memiskinkan diri kita sendiri.

Coba kita bandingkan dengan kehidupan kaum jetset. Uang yang mereka dapat dari hasil kerja keras, tidak semena-mena mereka gunakan untuk berfoya-foya. Sebaliknya, mereka menggunakan uang-uang itu untuk menunjang kesuksesan mereka. Lihatlah berapa banyak anak-anak muda sukses yang rela merogoh kocek mereka dalam-dalam untuk melanjutkan studinya kejenjang yang lebih tinggi. Atau kita bisa simak di media massa, berapa banyak orang-orang sukses yang mau mengeluarkan duitnya untuk menghadiri seminar-seminar super trainer. Atau lihatlah kafe-kafe di mal-mal ibukota yang selalu padat dikunjungi oleh eksekutif-eksekutif muda, sekadar hanya untuk membangun jaringan dan relasi. Semua kegiatan ini pastilah bertujuan untuk menunjang kesuksesan mereka.

Sahabat-sahabat tercinta, kadangkala dalam kehidupan keseharian ini, kita masih sering terjebak pada tindakan-tindakan yang semu, tindakan-tindakan yang tidak menghasilkan apa-apa, tindakan-tindakan yang tidak membuat kita semakin besar dan semakin sukses. Mungkin kita perlu bercermin, di usia kita ini sudah apa sajakah yang kita lakukan. Apakah kita masih terjebak pada kondisi kekinian dan kedisinian?

Seorang motivator yang lain pernah berujar, janganlah sekali-kali kita melakukan tindakan atau pekerjaan yang tidak ada relevansinya dengan kesuksesan kita. Karena waktu itu terbatas, maka gunakanlah waktu tersebut dengan efisien dan kerjakanlah hal-hal yang sekiranya akan menunjang keberhasilan kita. Jikalau kita sudah memahami makna ini, maka kita akan merasakan bahwa waktu yang tersedia tidak cukup untuk mengerjakan tugas-tugas yang ada.

Kalau kita coba runut kegiatan kita sejak tadi pagi, sudahkah kegiatan-kegiatan yang kita lakukan menunjang untuk kesuksesan kita. Berapa banyak teman-teman kita yang sering terjebak untuk melakukan aktivitas-aktivitas yang tak berguna, seperti nongkrong hingga larut malam, berbicara ngalor-ngidul tak ada tujuan. Atau teman-teman yang suka terjaga di tengah malam hanya untuk menikmati sepaka bola. Atau sahabat-sahabat wanita yang hanya terpaku di depan televisi berjam-jam, hanya sekadar untuk menonton gosip, telenovela atau sinetron yang tak berujung, sudahkah itu semua menunjang kesuksesan kita?

Saya teringat dengan perkataan Bapak Abdulgani mantan Direktur Utama Garuda Indonesia Airways, yang sukses membawa Garuda sebagai maskapai paling tepat waktu, dalam kuliah umum yang diadakan di FEUI beberapa tahun lalu. Beliau berkata, untuk menang dalam persaingan global, anak-anak muda Indonesia harus menjadi orang-orang yang berada di atas rata-rata. Anak-anak muda Indonesia harus kompeten dan benar-benar menguasai bidangnya. Karena apabila kita tidak menguasai seratus persen bidang yang sedang kita geluti, maka kita tidak akan pernah menjadi pemenang dalam era globalisasi ini. Bill Gates bisa menjadi orang terkaya di dunia, karena ia benar-benar mahir dan mengerti seluk beluk software komputer, secara itu dia mentransfer kemahirannya menjadi tumpukan dollar melalui bendera Microsoft. Atau pengusaha flamboyan Ciputra, yang benar-benar mahir dan menguasai seluk beluk properti dan tata kelola kota mandiri, sehingga dalam waktu singkat ia mampu menyulap wilayah Ancol dan Pondok Indah, yang tadinya dipenuhi semak belukar menjadi daerah yang prestise dan bernilai tinggi. Itu semua dikarenakan mereka memiliki prinsip diatas rata-rata dan mau dengan sungguh-sungguh menguasai bidang yang mereka geluti. Bagaimanakah dengan kita, sudahkah menjadi orang di atas rata-rata.

→ No CommentsKategori: Motivasi

Menuju Kebebasan Finansial

September 20, 2007 · Tidak ada Komentar

Tiga belas tahun lalu, saat saya masih duduk di bangku SMP, guru bimbingan karir saya keliling bertanya kepada para siswa, apa cita-cita mereka kelak. Satu per satu anak-anak menjawab pertanyaan beliau, disertai dengan berbagai alasan yang cukup menggelitik. Mayoritas dari jawaban tersebut, mereka menginginkan untuk menjadi seorang dokter, suatu profesi yang sangat diminati oleh masyarakat kita, karena dipandang terhormat dan dapat menghasilkan banyak uang. Dari selintas gambaran di atas, nampak bahwa mayoritas masyarakat kita menginginkan untuk menjadi orang sukses, banyak duit dan dapat hidup senang. Dan sayangnya, dari mayoritas masyarakat tersebut tidak mengetahui bagaimana cara terbaik untuk mendapatkan uang.

Pada perjumpaan kali ini, kita akan melihat gagasan yang disampaikan oleh Robert T. Kiyosaki, seorang Jepang-Amerika, mengenai konsep cash flow quadrant. Sebuah konsep yang sungguh revolusioner dan sangat bermutu. Apabila di bangku SMP/SMA teman-teman pernah menyimak pokok bahasan trigonometri dalam pelajaran matematika, tentunya kata kuadran tidaklah asing lagi. Kata cash flow berasal dari bahasa Inggris yang berarti arus kas. Jadi inti dari konsep ini ialah menawarkan kepada kita bagaimana cara memperoleh uang (arus kas) melalui empat cara (empat kuadran).

Empat kuadran tersebut ialah Employee (E), Self-businessman (S), Businessman (B), dan Investor (I).
Kuadran pertama ialah employee (pegawai). Anda pasti selalu bercita-cita, kelak jika tamat SMA nanti, akan masuk ke perguruan tinggi favorit, setelah selesai kuliah dengan IPK memuaskan, ingin bekerja sebagai pegawai di tempat yang baik dengan mendapatkan gaji yang baik pula. Atau akhir-akhir ini kita menyaksikan bahwa proses penyeleksian pegawai negeri sipil berakhir ricuh. Coba anda bayangkan, dalam proses penyeleksian tersebut terindikasi bahwa banyak orang rela menyogok ratusan juta rupiah hanya untuk menjadi pegawai negeri, bukan masalah penyogokannya yang kita permasalahkan kali ini, tapi cita-citanya itu loh … hanya ingin menjadi seorang pegawai, yang menurut Kiyosaki, itu berada pada kuadran pertama, kuadran dasar dari empat kuadran yang beliau gagas. Kenapa sih mayoritas orang ingin menjadi pegawai? Pertama, mereka menginginkan penghasilan tetap, dalam artian disini jika kita menjadi seorang pegawai, kita akan mendapatkan pemasukan tetap, atau arus kas yang konstan setiap bulannya. Kedua, tidak ingin mengambil risiko. Mereka tidak menginginkan uang yang mereka miliki untuk diinvestasikan, dimana kegiatan investasi tersebut memiliki probabilita kerugian yang cukup besar. Dalam bahasa Kiyosaki, kuadran pertama ialah kita bekerja untuk orang lain. Banyak orang yang terstigmatisasi bahwa menjadi seorang pegawai kantoran merupakan posisi yang menyenangkan dan aman. Kiyosaki dalam pandangannya menepis anggapan tersebut. Menurut Kiyosaki, bagaimana bisa dikatakan aman jika sewaktu-waktu perusahaan bisa mem-PHK-kan kita, bagaimana bisa dikatakan aman jika gaji kita pada bulan tersebut tidak dibayar oleh perusahaan. Jadi pada kuadran pertama ini, tentulah kita belum berada pada jalur kebebasan finansial yang diharapkan, karena pendapatan kita sangat bergantung pada orang lain.

Kuadran kedua ialah self-bussinesman (membuka bisnis sendiri). Apa yang dimaksud dengan self-businessman? Self-bussinesman ialah membuka usaha sendiri, dari modal sendiri, dan penghasilannya untuk kita sendiri, jadi kuadran kedua ini ialah kita bekerja untuk kita sendiri. Setidaknya, berada di kuadran ini lebih baik daripada berada di kuadran sebelumnya secara finansial. Menjadi seorang dokter dengan membuka praktek di rumah salah satu contoh self-bussinesman. Orang-orang yang berada di kuadran ini, tidak dapat menjalankan usahanya apabila dia berhalangan, misalnya ketika sakit ataupun berpergian. Tentulah pada titik ini kita belum berada pada jalur kebebasan finansial yang sesungguhnya. Walaupun penghasilan yang kita terima tidak lagi bergantung pada orang lain, tetapi masihlah bergantung dari kesehatan dan waktu yang kita miliki. Tentunya teman-teman pernah melihat orang-orang yang sibuk mengurusi bisnisnya sehingga tidak lagi memiliki waktu untuk bersosialisasi dengan keluarga dan masyarakatnya. Nah, orang-orang itu tergolong berada di kuadran kedua.

Kuadaran ketiga ialah bussinesman (seorang pengusaha). Berada di kuadran ketiga cukuplah sulit. Berbeda dengan kuadran pertama dan kedua, orang yang berada di kuadran ketiga haruslah dapat menciptakan sebuah sistem. Sistem kerja yang dapat menjalankan bisnisnya secara baik dan teratur. Dengan terciptanya sistem yang baik, tidak menghalangi keberlangsungan bisnis, walaupun orang tersebut sakit ataupun harus berpergian. Pada kuadran ini kita akan melihat pentingnya sebuah tim yang solid dalam membangun suatu usaha. Berada di kuadran ini  berarti sistem bekerja untuk kita. Selain membangun sistem kerja yang baik, manusia-manusia yang berada di kuadran ini, juga harus berani mengambil risiko untuk berinvestasi, mampu berkomunikasi dengan pelanggan, berhubungan baik dengan pemasok dan menciptakan kesejahteraan bagi karyawannya.

Kuadran puncak atau kuadran keempat ialah investor (penanam modal). Berbeda dengan kuadran ketiga, orang-orang di kuadran ini tidak harus memikirkan bagaimana caranya mendapatkan pelanggan, bagaimana mencari pemasok yang murah dan bagaimana mengalokasikan dana untuk kesejahteraan karyawan. Skil yang dibutuhkan untuk menjadi seorang investor ialah mampu menganalisa laporan keuangan, memiliki intuisi yang tajam akan kecenderungan harga instrumen investasi dan memiliki nyali besar untuk berani mengambil risiko kerugian. Dalam salah satu aksioma keuangan, ada suatu istilah yang cukup populer, high risk, high return and low risk, low return. Paham inilah yang banyak mempengaruhi pilihan orang-orang yang berada di kuadran keempat untuk berinvestasi. Berada di kuadran keempat, kita murni hanya menanamkan modal saja, baik itu berupa saham, obligasi, reksadana ataupun investasi fixed asset (rumah, ruko ataupun gedung). Dalam jangka waktu tertentu kita akan mendapatkan return (hasil) dari uang yang kita tanamkan tersebut, sesuai dengan rate yang telah ditentukan. Kiyosaki melukiskan, berada di kuadran ini berarti uang bekerja untuk kita. Simpelnya kita hanya ongkang-ongkang kaki di rumah memperhatikan pergerakan harga saham dan uang untuk siap-siap mengambil aksi jual atau beli. Warren Buffet dan George Soros, dua nama dari sedikit investor yang sukses di jagat ini.

Dari empat kuadran tersebut, yang menjadi fokus terpenting kita ialah pada pengelolaan arus kas. Orang-orang yang berada di kuadran pertama dan kedua (kuadran kiri), cenderung menggunakan pendapatannya untuk kegiatan konsumtif. Misalnya mereka membeli mobil, rumah dan kebutuhannya secara kredit, dengan pola pembayaran menggunakan gaji yang diperolehnya setiap bulan, yang mana pembelian tersebut hanya untuk memenuhi kebutuhan jangka pendek mereka. Orang-orang seperti ini menurut Kiyosaki, terjebak ke dalam perangkap tikus. Maksudnya apa, gaji bulanan yang diterima oleh seorang pegawai, digunakan untuk mencicil segala kebutuhan yang akan habis dipakai. Pola mencicil dan mencicil ini yang telah menjerat jutaan umat manusia, sehingga tidak pernah menjadi seseorang yang bebas secara finansial. Lain halnya dengan orang yang berada di kuadran ketiga dan keempat (kuadran kanan), orang-orang dikuadran ini, penggunaan uangnya didominasi oleh kegiatan investasi. Orang-orang dikuadran kanan, hanya akan melakukan pembelian jika hal tersebut bisa memberikan nilai tambah di masa mendatang.

Jika orang-orang dikuadran kiri hanya menggunakan kendaraannya untuk plesir, berlibur dan pergi ke kantor, maka orang-orang dikuadran kanan menggunakan kendaraannya untuk mempromosikan produk-produknya. Jika kuadran kiri menggunakan rumahnya untuk tempat tinggal tok, maka kuadran kanan akan menggunakan sedikit bagian rumahnya sebagai kantor dan tempat menyimpan persediaan. Jika kuadran kiri menggunakan ponselnya untuk berhaha…hihi, maka kuadran kanan menggunakan ponselnya untuk mencari relasi bisnis. Pertanyaannya sekarang, di masa mendatang, kuadran mana yang akan anda pilih untuk menghasilkan uang? Apakah kuadran kiri yang memiliki ketergantungan cukup besar, ataukah kuadran kanan yang berisiko, menantang dan bebas secara finansial.

→ No CommentsKategori: Ekonomi Bisnis

Bom Bursa Efek

September 18, 2007 · Tidak ada Komentar

Memutar kembali memori kita ke tahun 2000 lalu …

Tersirat akan sebuah kenangan yang menyedihkan, para lanun, perompak dan teroris berulah. Bursa Efek Jakarta diguncang bom. Mereka tak mengenal agama dan etnis, menghantam siapa saja yang menurutnya layak dihantam. Kini setelah tujuh tahun tragedi itu berlalu, para teroris itu tetap bergentayangan. Serangan itu semakin meluas, tak sebatas Bursa dan bahkan orang-orang tak berdosa pun terkena serangannya. Memori kita mungkin lupa, terorisme berakar dari kemiskinan dan rasa frustrasi diri menghadapi dunia nan semakin tak berpihak. Tak hanya di dunia muslim, Eropa abad ke-12 pun mencatatnya. Tatkala panggilan suci Paus Urbanus, menggerakkan ratusan ribu rakyat Eropa tuk merebut Yerusalem. Mereka berhimpun dari penjuru Eropa, “orang-orang beriman” dari Inggris, Prancis, Andalus, Prusia ikut terlibat didalamnya. Tapi kekerasan dan teror tetaplah salah, maka Tuhan pun tak berpihak kepada mereka. Dan sejarah mencatat, hingga kini Yerusalem tak pernah tertaklukkan. Kini penyakit itu melanda sebagian kecil umat Muslim, korbannya bukanlah musuh yang mereka harapkan tapi kebanyakan dari kalangan mereka sendiri. Sungguh bukan pekerjaan orang beriman.

Berikut Catatan Pinggir Goenawan Mohammad.

Sang Pasar tak pernah pingsan sendirian. Sebuah bom meledak di Bursa Efek Jakarta pada pertengahan September 2000. Kaca-kaca pecah, tembok berlubang, lebih dari 10 orang tewas. Tak ada erang yang panjang untuk yang mati dan luka. Yang lebih keras adalah teriak, “Aduh, Sang Pasar terkena. Pengusaha, para menteri, para pejabat tinggi, para aktivis politik, dan para teknokrat di IMF dan Bank Dunia secara serentak kecut hati. Setidaknya selama beberapa belas jam. Esok pagi mereka akan mencari koran dan menatap layar televisi, menyimak suratan grafik dari menit ke menit: angka yang merosot di semua portfolio, harga saham yang berjatuhan, nilai rupiah yang limbung. Kita dinujum dengan nada yang gelap. Sang Pasar dalam keadaan gawat.

Kita cemas, sebab sejak tiga dasawarsa ini Sang Pasar dinobatkan jadi sebuah kekuatan ampuh yang tak kasat mata. Jika ada tangan magis yang bisa mengarahkan ke mana hidup bersama akan terbawa, itulah dia. Jika ada daya yang mampu memberi isyarat di mana kekayaan dan kekuasaan akan berubah dan bergerak, itulah dia. Dialah yang merangsang perekonomian tumbuh. Dia juga yang agaknya membuat sejarah. Negara, pemerintahan, birokrasi—semua itu, seluruh jaring-jaring itu, tak akan dapat mengalahkannya. Di Indonesia bahkan orang mengukur baik-buruknya sebuah kabinet dari sejauh mana ia “disukai Pasar”. Tapi bom meledak di Bursa Efek dan kita bisa mempunyai sebuah cerita yang lain. Eksplosi yang mematikan itu menunjukkan bahwa Sang Pasar—dengan segala kesaktiannya—juga perlu proteksi. Perlindungan itu baru berarti jika ia datang dari sesuatu yang terkait erat dengan birokrasi: agar bom tak jahanam lagi, agar si teroris dapat ditangkap, agar dokumen tak musnah dan komputer aman, Sang Pasar membutuhkan sesuatu yang punya organisasi efektif, luas jangkauannya, teratur cara bekerjanya—dan berada dalam posisi yang tak tersentuh oleh Sang Pasar itu sendiri. Daftarnya bisa panjang: sepasukan penjinak bom, intelijen, batalyon yang bersenjata, penjaga dan administrator rumah tahanan, sederet jaksa, sejumlah hakim, dan mungkin pula sebuah regu tembak. Mereka itu harus diletakkan di satu tempat di mana mereka bukan sejumlah komoditi. Sebab, Sang Pasar membutuhkan ruang yang aman. Pada akhirnya ia memerlukan apa yang bisa disebut sebagai birokratisasi kekerasan. Ia tak akan bisa bertahan di kancah kekerasan yang merusak secara tak terduga-duga, seperti bom di Bursa Efek itu. Para perompak lanun di Laut Cina Selatan yang membajak barang perniagaan di kapal-kapal, para penggarong bank di kota-kota—semua itu adalah bentuk kekerasan yang justru semakin menakutkan, dan semakin destruktif, karena salah satu sendinya adalah ketak-pastian. Tentu, Sang Pasar pintar menari dalam ketak-pastian: Bursa Efek jadi hidup karena ada nilai saham yang turun dan ada yang naik. Transaksi berlangsung justru karena itu. Tanpa fluktuasi, spekulasi tak akan bergerak dan orang tak bisa menambah untung. Dengan kata lain, setiap hari adalah hari yang bisa mengandung kejutan. Saya ingat lelucon Mark Twain tentang bursa. Oktober, katanya, adalah bulan yang penuh risiko buat bermain di pasar modal. Begitu juga bulan Mei, Juli, September, Maret, April, November, Agustus, Februari, Juni, Desember, Januari… Tapi dalam ketak-pastian yang terus-menerus itu manusia mau tak mau ingin memperkecil risiko. Kekerasan yang tak terduga-duga harus dibuat untuk bisa masuk hitungan. Dan birokratisasi pun berkembang.

Italia Utara, tahun 1176. Di Legnano, satu pasukan para kesatria Jerman yang hidup sebagai garong datang menyerbu untuk menjarah kota itu. Tapi, berbeda dengan di tempat lain, di Legnano ternyata para penyerbu dapat dikalahkan oleh warga yang mempersenjatai diri dan bersiap-siaga. Sebuah tindak sukarela. Kemudian zaman berubah. Kekuatan pertahanan macam itu tak memadai lagi. Pasukan warga seperti di Legnano hanya bisa efektif bila ada disiplin dan ada pertalian yang tumbuh dari rasa ikut memiliki. Namun, ketika perdagangan ramai, ikatan primer di dalam tubuh masyarakat pun retak: ada yang miskin dan ada yang kaya, ada majikan dan ada penjual tenaga. Kota-kota makin rentan oleh konflik di dalam kancahnya sendiri. Maka orang pun terpaksa menyewa tenaga orang lain buat pertahanan dan kontrak pun dibuat dan lahirlah. Tenaga kontrakan ini akhirnya bukan saja menghendaki ketrampilan individual, tapi juga manajemen. Birokratisasi kekerasan lahir, juga pemegang monopoli kekerasan: hadirlah angkatan perang profesional. Tapi bersamaan dengan itu sebuah masyarakat memerlukan seperangkat perlengkapan yang membuat sebuah negara disusun: ada kantor pajak, peradilan, pembuat aturan dan undang-undang, dan ada kekuatan penjaga keseimbangan. Sang pemegang monopoli kekerasan harus bisa tetap tunduk kepada warga yang membayar pajak dan membiayai ongkos birokratisasi itu. Bedil harus punya tuannya. Dengan demikian, Sang Pasar diharapkan bebas dan tak menyentuh prasarana itu. Komersialisasi harus berhenti di wilayah ini. Tentara tak boleh digerakkan oleh penawar upah yang paling mahal. Nasib buruk akan menimpa sebuah kota bila Sang Pasar juga merasuk kemari, dan negara tak lagi berlaku sebagai negara, melainkan sebagai sebuah ruang bursa yang gelap: para jenderal menawarkan servis militer ke para peminat yang ingin menggunakan kekerasan—mungkin seorang yang ingin menagih utang, mungkin seorang pemilik kasino gelap dan bordil, mungkin seorang pemasok narkoba, mungkin pula seorang tokoh yang sakit hati. Akhirnya siapa yang tak mampu tak akan terlindungi. Persis seperti sopir-sopir yang tewas oleh ledakan bom di Bursa Efek Jakarta di hari itu: sang korban bahkan tak dibicarakan lagi beberapa jam setelah televisi dimatikan.
Majalah Tempo, Edisi. 02/I/18 - 24 September 2000

→ No CommentsKategori: Ekonomi Bisnis

Perusahaan Top Dunia

September 17, 2007 · Tidak ada Komentar

Majalah ekonomi ternama asal AS, Fortune, kembali merilis daftar peringkat perusahaan dengan nilai penjualan terbaik. Dalam 50 teratas perusahaan dunia, Amerika Serikat masih mendominasi dengan menempatkan 18 perusahaannya, disusul kemudian oleh Jepang (6 perusahaan), Jerman dan Prancis (masing-masing 5 perusahaan), dan Inggris Raya (4 perusahaan). Di luar Jepang, perusahaan-perusahaan Asia mampu menempatkan 4 perusahaan tambahan, yakni Sinopec (peringkat 23), State Grid (32), China National Petroleum (39), dan Samsung Electronics (46), tiga teratas merupakan perusahaan-perusahaan asal Cina, dan sisanya dari Korea Selatan.

Menarik untuk disimak bahwa industri minyak serta otomotif sedang menemukan momentumnya di tahun ini, tercermin dari keberhasilan Exxon Mobil menggeser Wal-Mart Stores sebagai perusahaan terakbar dunia. Pada tahun ini Exxon Mobil mampu membukukan penjualan sebesar US$ 339 milyar sedangkan Wal-Mart hanya membukukan US$ 315 milyar.  Industri otomotif tak kalah mentereng, keberhasilan 4 perusahaan otomotif masuk kedalam jajaran top 10 dunia, merupakan indikasi bahwa industri ini sangat menjanjikan, walaupun General Motors -raksasa otomotif asal Detroit- harus mengalami pendarahan yang cukup parah. Adanya rencana aliansi lintas benua antara GM-Renault-Nissan, melanjutkan tradisi mega merger yang terjadi pada perusahaan-perusahaan otomotif dunia.

Selain itu yang patut kita cermati ialah semakin kerasnya persaingan dalam industri elektronik, dimana jago negeri gingseng Samsung Electronics mampu menumbangkan samurai Jepang, Sony Corporation. Sony, yang dalam kurun dua dasawarsa terakhir mampu unjuk gigi sebagai perusahaan elektronik terbesar Asia harus takluk dari pendatang baru Samsung. Disamping diversifikasi usahanya yang makin melebar, kemenangan Samsung merupakan kemenangan para inovator Korea yang mampu menciptakan alat-alat elektronik bermutu tinggi. Tetapi pekerjaan besar Samsung belum berhenti sampai disini, Samsung masih harus menghadapi lawan yang jauh lebih tangguh, General Electric. Keberhasilan penetrasi Samsung ke pasar Amerika dan Eropa merupakan kunci untuk menjadi perusahaan elektronik terakbar dunia. Berdasarkan data tersebut, perusahaan Belanda ING Group menjadi pemuncak pada industri keuangan, disusul oleh Citigroup, Allianz dan Credit Agricole. Menarik disimak, keberhasilan ING menyodok keperingkat ke-13 sekaligus melampaui raksasa keuangan Citigroup dari Manhattan, New York.

Pertarungan klasik di industri toko ritel, masih menghadirkan Wal-Mart vs Carrefour, walaupun dari sisi pendapatan kedua perusahaan tersebut cukuplah jauh. Hingga saat ini, Wal-Mart yang memiliki tag-line “everyday is low price”, mampu memikat konsumen ritel dunia yang mengantarnya menjadi pemuncak di tahun lalu dan turun satu peringkat ditahun ini.

Sayangnya, data yang dirilis Fortune 500 ini tak satupun menghadirkan perusahaan-perusahaan asal Indonesia. Telkom sebagai perusahaan terbesar nasional hanya duduk di posisi 800-an, kalah dibandingkan Petronas (Malaysia), PTT (Thailand), dan Flextronics International (Singapura).

Berikut 10 Besar Perusahaan Dunia :

1.  Exxon Mobil, AS  Penjualan : US$ 339.938 milyar

2. Wal-Mart Stores, AS  US$ 315.654 milyar

3. Royal Dutch Shell, Belanda  US$ 306.731 milyar

4. British Petroleum, Inggris  US$ 267.600 milyar

5. General Motors, AS  US$ 192.604 milyar

6. Chevron, AS  US$ 189.481 milyar

7. Daimler Chrysler, Jerman  US$ 186.106 milyar

8. Toyota Motor, Jepang  US$ 185.805 milyar

9. Ford Motor, AS  US$ 177.210 milyar

10. Conoco Phillips, AS  US$ 166.683 milyar

→ No CommentsKategori: Ekonomi Bisnis

Para Sufi Perusahaan

September 17, 2007 · Tidak ada Komentar

Seperti halnya dunia musik dan dunia olah raga yang setiap tahunnya memberikan award bagi setiap insan-insan terbaiknya, begitu juga halnya dengan dunia bisnis, yang setiap tahunnya memberikan penghargaan untuk para pengusaha terbaik. Pada tahun 2004 lalu, majalah bisnis Swa menobatkan Jacob Oetama, CEO Grup Kompas-Gramedia sebagai most valuable businessman. Untuk level internasional, nama Fujio Chou, CEO Toyota Motors Corp, patut dikedepankan sebagai pebisnis tersukses saat ini. Mengapa penghargaan untuk pengusaha tersukses jatuh kepada mereka? Ternyata Jacob Oetama yang Katholik dan Fujio penganut Shinto itu, memahami ilmu yang kita kenal dengan ilmu tasawuf.

Dalam buku “The Corporate Mystics”, dikatakan bahwa dewasa ini perusahaan-perusahaan besar dunia dipimpin oleh orang-orang yang mengerti ilmu tasawuf. Ironi bagi umat Islam yang sangat memahami ilmu tasawuf, tak satupun dari 100 besar pebisnis tersukses dunia yang beragama Islam. Sering kita dengar pernyataan bahwa etos dalam bisnis merupakan ciri asasi, atau sifat dasar dari jiwa kewirausahaan. Pengertian etos ini mengarah kepada adanya keyakinan yang kuat akan harga atau nilai sesuatu yang menjadi bidang kegiatan usaha atau bisnis. Pertama-tama harus ada dalam etos bisnis ialah keyakinan yang teguh dan mendalam tentang nilai penting dan penuh arti dari suatu bisnis. Dengan kata lain, seseorang disebut mempunyai etos bisnis, jika padanya ada keyakinan yang kuat bahwa bisnisnya bermakna penuh bagi hidupnya. Unsur keyakinan dalam bisnis ini umumnya terkait dengan masalah kesadaran tentang makna dan tujuan hidup. Jadi, seorang pelaku bisnis adalah seseorang yang melihat bidang usahanya sebagai kelanjutan dari makna dan tujuan hidupnya. Walaupun, dibanding dengan makna dan tujuan hidup itu sendiri, bisnis hanya bernilai alat atau jalan untuk mencapai tujuan. Tetapi, karena dalam keyakinannya tersebut kaitan bisnis dengan makna dan tujuan hidupnya demikian kuat, maka ia tidak menyikapinya dengan setengan hati.

Dalam temuan ilmiahnya, Weber membeberkan tentang etika Protestan dalam kaitannya dengan pertumbuhan kapitalisme, dan suksesnya negara-negara Barat (terutama negara-negara Protestan) mengambil estafet kepemimpinan dunia. Begitu juga halnya Peter Gran dalam karyanya Islamic Roots of Capitalism memberikan kesan kuat tentang adanya kaitan antara bisnis dan komitmen keagamaan, bahkan mungkin dengan kesalehan, yang melandasi adanya keteguhan makna dan tujuan hidup dalam nilai-nilai bisnis, seperti kesediaan untuk menderita (sementara), suatu etika yang dilakoni oleh para sufi. Seorang pelaku bisnis sejati tidak takut melarat untuk sementara, karena ia yakin melalui usahanya ia akan menjadi kaya di belakang hari. Seorang kiai, misalnya, sering menasehati para santrinya, “Kalau ingin kaya, janganlah takut miskin” Takut miskin kemudian enggan untuk bertindak, justru merupakan salah satu penyebab kemiskinan. Karena itu, seorang pelaku bisnis selalu memiliki kesediaan untuk menunda kesenangan sementara, demi kebahagiaan yang lebih besar dibelakang hari. Penundaan kesenangan berjalan sejajar dengan sikap hidup hemat dan tidak konsumtif (zuhud), yang mana hal ini masih merupakan salah satu sifat yang banyak dilakoni oleh para sufi.

Di era kompetisi dewasa ini, sangat diperlukan suatu pandangan hidup yang future oriented. Ini berarti bahwa seorang pelaku bisnis mempunyai sikap penuh harapan kepada masa depan. Harapan adalah sumber energi pribadi, dan putus harapan juga adalah pemupus energi pribadi. Pepatah Arab mengatakan “Alangkah sempitnya hidup ini seandainya tidak karena lapangnya harapan. Harapan adalah pendorong bagi adanya langkah-langkah awal atau inisiatif. Karena itu, seseorang yang berpengharapan tidak pernah menghadapi jalan buntu. Kesulitan apapun tentu ada jalan keluarnya. Jika banyak tidak dapat diraih, maka yang sedikitpun diterima dan dimanfaatkan sebaik-baiknya. Karena itu dalam beberapa hal diperlukan sikap puas (qana’ah) dan merasa tidak perlu kepada yang lain. Seseorang yang tidak berputus asa juga orang yang berani menempuh risiko. Ia tidak akan mencari selamat dengan tidak berbuat sesuatu. Seorang pelaku bisnis selalu berusaha untuk menjadi something, somebody daripada nothing dan nobody dengan keberanian menempuh risiko. Tapi pada waktu yang sama seorang pelaku bisnis adalah orang yang tahu diri secara pas, yakni tanpa melebihkan diri sehingga menjadi sombong, atau mengurungkan diri sehingga menjadi rendah diri dan kurang bersyukur kepada Tuhan. Ia tidak rendah diri tetapi rendah hati. Karena itu jika mengalami sukses, ia tidak mengklaim kredit atau pengakuan hanya untuk dirinya semata, dan jika mengalami kegagalan ia tidak menjadi sengsara dan kehilangan harapan. Karena itu, seorang pelaku bisnis tidak bekerja setengah-setengah. Ia selalu berusaha melakukan pekerjaannya dengan itqan (meneliti seluruh bagian terkait dengan cermat, sehingga pekerjaan mendekati kesempurnaan). Sebagaimana dalam keberhasilan ruhani diperlukan sikap istiqamah, bisnis pun memerlukan keteguhan dan konsistensi. Kepribadian yang amanah akan melancarkan keberlanjutan (going concern) dan produktivitas suatu bisnis. Karena itulah, dari segi spiritualnya, seorang pelaku bisnis sejati menemukan kebahagiaan dalam kerja. Baginya, kerja adalah modal eksistensi dirinya. Maka dalam bekerja itu, ketika mengalami kegagalan pun ia tetap merasakan kebahagiaan. Sedangkan jika ia berhasil dengan baik, ia akan memperoleh double rewards berupa kebahagiaan kerja dan keberhasilannya memperoleh sukses. Sejalan dengan sabda Rasulullah SAW, tentang orang yang melakukan ijtihad; jika benar ia mendapatkan dua pahala dan jika keliru ia masih dapat satu pahala. Karena dimensi keagamaan inilah, bisnis berjalan sejajar dengan kesungguhan dan dedikasi (juhud, jihad, ijtihad, mujahadah). Dan seorang pebisnis yang bersungguh-sungguh, dapat dikategorikan sebagai mujahid dalam perkaranya yang unik. Diakhir tulisan ini, ucapan syukur yang penuh khusyuk hanya dipersembahkan kepada Allah SWT atas kemurahannya yang selalu memberikan ide-ide brilian yang pada saat ini terejawantahkan dalam pembukaan cabang baru Insan Corporation. Semoga dimasa kini dan mendatang keberadaan kita dapat menjadi berkah bagi rahmatan lil alamin

→ No CommentsKategori: Tidak terkategori