Afandri Adya

100 Tokoh Indonesia Berpengaruh

Mei 17, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Menyusun 100 tokoh Indonesia berpengaruh merupakan sebuah keasyikan tersendiri. Ternyata, tidaklah mudah memilih dan mengurutkan 100 tokoh yang berpengaruh terhadap negeri ini. Terlebih lagi ketika harus membandingkan pengaruh tokoh-tokoh yang berbeda bidang, semisal membandingkan pengaruh Sutan Takdir Alisjahbana yang bergelut di ranah bahasa dan sastra dengan Tan Malaka yang konsern di bidang politik dan pergerakan. Memandingkan pengaruh mereka berdua terhadap republik ini cukup menyulitkan, disatu sisi STA sangat berpengaruh dalam membangun fondasi dasar bahasa Indonesia, disisi lain Tan berpengaruh terhadap pencapaian kemerdekaan Indonesia 100%. Dan dalam daftar ini, kami merasa pengaruh STA lebih besar dibanding Tan. Urutan yang kami sajikan ini mungkin sangat debatable. Tapi kami coba untuk menampilkan seobyektif mungkin, dengan mempertimbangkan pengaruh pikiran, gerakan, dan karya-karya yang mereka hasilkan. Dalam daftar ini juga muncul beberapa tokoh yang dianggap kontroversi oleh sebagian kalangan, seperti Soeharto (yang berada diposisi 13), Amir Sjarifoeddin (24), dan D.N Aidit (47). Pertimbangan untuk memasukan mereka ke dalam daftar ini dikarenakan pengaruh besar mereka dan impaknya terhadap pembangunan keindonesiaan kita.

Berasumsikan bahwa semangat keindonesiaan bermula pada tahun 1908 sejak lahirnya Perhimpunan Indonesia di Belanda, maka daftar tokoh-tokoh di bawah ini menampilkan pribadi-pribadi yang berpengaruh sejak tahun itu hingga sekarang.

Berikut 100 Tokoh Indonesia Berpengaruh :
1. Soekarno
2. Mohammad Hatta
3. Sutan Sjahrir
4. Sutan Takdir Alisjahbana
5. Tan Malaka
6. Muhammad Natsir
7. Ahmad Dahlan
8. Ki Hajar Dewantara
9. Hamka
10. Chairil Anwar
11. Muhammad Yamin
12. Soedirman
13. Soeharto
14. Hasyim Asyari
15. B.J Habibie
16. Agus Salim
17. Pramoedya Ananta Toer
18. Soemitro Djojohadikusumo
19. Liem Sioe Liong
20. Amien Rais
21. Usmar Ismail
22. Yap Thiam Hien
23. Nurcholish Madjid
24. Amir Sjarifoeddin
25. Rudi Hartono
26. Abdul Haris Nasution
27. Oei Tiong Ham
28. Ismail Marzuki
29. H.B Jassin
30. W.R Supratman
31. Tony Koeswojo
32. Marah Roesli
33. Sjafruddin Prawiranegara
34. Abdul Muis
35. Amir Hamzah
36. Iwan Fals
37. Asrul Sani
38. Assaat
39. Ciputra
40. Cipto Mangunkusumo
41. Djamaluddin Adinegoro
42. Arizal
43. Soekarno M. Noer
44. Christine Hakim
45. William Soerjadjaja
46. Tjokroaminoto
47. D.N Aidit
48. Affandi
49. Nur Sutan Iskandar
50. Adam Malik
51. Idrus
52. Widjojo Nitisastro
53. Rosihan Anwar
54. Ernest Douwes Dekker
55. B.M Diah
56. Teguh Karya
57. R.M Tirtoadisuryo
58. Dedy Mizwar
59. Goenawan Mohammad
60. Dewi Sartika
61. Mochtar Lubis
62. Rohana Kudus
63. Benyamin Sueb
64. Susi Susanti
65. R.A Kartini
66. P.K Ojong
67. Soetomo
68. Jusuf Kalla
69. Taufik Ismail
70. Sjumandjaja
71. Susilo Bambang Yudhoyono
72. W.S Rendra
73. Ali Sastroamidjojo
74. Abdurrahman Wahid
75. Rano Karno
76. Surya Paloh
77. Megawati Soekarnoputri
78. Quraish Shihab
79. Sandiah Suryono
80. Eka Tjipta Widjaja
81. Ali Alatas
82. Djoeanda Kartawidjaja
83. Sulatan Hamengkubuwono IX
84. Mochtar Riady
85. Ahmad Syafii Maarif
86. Abdoel Rivai
87. Armijn Pane
88. Soedjojono
89. Roestam Effendi
90. Elyas Pical
91. Garin Nugroho
92. Ali Akbar Navis
93. Cornel Simanjuntak
94. Chrisye
95. Zainuddin M.Z
96. Rhoma Irama
97. Frederich Silaban
98. Y.B Mangunwijaya
99. Bimbim Slank
100. Teguh Srimulat

→ Leave a CommentKategori: Sosial Budaya

Yahudi : Diantara Deru Peradaban

April 29, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Munculnya Assyria dan Babylonia di Timur, telah melenyapkan kemerdekaan orang Yahudi untuk selamanya. 722 SM, Samaria ibu kota Israel jatuh ke tangan Sargon II, disusul Jerusalem ibu kota Judah yang jatuh ke tangan Nebukadnezar. Masa ini menjadi titik balik bagi umat Yahudi. Dari abad ke abad, paska penaklukan Assyria dan penerusnya Babylonia, umat Yahudi berada dalam masa penjajahan. Dibawah kekuasaan mereka, untuk kedua kalinya terjadi eksodus besar-besaran orang Yahudi. Kini arah tujuan Babylonia. Diatas tanah yang jauh dari kampung halaman mereka, orang Yahudi membuat kreasi-kreasi baru, yang menjadikan mereka kaya dan berbudaya. Rute-rute perdagangan Babylonia banyak diisi oleh orang Yahudi, menjadikan mereka manusia perniagaan internasional. Di dalam kekayaan pustaka Babylonia, mereka mendapatkan kecintaan akan kitab-kitab dan kegemaran akan pengetahuan.

Setelah empat milenium peradaban Semitik, Timur Tengah jatuh ketangan bangsa baru, Persia. Babylonia yang sedang berdiri megah dan dominan, dalam waktu singkat disapu bersih oleh bangsa baru ini. Pergerakan orang-orang Arya yang barbar dari Asia Tengah pada abad 6 SM, telah mengubah sejarah dunia. Ras Arya telah membentuk tiga cabang peradaban sekaligus, Persia di tengah, Yunani-Romawi di barat, dan India di timur.

Cyrus penguasa Persia, telah mengambil sebuah tindakan yang mempesonakan. Ia memberi orang Yahudi izin untuk kembali ke tanah air mereka, Palestina. Tetapi kebijakan ini menimbulkan tanggapan yang berbeda oleh bangsa Yahudi. Mengapa harus kembali ke Palestina, dimana hanya kesedihan, kemiskinan, dan kerja kasar yang tiada habisnya. Bangsa Yahudi tidak hanya menjadi makmur di dalam pengasingan Babylonia ini, mereka juga beranak-pinak. Namun, kebijakan Cyrus ini dimanfaatkan oleh orang Yahudi yang kurang beruntung dan tak memiliki cukup penghasilan di Babylonia. Semenjak kedatangan mereka, dibawah puing-puing peperangan, Palestina kembali menggeliat.

Walau hanya negara satelit dibawah imperium Persi, Palestina yang terbangun kembali ini memerlukan sebuah pemimpin baru. Nehemiah diangkat menjadi gubernur dan Ezra sebagai pemimpin spiritual umat. Orang Yahudi Babylonia yang kembali ke Palestina itu membawa serta kecintaan mereka akan kitab-kitab. Mereka merangsang sebuah kehidupan intelektual baru di Palestina. Delapan ratus tahun setelah kematian Musa, keyahudian bangsa Yahudi ditegakkan kembali sebagai sebuah hasil dari reformasi Josiah, doktrin Nabi-nabi, dan inovasi Ezra dan Nehemiah. Perubahan zaman kembali terasa, mereka sekarang kembali diuji di dalam ujian sejarah. Pusat peradaban dunia kembali bergeser dari Timur Tengah ke Eropa. Alexander yang agung dari Macedonia sedang berderap-derap di dalam pencarian akan sebuah imperium, membawa serta sebuah cara hidup baru, sebuah peradaban baru, dan tantangan baru bagi bangsa Yahudi.

Ambisi Alexander tidaklah hanya sekedar menegakkan sebuah imperium Yunani yang besar, tetapi juga memperluas kebudayaan campur sari ala Yunani, Helenisme. Untuk menegakkan kebudayaan Yunani sebagai cara hidup di dalam wilayah taklukannya, Alexander memerintahkan kepada para prajuritnya untuk melakukan perkawinan silang dengan penduduk asli. Dalam waktu sepuluh tahun ia mendirikan 25 kota model Yunani di Timur Tengah, yang utama diantara kota-kota itu ialah Alexandria di Mesir. Ide-ide yang telah dirumuskan oleh Ezra dan Nehemiah, kembali mendapat tantangan serius. Pemaksaan ide dan gaya hidup, serta budaya Helenisme kedalam bangsa Yahudi, telah membuat repot para pendeta mereka. Dan selama seribu tahun hingga jatuhnya Palestina kedalam imperium Muslim, bangsa Yahudi beserta ide-idenya telah jatuh dan teralienasi kedalam budaya Greco-Roman.

Tiga kali peperangan Macedonia membawa seluruh Yunani di bawah kekuasaan Romawi. Dipermulaan abad pertama, bangsa Romawi telah berdiri mengelilingi Asia Minor, Afrika Utara hingga Spanyol. Mereka merangsek serta memaksa menggantikan bekas imperium Alexander. Dimasa ini, pengalaman hidup yang geram ketika dibawah kekuasaan Mesir kembali terulang. Romawi menghajar habis bangsa Yahudi dan penyembelihan massal saling silih berganti dengan horor yang tiada hentinya. Yerusalem dan seluruh Palestina menjadi tertutup bagi bangsa Yahudi. Mereka yang tidak tewas dalam peperangan atau tidak sempat melarikan diri ke Parthia kemudian dijual kedalam perbudakan. Selama ratusan tahun di dalam perbudakan Romawi, bangsa Yahudi tidaklah bernegara dan tersebar ke setiap sudut imperium, dari India hingga tepian Atlantik. Dimasa penjajahan Romawi inilah, bangsa Yahudi untuk pertamakalinya terdiaspora ke seantero dunia.

Romawi harus menemui nasibnya, imperium yang mulai goyah itu harus terbelah menjadi dua. Pada masa perpecahan inilah muncul agama samawi baru, Kristiani, yang didakwahkan oleh keturunan Musa, Isa AS. Lahirnya agama baru ini menjadi masalah tersendiri bagi umat Yahudi, bahkan ancamannya lebih hebat lagi jika dibandingkan dengan kehadiran Helenisme empat ratus tahun sebelumnya. Agama Kristiani seperti halnya Islam nanti, menjadi superlatif bagi Yahudi.

Imperium barat telah lebih dahulu hancur, dan kini imperium timur di Konstantinopel telah terhuyung-huyung dibawah bayang-bayang imperium Muslim. Dan kini, nasib orang Yahudi-pun harus ditentukan oleh sepak terjang imperium besar ini.

→ Leave a CommentKategori: Sejarah

Yahudi : Periode Awal, Mesir dan Tanah yang Dijanjikan

April 29, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Masalah Israel dan Yahudi menjadi salah satu perbincangan yang hangat. Tatkala kebijakan untuk berperang menjadi sebuah opsi dalam keinginannya untuk merampas dan menduduki seluruh tanah orang Arab di Palestina. Menilik latar belakang dan sejarah Yahudi hingga harus menduduki tanah orang Arab, perlu diketahui walaupun hanyalah ringkas.

Drama sejarah Yahudi di buka pada suatu hari 4000 tahun silam. Pernikahan Ibrahim dengan Sarah telah bertahun-tahun berjalan tetapi tidak jua mendapatkan keturunan. Hingga pada suatu hari yang cerah, Tuhan meniupkan ruh pada seorang anak yang sholeh, Ishak. Dan dari pernikahannya dengan Sarah inilah keturunan Ibrahim terus berkembang, dari Ishak, Yakub, Yusuf, Musa sampai Isa. 4000 tahun perjalanan bangsa Yahudi, penuh lika-liku, kadang mereka berada dibawah penguasa yang baik, seperti Cyrus dari Persia atau Sultan Abdurrahman di Andalus, tapi lebih banyak hidup dibawah kungkungan dinasti-dinasti kejam, dari Firaun di Mesir, dinasti Babylonia, sampai imperium Romawi. 4000 tahun ini pula, dari bangsa yang minoritas banyak lahir para rasul yang sholeh, pemikir-pemikir yang brilian, politisi terkemuka, hingga para perusak peradaban yang bengal.

Ibrahim, bapak para nabi, bapak umat Yahudi, juga Nasrani dan Muslim, hidup dalam kondisi paganisme yang menjadi-jadi. Namrudz serta masyarakat Babylonia yang tak bersahabat telah menggiring Ibrahim untuk menyebrangi sungai Eufrat-Tigris menuju daerah bulan sabit subur, Palestina. Di daerah itulah Ibrahim beranak-pinak, disamping dengan istri keduanya Hajar yang hidup di gurun Arab yang gersang. Yusuf, salah satu keturunan Ibrahim yang cemerlang, hidup dalam situasi tanah Palestina yang tak bersahabat, sumber makanan yang terbatas serta cuaca yang tak menentu. Hal inilah yang menggiringnya beserta sejumlah bani Israel untuk bermigrasi ke Mesir.

Pada abad pertama di Mesir, Firaun cukup senang dengan kehadiran mereka. Tetapi setelah itu cerita menjadi lain. Kaum Yahudi menjadi buruan sang raja, hidup penuh tekanan, diperbudak, dan disiksa tanpa belas kasih. Hingga hari yang berbahagia, lahirlah Musa, pemimpin Yahudi yang brilian dan selalu dikenang sepanjang masa. Bayi Musa cukuplah beruntung, karena seorang istri raja Mesir yang baik hati mau mengambil dan merawatnya. Tumbuh dalam pengasuhan yang baik dan pendidikan yang cukup, Musa muda cukup vokal menetang kebijakan Firaun. Dalam posisi kerasulannya dan sebagai pemimpin umat, Musa menyelamatkan kaum Yahudi dari penindasan Firaun yang sombong. Penyelamatan ini merupakan sebuah fenomena dan mukjizat Tuhan yang luar biasa. Setelah beberapa hari berada dalam pengejaran, Musa berhasil menyebrangi Laut Merah. Hanya dengan menokokan tongkatnya ke laut, maka deburan ombak Laut Merah pun terbelah hingga laut ini dapat dilintasi kaum Yahudi menuju Sinai.

Di Sinai, kondisi kaum Yahudi relatif aman. Disini Musa menerima wahyu dari Tuhan yang menjadi cikal bakal sebuah agama. Kini Yahudi tak sekedar kaum, tapi lebih dari itu, telah menjadi sebuah agama. Di Sinai pulalah Musa menyampaikan sepuluh perintah Tuhan yang terkenal itu, yang hingga saat ini menjadi pegangan bagi umat Yahudi. Sinai, bukanlah tempat yang enak untuk didiami dan terlebih lagi Sinai bukanlah tanah yang dijanjikan. Menurut kepercayaan, tanah yang dijanjikan itu Palestina, tanah yang juga asal kakek buyut mereka dahulu. Permasalahan timbul, tatkala Musa mengajak kaumnya untuk berperang melawan bangsa Kan’an untuk merebut tanah Palestina. Disini pengalaman pertama umat Yahudi tercipta, mereka seolah-olah mendapatkan tugas suci untuk merebut tanah Palestina dari orang lain. Beruntung bagi mereka, Kan’an yang telah doyong akhirnya hancur.

Setelah pengembaraan yang menyakitkan di Mesir, Yahudi untuk pertama kalinya kembali ke Palestina. Disini, setelah beberapa abad wafatnya Musa, umat Yahudi hidup dalam pergolakan dan pertentangan. Hingga lahirlah Daud dan Sulaiman, dua pemimpin besar yang sholeh. Mereka untuk pertama kalinya mendirikan kerajaan orang Yahudi. Kerajaan yang menjadi inspirasi Israel modern ini, terbentang luas dari Sinai hingga Eufrat. Pertentangan yang konyol di dalam tubuh umat Yahudi, telah memecah dua kerajaan besar ini menjadi Judah dan Israel . Perpecahan inilah menjadi awal malapetaka bagi orang-orang Yahudi. Sejarah dua kerajaan yang merdeka ini, serupa dengan Italia dibawah Medici dengan serangkaian intrik, pengkhianatan, perebutan kekuasaan, dan pembunuhan.

→ Leave a CommentKategori: Sejarah

Iran dengan Politik Tingkat Tinggi

April 25, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Revolusi Iran 1979 telah mengubah segalanya. Peta politik duniapun sedikit bergeser dibuatnya. Tak adanya perimbangan kekuatan di Timur Tengah sebelum itu, membuat Amerika dan konco-konconya bebas mendikte seenaknya. Minyak dan eksistensi Israel menjadi ambisi Amerika untuk mengontrol Timur Tengah. Tapi kini ceritanya lain. Iran bersama Suriah dan organisasi-organisasi perjuangan seperti Hamas, Hizbullah, dan Jihad Islam menjadi kekuatan penyeimbang vis a vis Amerika dan Israel.

Iran dengan teknologi mutakhirnya, bukanlah Reza Pahlevi yang dulu. Iran sesadar-sadarnya yakin bahwa kelemahan teknologi militerlah yang membuat Timur Tengah selama ini gampang didikte. Kini ketika teknologi nuklir komplit dikuasainya, Amerika, Israel dan beberapa sekutunya bak kebakaran jenggot. Keberhasilan negara Parsi ini juga membuat pemimpin negara-negara Arab tak enak. Mereka merasa gundah, sebuah kekuatan dan pengaruh baru telah hadir. Arab Saudi dan Mesir yang memiliki pengaruh regional, paling tak enak akan kemajuan Iran.

Pasca penyerangan Lebanon Selatan 2006 dan Gaza akhir tahun lalu, pengaruh Iran semakin terasa. Iran senantiasa mengulurkan tangan, memberikan bantuan, terutama senjata dan pelatihan militer bagi organisasi perlawanan Zionis. Di Palestina, lebih dari negeri-negeri Arab lainnya, Iran bagaikan pelindung eksistensi mereka. Terowongan antara Rafah dan Gaza menjadi saksi, begitu derasnya bantuan Iran untuk pergerakan pembebasan ini.

Kini keadaan sulit mendera Amerika. Krisis finansial yang menggerogoti sejak dua tahun lalu, membayangi kehancuran negeri adidaya ini. Presiden Obama yang paham akan kondisi, tak banyak berkutik untuk mendikte keinginannya. Alih-alih berkonfrontasi dengan Iran, Amerika malah membuka babak baru dengan menjadikan Iran sebagai mitra yang sejajar. Keadaan ini tentulah menjepit Israel dan menjadikan Iran di atas angin.

Dibawah rezim Benyamin Netanyahu yang radikal, sekiranya Israel akan semakin deras berekspansi mencaplok tanah-tanah orang Arab. Jalur diplomasi yang telah digalang bertahun-tahun dan hingga kini tak berbuah kemajuan, akan semakin mentah ditangannya. Mungkin perang menjadi satu-satunya jawaban atas penyelesaian konflik di Timur Tengah. Dan tentu seperti halnya Amerika untuk Israel, Iran dengan segala kepiawaiannya akan menjadi motor bagi kemenangan Palestina.

Kemarin Senin 20 April 2009, adalah hari penuh kesempatan bagi presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad. Beliau diperbolehkan tampil berpidato dalam konferensi anti-rasisme di Jenewa. Seperti yang sudah-sudah, Ahmadinejad dengan retorika khasnya mengkritik keras politik rasis yang dijalankan Israel. Tak pelak pidato ini membuat para diplomat Eropa geram dan melakukan aksi jalan keluar sebagai bentuk protes mereka. Kejadian ini tak biasa. Dalam 50 tahun terakhir tak ada seorang pemimpin dunia Islam yang sebegitu tajamnya mengkritik Israel hingga mendapatkan protes keras dari negara-negara Eropa. Pidato ini dan reaksi yang ditimbulkannya, tentu tak akan menurunkan kredibilitas Iran, malah sebaliknya, ini akan semakin melambungkan martabat Iran dan menjadikannya negara yang diperhitungkan dalam pusaran politik dunia.

Tanpa kita sadari Iran telah memainkan politik tingkat tinggi. Yakni dengan cara menyusupkan senjata sembari beretorika di sidang-sidang dunia. Sebuah politik yang juga dimainkan oleh Amerika dan Uni Soviet ketika perang dingin dulu.

→ Leave a CommentKategori: Politik

Demokrasi Indonesia Kita

Maret 11, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Haruskah sekarang Jusuf Kalla (JK) maju sebagai capres? Pertanyaan inilah yang sekarang menggelayuti para politisi Golkar. Dalam survei yang dirilis oleh beberapa lembaga survei, JK tidaklah populer. Populitasnya tidaklah sampai angka 5%. Jauh dari Prabowo, Mega, apalagi incumbent SBY. Bagi JK yang pragmatis, survei bukanlah segalanya. Desakan dari kader Golkar dan gengsi sebagai partai tebesar, telah mengayunkan langkahnya untuk ikut dalam pertarungan Pilpres besok. Walaupun pemilu legislatif belum berlangsung, bak gayug bersambut, pencalonan JK ini merupakan berkah bagi sebagian tokoh. Sejak diumumkan kesiapannya, tokoh-tokoh lintas partai mulai merapat kepadanya. Ya apalagi kalau bukan untuk menawarkan diri menjadi Cawapres.

JK merupakan anti-tesis bagi demokrasi kita dewasa ini. Dia, seorang saudagar sukses, pekerja keras, dan periang. Satu pengecualian untuknya, dia orang Bugis – dan bukan Jawa. Dan faktor inilah yang mungkin akan mengganjalnya maju ketampuk pimpinan nasional. Masalah primordialisme, soal Jawa dan non-Jawa mungkin merupakan persoalan serius bagi sebagian masyarakat kita. Fanatisme kesukuan dan juga ideologi menjadi momok terbesar bagi demokrasi kita. Setelah 11 tahun reformasi, mungkin sebagian rakyat mengidamkan adanya perubahan yang berarti dalam konstelasi pentas perpolitikan kita. Tren Obama di Amerika, mungkin menjadi pemicunya, dimana etnis minoritas behasil menjadi penguasa negara.

Di Republik Indonesia kita, demokrasi mungkin tak selamanya sesuai. Dalam konteks ini, demokrasi bisa dinyatakan bersalah dan tak relevan. Dalam pilpres langsung nanti, demokrasi hanyalah sebuah probabilita. Dimana yang mayoritas akan mengalahkan minoritas. Bagi penulis, bentuk demokrasi seperti ini kuranglah tepat. Demokrasi model ini tak memungkinkan kaum minoritas untuk menang, layaknya Obama.

Di Amerika, kans kaum minoritas untuk menang cukuplah besar. Dalam pilpres Amerika, kemenangan bukanlah berdasarkan suara terbanyak seperti halnya di negara kita, tetapi ditentukan dari jumlah capaian negara bagian. Dalam pengertian ini, negara bagian yang berpenduduk padat memiliki nilai yang sama dengan negara bagian yang berpenduduk jarang.

Dalam konteks Indonesia kekinian, calon pilpres sebenarnya tak harus bersusah payah untuk bisa menang. Cukuplah mengambil hati orang-orang Jawa yang jumlahnya hampir separuh (47%) total populasi negeri, maka kemenangan akan diraihnya. Dalam konteks inilah, tipis peluang bagi orang-orang non-Jawa, seperti halnya JK untuk bisa memenangkan pertarungan pilpres nanti.

Kini sudah selayaknya kita berpikir dan merubah gaya demokrasi kita, menjadi demokrasi yang terwakilkan seperti halnya Amerika. Siapa yang akan memulainya .. Tentu kita semua.

→ Leave a CommentKategori: Politik

Orang Minang, Peran, dan Pencapaiannya

Maret 9, 2009 · 1 Komentar

Kesuksesan orang Minang di kancah kehidupan, tak terlepas dari budaya merantau yang telah melembaga dalam kehidupannya. Tsuyoshi Kato dalam penelitiannya mencatat bahwa, dari 8 juta orang Minang separuh berada di perantauan. Ukuran tersebut telah menjadikan etnis Minang sebagai etnis perantau terbesar di Nusantara. Mereka sering dinyatakan sebagai manusia yang kakinya tak pernah tinggal diam, senantiasa aktif berpindah serta meneruka wilayah-wilayah baru. Masyarakat Minang telah merantau sejak ratusan tahun lalu. Dari luhak nan tigo, mereka bermigrasi ke pesisr barat dan timur Sumatra.

Kemajuan perekonomian di daerah pedalaman Minangkabau, yang umumnya ditopang oleh perkebunan lada, telah mendorong orang-orang Minang untuk mengekspor hasil produksinya ke negara lain. Kegiatan ekspor ini umumnya dilakukan melalui pantai barat Sumatra. Hal ini telah mendorong masyarakat Minang untuk menetap di wilayah pesisir ini. Sehingga tak heran, jika banyak dijumpai perkampungan-perkampungan Minang yang terbentang mulai dari Meulaboh, Barus, Natal, Tiku, Pariaman, Painan, hingga Bengkulu. Kemajuan perdagangan ini, mengalami kemunduran ketika Aceh dibawah kuasa Sultan Iskandar Muda mengambil alih pelabuhan-pelabuhan ini dari tangan orang-orang Minang.

Pada abad ke-15, daerah rantau Minang meluas hingga ke timur. Mereka membentuk koloni di tepian sungai Siak hingga pesisir timur Sumatra. Laju perantauan Minang tidak berhenti sampai disini, mereka terus melanjutkan pengembaraannya hingga Negeri Sembilan di semenanjung Malaysia. Di Negeri Sembilan inilah, koloni terbesar pertama orang Minang terbentuk. Kini, seperti halnya Sumatera Barat, Negeri Sembilan juga merupakan penganut adat matrilineal yang kokoh, hidup bersuku-suku, dan berpenghulu.

Sifat perantau Minang yang praktis, terbuka, dan cenderung antusias dalam menghadapi semua tantangan, menjadikan orang Minang tampil kemuka, memainkan perannya, hingga mencapai kesuksesan.

Majalah Tempo edisi milenium yang terbit pada awal tahun 2000, mencatat bahwa 6 dari 10 orang Indonesia yang paling berpengaruh di abad ke-20 merupakan orang Minang. Di tanah air, pencapaian mereka melebihi proporsi jumlah penduduknya yang hanya berkisar 3% dari seluruh populasi. Orang Minang, meraih pencapaian tertinggi hampir di semua arena kehidupan. Mereka sukses sebagai penulis, wartawan, politikus, ulama, pengusaha, dan seniman.

Menulis, merupakan kegandrungan dan menjadi modal bagi sebagian besar orang Minang. Mereka menguasai dengan baik dialektika dan didaktika berbahasa. Sehingga tak heran jika banyak orang Minang yang memilih profesi sebagai jurnalis. Sebagai pemilik dan redaktur beberapa media massa terkemuka, wartawan-wartawan Minang kerap mempengaruhi opini dan pandangan masyarakat. Dengan kekhasan bertutur kata, tulisan-tulisan mereka turut memperkaya khasanah kosa kata bahasa. Djamaludin Adinegoro, Rosihan Anwar, dan Ani Idrus merupakan sosok sukses wartawan Minang.

Di bidang sastra, penulis-penulis Minang banyak mempengaruhi perkembangan bahasa Indonesia. Di tangan mereka, bahasa Indonesia menjadi lebih hidup dan dinamis. Beberapa sastrawan Minang, seperti Abdul Muis, Marah Rusli, Sutan Takdir Alisjahbana, Idrus, Chairil Anwar, Hamka, Ali Akbar Navis, dan Taufik Ismail, lahir sebagai pelopor kebangkitan sastra Indonesia. Lewat karya tulisnya, mereka banyak mengkritik budaya dan adat istiadat yang usang. Salah Asuhan, Siti Nurbaya, Layar Terkembang, Tenggelamnya Kapal van der Wijck, dan Robohnya Surau Kami, beberapa karya mereka yang cukup terkenal dan sering diulas dalam pembelajaran di sekolah-sekolah. Puisi-puisi Chairil, seperti Krawang-Bekasi dan Aku, menjadi karya yang bertenaga sekaligus simbol perlawanan rakyat terhadap penjajahan asing.

Di bidang politik, dominasi Minang tak terbantahkan lagi. Sepanjang periode 1920-1960, politisi asal Minang banyak berperan dan sangat menentukan. Pasca kemerdekaan, empat orang Minang duduk sebagai perdana menteri (Sutan Sjahrir, Muhammad Hatta, Abdoel Halim, Muhammad Natsir), seorang menjadi wakil presiden (Hatta), seorang sebagai presiden RI di bawah negara Indonesia Serikat (Asaat), seorang menjadi pemimpin parlemen (Chairul Saleh), dan puluhan orang duduk sebagai menteri. Pada masa demokrasi liberal, politisi Minanglah yang paling vokal di parlemen. Mereka berafiliasi hampir di semua partai politik, walaupun melalui Partai Masyumi dan Partai Sosialis Indonesia (PSI)-lah mereka banyak berkarya. Dominasi politsi Minang dipaksa untuk berakhir, ketika kepemimpinan otoriter Soekarno menyatakan Masyumi dan PSI sebagai partai terlarang. Kedua partai ini dituduh terlibat dalam usaha separatis, PRRI.

Di mancanegara, partisipasi dan prestasi orang-orang Minang di bidang politik tak kalah hebatnya. Pada tahun 1390, Raja Bagindo pergi merantau dan mendirikan Kesultanan Sulu di Philipina selatan. Di Kesultanan Johor, persaingan dengan para perantau Bugis dalam memperebutkan pengaruh, telah mendorong orang-orang Minang untuk ikut memainkan perannya. Pada masa revolusi, perantau-perantau Minang aktif terlibat dalam pergerakan kemerdekaan Malaysia, sebut saja misalnya Ibrahim Yaacob, Sutan Jenain, Ahmad Boestaman, Abdullah C.D, Shamsiah Fakeh, Khatijah Sidek, dan masih banyak lagi. Setelah kemerdekaan-pun, orang-orang Minang juga aktif berpolitik. Tuanku Abdul Rahman diangkat sebagai Yang dipertuan Agung, dan beberapa orang Minang seperti Aziz Ishak, Dato Shaziman Abu Mansor, Tan Sri Samad Idris, dan Rais Yatim duduk sebagai menteri. Di Singapura, politisi-politisi asal Minang cukup mewarnai. Ketika negeri tersebut lepas dari Malaysia, Yusof Ishak terpilih menjadi presiden pertama. Disana, beberapa orang Minang juga terjun di kepartaian, diantaranya Sha’ari Tadin, yang menjadi anggota parlemen Singapura selama 12 tahun.

Di negeri Belanda, politisi Minang juga ikut berkiprah. Diantaranya Rustam Effendi, yang duduk menjadi anggota parlemen sebagai perwakilan Hindia-Belanda. Dari semua politikus yang pernah dilahirkan ranah Minang, mungkin Tan Malaka yang paling fenomenal. Menjalani pengembaraan sejauh 89.000 km, hidup berpindah-pindah sekurangnya di delapan negara, Tan berhasil mendirikan partai politik di Bangkok, menjadi calon legislatif di Belanda, dan ditunjuk menjadi ketua Komintern (komunis internasional) untuk wilayah Asia. Tan paling produktif dalam menulis. Di samping buku Madilog yang menjadi magnum opus, artikelnya yang berjudul Naar de Republiek Indonesia merupakan karya Tan yang cukup brilian. Atas karyanya inilah, Tan dijuluki sebagai bapak republik.

Dalam kehidupan beragama, ulama-ulama Minang sangat aktif terlibat. Di abad ke-17, ulama-ulama Minang pimpinan Dato ri Bandang dan Dato ri Tiro, pergi merantau ke Sulawesi dan Kalimantan. Misi mereka menyebarkan ajaran Islam yang masih menjadi hal baru bagi masyarakat disana. Berebut pengaruh dengan misionaris-misionaris Belanda, ulama-ulama Minang berhasil mengajak raja-raja Makassar untuk memeluk Islam. Revolusi agama oleh kaum Paderi di tahun 1800-1840, menjadi babak baru bagi kehidupan beragama orang Minang serta sebagian masyarakat Tapanuli. Sejak revolusi tersebut, di ranah Minang banyak berdiri sekolah-sekolah agama, yang pada gilirannya akan melahirkan ulama-ulama yang puritan. Di penghujung abad ke-19, ulama Minang yang legendaris Ahmad Khatib al-Minangkabawi diangkat sebagai imam besar di Masjidil Haram Mekkah. Beliaulah satu-satunya orang non-Arab yang berhasil menduduki posisi tersebut. Mukimnya Ahmad Khatib di Mekkah, telah mendorong anak-anak muda Minang yang hendak melanjutkan studi Islam untuk pergi kesana. Di tanah Hejaz, Ahmad Khatib menjadi tempat berguru bagi banyak ulama-ulama Nusantara, diantara mereka adalah Haji Rasul, Ahmad Dahlan, dan Hasyim Ashari.

Di era 1950-1980, Natsir dan Hamka sering menjadi rujukan umat. Selain sebagai dai, politisi, dan penulis, mereka pulalah yang membidani kelahiran organisasi Dewan Dakwah Islamiyah dan Majelis Ulama Indonesia. Diantara berbagai organisasi besar massa Islam di tanah air, Muhammadiyah menjadi afiliasi mayoritas orang Minang. Bahkan keterlibatan orang Minang dalam organisasi ini cukup besar. Selain dua orang Minang pernah menjadi ketua umum (A.R Sutan Mansur dan Syafii Maarif), melalui pedagang-pedagang Minang-lah Muhammadiyah menjadi besar dan tersebar ke seluruh tanah air.

Di Indonesia dan Malaysia, di samping orang Tionghoa, orang-orang Minang terkenal sebagai saudagar yang ulet. Selain sukses sebagai pedagang tekstil, mereka juga memiliki jaringan perhotelan dan mendominasi jaringan rumah makan. Restoran Minang yang terkenal itu, telah menjadikan orang Minang sebagai pengusaha kuliner paling sukses di Asia Tenggara. Dalam acara Pertemuan Saudagar Minang beberapa waktu lalu, terlihat banyak perusahaan-perusahaan Minang yang eksis hingga mancanegara. Melewar Corporation di Malaysia dan Latief Corporation di Indonesia, merupakan salah satu bentuk sukses orang Minang dalam berbisnis. Sebagai profesional, dewasa inipun banyak orang-orang Minang yang duduk sebagai direktur utama BUMN dan perusahaan besar tanah air. Sebutlah, Emirsyah Sattar (Garuda Indonesia), Rinaldi Firmansyah (Telkom), Fazwar Bujang (Krakatau Steel), Johny Suwandy Syam (Indosat), Arwin Rasyid (Bank CIMB-Niaga) dan Erry Firmansyah (Bursa Efek Indonesia).

Di dunia hiburan, banyak pula yang menoreh kesuksesan. Berprofesi sebagai produser dan sutradara, mereka banyak mewarnai perfilman Indonesia. Karya-karya Usmar Ismail, Asrul Sani, Djamaludin Malik, dan Arizal, telah mewarnai alur perfilman tanah air. Diantara artis keturunan Minang, Soekarno M. Noer-lah yang paling mengkilap. Dia sukses sebagai aktor sekaligus produser film lewat perusahaan keluarganya, Karno’s Film. Raja kuis Ani Sumadi tak kalah hebatnya. Beliaulah yang telah merintis acara kuis di layar-layar televisi nasional. Dan mungkin tak banyak yang tahu, kalau perantau Minanglah pencipta lagu kebangsaan Singapura, Majulah Singapura. Dia adalah Zubir Said, warga Singapura kelahiran Bukittinggi.

Demikian selintas prestasi orang Minang di kancah kehidupan. Karya-karya mereka akan tetap abadi dan akan selalu di kenang. Seperti halnya mereka yang tampil ke pentas dunia, yang lahir dari kesederhanaan, kecerdikan, dan kerja keras, sudah saatnya pula kini kita tampil mengikuti jejak mereka.

→ 1 CommentKategori: Tidak terkategori

MUI dan Haramnya Golongan Putih

Februari 8, 2009 · 1 Komentar

Pesta demokrasi dalam hitungan hari kan tiba. Kesibukan menyambut pesta lima tahunan ini pun merata seantero bumi Nusantara. Dari komisi pemilu, pengurus partai, para caleg, tukang cetak, tukang sablon, dan tak ketinggalan pula, “tukang pembuat fatwa”, Majelis Ulama Indonesia.

Tak seperti biasanya, para ulama kita yang berkumpul di Padang Panjang Januari lalu, ikut kasak-kusuk menyambut pemilu yang akan diadakan 9 April nanti. Penyebabnya ialah, adanya kekhawatiran atas kecenderungan meningkatnya pemilih putih atau yang biasa kita kenal sebagai golongan putih. Kekhawatiran inipun secara sepintas cukuplah beralasan. Coba tengoklah tingkat partisipasi masyarakat dalam pemilihan kepala daerah yang diadakan secara estafet beberapa tahun belakangan ini. Tak lebih dari 80% masyarakat yang berpartisipasi dalam pemilihan ini. Berdasarkan hal itu pulalah Majelis Ulama Indonesia berinisiatif untuk menerbitkan sebuah fatwa.

Tetapi bagi sebagian orang, fatwa itu tidaklah murni inisiatif dari para ulama, tetapi merupakan pesanan dari beberapa petinggi partai. Alasan sebagian orang itu merujuk pada banyaknya tokoh-tokoh Islam pada akhir-akhir ini yang menyerukan untuk Golput. Sebutlah saja, mantan presiden kita Abdurrahman Wahid. Yang jauh-jauh hari, sejak kekalahannya atas Muhaimin Iskandar dalam perebutan kekuasaan di PKB, telah mendorong para pengikutnya untuk tidak ikut dalam pemilu alias Golput. Selain Gusdur, beberapa pimpinan kubu di tubuh Partai Keadilan Sejahtera, juga terang-terangan akan Golput dalam pemilu nanti, melihat sepak terjang PKS yang tak lagi berpihak pada ideologi Islam. Sikap sebagian pimpinan kubu itu mengkhawatirkan pimpinan MPR kita, bapak Hidayat Nur Wahid, yang notabene juga merupakan petinggi PKS. Menurut sebagian kalangan, kekhawatiran Hidayat inilah yang telah men-drive MUI untuk mengeluarkan fatwa haram itu.

Fatwa haram ini tentulah menggelitik bagi sebagian besar orang. Selain tidak ada ilad yang terang dalam pengambilan fatwa, keputusan ini cukuplah mengekang umat. Haruskah MUI bertindak sejauh itu, untuk mengatur sikap politik umat. Menurut hemat penulis, sikap Golput merupakan bentuk ketidakpuasan masyarakat atas kinerja partai-partai kita dewasa ini. Hampir sebelas tahun reformasi berjalan, tapi janji-janji politik yang digaungkan di setiap pemilu berlangsung tidak pernah terealisasi. Sikap Golput bagi sebagian orang juga merupakan bentuk oposisi atas siapapun yang akan berkuasa kelak. Dan sikap oposisi inilah tentu sangat dibutuhkan dalam proses demokrasi kita.

Golput juga merupakan pesan bagi sang penguasa nanti, bahwa beliau yang terpilih tidaklah mendapatkan seratus persen mandat dari rakyat, yang berarti pula kuatnya golongan oposisi yang akan mengawasi kinerja mereka. Dan pesan inilah nantinya diharapkan dapat meningkatkan kinerja para anggota legislatif dan pimpinan birokrasi di pemerintahan kita. Apapun sikap politik masyarakat pada pemilu nanti, tentulah merupakan sikap yang terbaik baginya. Dan Golput, bukanlah sebuah tindakan yang salah, jika dilakukan dengan penuh tanggung jawab.

→ 1 CommentKategori: Sosial Budaya

Amerika akan Kolaps

Desember 18, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Kebobrokan mesin ekonomi Amerika, satu per satu mulai terkuak. Setelah kasus subprime mortgage yang menjadi pemicunya di tahun 2007 lalu, berturut-turut kejadian besar terjadi disana. Kebangkrutan Lehman Brothers di pertengahan tahun 2008 ini, pemutusan hubungan kerja besar-besaran karyawan perusahaan otomotof the big three, sampai yang paling mutakhir kasus penipuan dengan skema ponzi.

Kasus penipuan ini cukup lucu dan tak beralasan untuk raksasa ekonomi sekaliber Amerika. Melihat kasus ini kita jadi bertanya-tanya, dimana fungsi pengawasan dan kontrol atas perusahaan investasi di Amerika. Kita tahu bahwa produk-produk instrumen keuangan terbitan Amerika, seperti reksadana, obligasi, asuransi, sampai produk derivatif-nya, selalu dinilai AAA+ oleh lembaga pemeringkat. Artinya bahwa produk-produk terbitan negeri Paman Sam ini dinilai sebagai produk-produk yang aman dan paling menguntungkan. Dan lucunya lagi, banyak korban dari penipuan yang dimotori oleh Bernard Madoff ini ialah bank-bank besar seperti Royal Bank of Scotland, BNP Paribas, Nomura Holdings dan orang-orang super kaya dunia. Menurut laporan, kerugian atas kasus ini sebesar US$ 50 milyar, luar biasa, setara dengan GDP sebuah negara berkembang. Kini, setelah silang sengkarut kasus subprime mortgage ditambah penipuan dengan skema ponzi ini, terlihat bahwa (ternyata) produk-produk itu hanyalah akal-akalan semata. Janji keuntungan besar yang bisa diterima oleh investor, hanyalah omong kosong bualan para manajer investasi yang haus keuntungan.

Sekarang saja, hanya dengan kredit macet subprime mortagage, telah membuat ciut ekonomi Amerika, apalagi ditambah kasus ponzi ini, bisa-bisa banyak perusahaan keuangan yang bubar. Kemuka mungkin kita akan melihat lebih banyak lagi, produk-produk keuangan Amerika, yang rata-rata memiliki underlying yang rumit dan hampir di luar logika, akan runtuh seketika. Dan kalau ini terjadi, kita tahu akibatnya, Amerika yang 60% ekonominya di pompa oleh sektor keuangan bisa rubuh.

Belum lagi krisis keuangan yang menimpa the big three, General Motors, Ford, dan Chrysler. Yang sampai saat ini, senat Amerika belum mau untuk memberikan dana talangan (bailout) untuk ketiga perusahaan tersebut. Senat Amerika mungkin benar, kinerja perusahaan ini yang terus merugi, terdesak oleh perusahaan otomotif Jepang dan Korea, tak layak di bantu. Tapi melepas the big three ke arah kebangkrutan juga tak sepenuhnya tepat. Kita tahu, the big three merupakan simbol kedigdayaan dan ikon industrialisasi Amerika, dan lebih dari sekedar itu, industri otomotif memperkerjakan banyak anak negeri. Jika senat bersikukuh tak mau menggelontorkan dana untuk industri ini, mungkin kita tak akan melihat lagi sebuah Detroit yang bersinar dengan lampu-lampu pabrik-pabrik otomotifnya. Kebangkrutan the big three, praktis menjadikan perusahaan-perusahaan otomotif Asia mendominasi dunia.

Kebangkrutan demi kebangkrutan yang terus susul menyusul, mungkin akan berujung pada lumpuhnya ekonomi Amerika. Jika kita runut kebelakang, semua ini karena kesalahan Bush Junior yang memutuskan untuk melanjutkan mission imposible ayahnya, menggempur dan menduduki Irak dan Afghanistan. Jangan disangka proyek ambisius ini tak membutuhkan dana besar. Konon dana yang harus dikucurkan untuk perang melawan terorisme sampai menyedot anggaran negeri ini. Uang yang seharusnya diperuntukkan bagi kesejahteraan rakyat, untuk memompa daya belinya yang melemah, tersedot untuk kepentingan militer. Kita tahu misi ini gagal. Keinginan Amerika untuk menguasai ladang-ladang minyak di Timur Tengah plus membersihkan para teroris tak sepenuhnya tercapai.

Kegagalan ini diperparah dengan kebijakan ekonomi Amerika yang terlalu bebas. Liarnya perilaku para spekulan di pasar modal dan pasar komoditi telah memperparah keadaan. Aksi spekulan melakukan transaksi short selling yang meruntuhkan saham Lehman seketika, serta manipulasi harga yang tak wajar atas komoditi-komoditi vital, seperti minyak bumi dan produk-produk pertanian, telah memukul telak perekonomian Amerika. Spekulasi, tak terbantahkan lagi telah menjadi biang keladi terjadinya inflasi yang melemahkan daya beli masyarakat Amerika.

Melihat hal ini, kini kita tahu, mengapa banyak pengamat yang pesimis melihat ekonomi dunia ke depan. Amerika, penyumbang seperempat ekonomi dunia, sedang berada di unjung tanduk. Melemahnya daya beli masyarakat Amerika otomatis terhentinya impor Amerika dari banyak negara. China sebagai korban terbesarnya, telah merumahkan banyak pekerja. Bisa di bayangkan, China yang mengekspor segalanya, dari makanan, tekstil, sampai mainan anak-anak ke Amerika, harus menutup pabrik-pabriknya karena sepinya pembeli.

Imperium Romawi, Turki Ottoman, dan Uni Sovyet telah merasakan, kebijakan yang invasionis akan membawa pada malapetaka. Kini hal yang sama telah terjadi. Dan di depan mata, adidaya Amerika akan kolaps.

→ Leave a CommentKategori: Ekonomi Bisnis

Keikhlasan dan Keserakahan

Nopember 14, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Tempo hari pengalaman menarik saya dapatkan. Sebuah cerita yang mengingatkan saya, bahwa sebuah keikhlasan sangat diperlukan dalam hidup ini. Cerita itu datang bukan dari motivator ulung atau pak ustad, tapi dari seorang rakyat terpinggirkan, tukang ojek. Begini ceritanya; hari menunjukkan pukul 7.50, 10 menit menjelang waktu saya masuk kantor. Kopaja, jelaslah pilihan yang salah untuk cepat sampai kantor, memilih Kopaja bisa-bisa telat lagi. Taksi, oh no…, mahalnya argo taksi tak cukup untuk karyawan kecil macam saya. Tak ada pilihan lain, selain memilih ojek untuk sampai sebelum jam 8.00 di kantor.

Panas yang mulai meninggi di downtown kota Jakarta, plus kondisi lalu lintas yang cukup semrawut, tak membuat wajah ini absen mengumbar senyum. Senyum pagi itu, saya tumburkan ke seorang tukang ojek setengah baya. Senyum tipis dari pengojek itulah, yang membuat saya membalas senyum. Setelah itu, tawar menawar pun terjadi diantara kami. “Bang, Komdak sepuluh ribu ya?” Tanya saya pada pengojek tersebut. Tawaran saya pun langsung di iyakan olehnya, setelah tawaran saya kepada dua tukang ojek sebelumnya ditolak mentah-mentah. Tanpa ba bi bu, si pengojek ramah tersebut langsung menancap motor bebek bututnya.

Sesampainya di bilangan Setia Budi, si pengojek itu mulai bercericau. “Mas, besok-besok kalo mo naik ojek, langsung aja naik ojek saya” si pengojek itu memulai pembicaraan. “Emangnya kenapa mas?” balas saya, “Iya, kalo tukang ojek lain dia suka milih-milih bawa penumpang. Mereka gak bakalan mau bawa penumpang yang jarak jauh.” “Oohh gitu”, sahut saya heran. “Kalo saya sih bawa penumpang kagak pernah milih-milih, rejeki gak bakal kemana Mas” tambahnya dalam logat betawi yang kental. Singkat cerita, ternyata si pengojek ini pernah mendapatkan uang kaget Rp 2.500.000, dari acara reality show Tolong. Keberuntungan ini terjadi karena hanya dia lah satu-satunya tukang ojek yang bersedia membawa penumpang berongkos Rp 2.000, dari Dukuh Atas ke Pulo Gadung. “Tukang ojek lain kagak ada yang mau Mas, eh ternyata gak nyangka malah saya dapet dua setengah juta” Berawal dari pengalaman itulah, si pengojek itu makin yakin bahwa jika bekerja dengan ikhlas maka Tuhan akan memberikan harta lebih yang tak disangka-sangka.

Lain dari kisah pengojek itu, Richard Fuld Jr bukanlah orang bodoh. Tapi ketamakannya lah yang membawa bank investasi terbesar nomor tiga Amerika, Lehman Brothers, jatuh terperosok hingga bangkrut. Berdiri sejak 1850, garapan bisnis Lehman cukuplah luas. Dari pinjaman untuk properti, obligasi perusahaan, hingga aset manajemen. Lehman selalu lulus uji melewati krisis ekonomi dunia, sejak depresi AS 1929 sampai krisis Asia 1998. Tapi kali ini keberuntungan Lehman tak secemerlang sebelumnya, mengharap untung besar, Fuld Jr memberikan kredit rumah yang berlebihan kepada nasabah-nasabah sub-prime, nasabah yang jelas-jelas tak memiliki riwayat bagus dalam berurusan dengan bank.

Lehman tak pernah berpikir bahwa nasabah sub-prime ini akan memacetkan likuiditasnya. Yang mereka tahu adalah jika nasabah sub-prime itu menunggak, mereka bisa melego aset properti yang menjadi jaminannya, dengan harapan nilai properti tersebut terus meningkat. Tapi skenario Lehman tak berjalan mulus, nasabah sub-prime memang menunggak, tapi nilai propertinya terus merosot. Walhasil likuiditas Lehman seret, nilai asetnya terus tergerus. Kerugian, so pasti, tapi nasib Lehman tak seberuntung AIG, J.P Morgan, dan Merril Lynch yang disuntik dana segar oleh pemerintah. Kebangkrutan pun tak tertahankan, karier perusahaan Lehman berakhir. Ini semua terjadi akibat manajemen Lehman yang serakah, yang tak peduli lagi dengan resiko, demi mengejar laba besar.

→ Leave a CommentKategori: Motivasi

Orang Kaya Dunia

April 24, 2008 · 3 Komentar

India … Negeri miskin di anak benua Asia, dengan populasi besar, penduduk yang kurang kreatif, dan hanya mengandalkan hasil pertanian sebagai mata pencahariannya. Tetapi itu dulu, kisah dua puluh tahun lalu. Kini India telah mengkilap, telah berubah dan menjadi salah satu pesaing terberat Amerika. Tengoklah dalam daftar orang-orang tajir se-jagat yang dikeluarkan oleh majalah ternama, Forbes. India menempatkan empat wakilnya, dalam top sepuluh orang-orang kaya dunia. Amerika yang dari tahun ke tahun mendominasi daftar ini, hanyalah menempatkan dua orang dalam top sepuluh.

Adalah Lakshmi Mittal, Mukesh Ambani, Anil Ambani, dan Kushal Pal Singh, empat pengusaha India yang duduk di posisi tersebut. Lakshmi, yang memiliki pabrik baja terbesar di dunia masih yang terhebat diantara mereka. Pada tahun 2007 lalu, Arcelor Mittal memberikan US$ 45 milyar ke pundi-pundi Lakshmi. Angka ini hanya kalah dari Warren Buffett, Carlos Slim Helu, dan Bill Gates. Gates yang tahun lalu menduduki posisi kampiun, pada tahun ini harus puas di urutan ketiga tergeser oleh raja investasi Warren Buffet yang mampu mengumpulkan US $ 62 miliar dibawah bendera Berkshire Hethaway.

Dari daftar ini banyak hal menarik yang perlu dicatat, walaupun Amerika masih mendominasi dalam melahirkan orang-orang kaya dunia, namun penduduk-penduduk Asia sudah mulai dapat mengimbanginya. Majalah ini juga mencatat, India dan China pada tahun lalu merupakan negara yang paling banyak melahirkan miliarder baru. Tak salah jika dalam 1000 daftar orang kaya dunia, China dan India banyak menempatkan taipan-taipannya dalam daftar tersebut.

Disamping India dan China, Rusia – negeri beruang merah yang tak berdaya semenjak keruntuhan Uni Soviet – kini juga banyak melahirkan miliarder baru. Tercatat 79 miliarder Rusia masuk dalam Top 1000 dengan total kekayaan US$ 463,1 milyar. Seperti halnya miliarder-miliarder Timur Tengah, taipan Rusia banyak mendulang fulus dari pertambangan. Oleg Deripaska (#9) misalnya, yang mengais pundi-pundi dari perusahaan tambangnya, Rusal.

Seperti halnya Fortune 500 – yang memuat 500 perusahaan besar dunia – daftar Forbes 1000 ini juga semakin menunjukkan bahwa persaingan global semakin merata, antara kutub Amerika Utara, Eropa, dan Asia Timur. Untuk tahun-tahun mendatang akankah tercipta kutub baru dalam persaingan global, mungkinkah Timur Tengah berikutnya ?

Berikut daftar Top 10 dunia :

Rank | Nama | Kewarganegaraan | Usia | Kekayaan (US$ milyar) | Domisili
1 | Warren Buffett | Amerika Serikat | 77 | 62 | Amerika Serikat
2 | Carlos Slim Helu | Meksiko | 68 | 60 | Meksiko
3 | William Gates III | Amerika Serikat | 52 | 58 | Amerika Serikat
4 | Lakshmi Mittal | India | 57 | 45 | Inggris
5 | Mukesh Ambani | India | 50 | 43 | India
6 | Anil Ambani | India | 48 | 42 | India
7 | Ingvar Kamprad | Swedia | 81 | 31 | Swiss
8 | Kushal Pal Singh | India | 76 | 30 | India
9 | Oleg Deripaska | Rusia | 40 | 28 | Rusia
10 | Karl Albrecht | Jerman | 88 | 27 | Jerman

Berikut daftar Top 10 negara asal miliarder dunia *

Rank | Negara | Kekayaan (US $ milyar) | Jumlah
1 | Amerika Serikat | 1.555,5 | 417
2 | Rusia | 463,1 | 79
3 | India | 326 | 45
4 | Jerman | 280,6 | 55
5 | China | 237,7 | 65
– Hongkong | 135,3 | 25
– China Daratan | 74,2 | 33
– Taiwan | 28,2 | 7
6 | Prancis | 112,8 | 13
7 | Meksiko | 96,2 | 10
8 | Kanada | 92 | 25
9 | Inggris | 91,5 | 29
10 | Swedia | 88 | 9

* Jumlah dan Kekayaan dari total Top 1000 miliarder

→ 3 CommentsKategori: Ekonomi Bisnis