Mengapa Nusantara Jatuh Miskin

Kapal Belanda di Perairan Indonesia

Kapal Belanda di Perairan Indonesia

Nusantara dalam kajian sejarah dunia, merupakan daerah pinggiran yang jarang tersentuh serta disorot secara menyeluruh. Sejarawan besar macam Arnold Toynbee pun hanya mengulas sedikit kehidupan budaya dan sejarah masyarakat Nusantara dalam bukunya yang sensasional “Mankind and Mother Earth”. Sejarawan besar dunia hanya memintaslalukan perkembangan masyarakat Nusantara yang diapit oleh dua budaya besar China dan India. Bahkan Arnold Toynbee menganggap bahwa kebudayaan Nusantara hanyalah perkembangan dari budaya India (Indian civilization influenced), seperti halnya budaya Benggala dan Urdhu. Namun ada beberapa pakar yang mengulas sejarah Asia Tenggara (Nusantara) secara mendalam dan menyeluruh. Diantara sejarawan-sejarawan tersebut ialah Dennys Lombard, Anthony Reid dan Rovere van Bruegel. Ketiga sejarawan besar tersebut perlu mengulas Nusantara secara mendetail sebagai bangsa besar dan berpengaruh dalam percaturan perdagangan dunia.

Dalam konteks materi kali ini, kita akan melihat dan meneropong Nusantara sebagai daerah yang maju dan akhirnya menjadi bangsa yang miskin. Kita akan melihat penyebab dan dampak dari merosotnya perdagangan Nusantara sehingga akhirnya hal ini memiskinkan penduduk Nusantara.

“Kalau membandingkan Banten di masa lampau, ketika bangsa-bangsa Eropa muncul di Asia, dengan keadaannya yang miskin sekarang, maka orang harus pasrah pada Tuhan Yang Maha Kuasa yang menciptakan kerajaan-kerajaan dan menghancurkannya lagi sekehendak-Nya … Pusat perdagangan yang terbesar di Timur itu telah menjadi tempat orang-orang sial” demikian pendapat van Bruegel pakar sejarah negeri Belanda. Pendapat ini mengesankan bahwa Nusantara yang berjaya telah lemah dan miskin, sementara Eropa telah meninggalkan Nusantara dengan unsur-unsur dinamika budaya dan teknologinya. Mengenai kejayaan Aceh dan kekuatannya dalam mendikte pedagang-pedagang Arab, Persia, India, China dan Eropa di Selat Malaka hingga kini menjadi salah satu propinsi termiskin di Nusantara, menjadi cerita lain lagi dari kisah tragis bangsa-bangsa Nusantara.

Reid dalam bukunya “Southeast Asia in the Age of Commerce 1450-1680” mengulas beberapa faktor yang menjadi penyebab dari kemiskinan Nusantara. Hubungan antara penguasa dan rakyat, serta budaya feodalistik masyarakat Nusantara telah melemahkan mereka. Pada masa awal krisis, akhir abad ke-17, di Campa rakyat tidak bisa memiliki barang berharga, sedangkan orang Kamboja hanya bisa memiliki harta selama diperkenankan raja. Di Tongking, Vietnam Utara, sudah menjadi kebijakan istana untuk tidak membiarkan rakyat kaya karena dengan itu mereka akan sombong. Kurang berminatnya masyarakat Nusantara mengalihkan hartanya menjadi modal terpasang sebagai pijakan untuk pengembangan ekonomi mereka juga menjadi faktor penyebab miskinnya Nusantara. Sementara Eropa menggiatkan kapitalistik ditengah masyarkatnya, masyarakat Nusantara justru mengalihkan harta-harta mereka menjadi barang-barang konsumtif, seperti permata dan pakaian indah. Reid berpendapat tidak adanya budaya kapitalis dan pemupukan modal dalam masyarakat Nusantara menjadi penghambat majunya perekonomian bangsa ini.

Perkongsian enam kota plus pemupukan modal oleh masyarakat Yahudi Belanda, telah melahirkan VOC sebagai perusahaan multinasional pertama yang maju dan berkembang. VOC seperti yang kita ketahui akhirnya menguasai perdagangan global. Hampir setiap kota-kota perdagangan penting dunia dari Tanjung Harapan di Afrika hingga Batavia di Nusantara menjadi basis perdagangan mereka. Mundurnya perdagangan Nusantara dalam abad ke-17 dapat dijelaskan sebagai kemenangan militer dan ekonomi VOC. Monopoli VOC dalam hasil-hasil bumi Nusantara telah melemahkan pedagang-pedagang Melayu, Mon, dan Jawa dalam persaingan ekonomi. Pedagang-pedagang Nusantara yang terkenal ulet dan gigih itu harus menerima pil pahit karena tidak adanya penumpukan modal yang berarti dalam usaha-usaha mereka.

Selain itu tidak adanya perlindungan terhadap kelas pedagang dari pihak kerajaan dan mewahnya kehidupan istana menjadi faktor penyebab lainnya. Dua kekuasaan besar di Nusantara, Aceh pada masa Sultan Iskandar Muda dan Mataram pada masa Sultan Agung, menjadi titik balik mundurnya perdagangan Nusantara. Walaupun kita mengenal dua raja tersebut merupakan raja-raja paling sukses di kerajaannya, tetapi kehidupan mewah dan sikap otoriter mereka terhadap para pedagang telah melemahkan kerajaan terhadap orang-orang Eropa. Pedagang Minangkabau dibawah perlindungan Aceh dan pedagang pesisir utara Jawa yang bekerja untuk Mataram akhirnya harus takluk atas dominasi VOC Belanda.

Korupsi dan suap di tubuh kerajaan, ternyata juga menjadi penyebab melemahnya masyarakat Nusantara. Laporan orang-orang Belanda yang menyuap pejabat-pejabat Banten atas pendirian benteng Belanda di Batavia menjadi bukti bahwa kolusi telah melemahkan Nusantara. Berawal dari benteng ini Belanda menaklukkan kota-kota perdagangan Jawa di Banten, Cirebon, Demak, Tuban hingga jantung kekuasaan Jawa di Mataram. Tahun 1640, kedudukan VOC di Jawa tidak pernah mendapat ancaman yang berbahaya lagi dari Mataram. Penerus Sultan Agung yang lemah dan dengan mudah “menggadaikan” kerajaan untuk kekuasaan semakin mempercepat jatuhnya Mataram. 1750, Mataram yang sudah miskin dan lemah itu akhirnya kini berada dibawah kekuasaan Belanda.

Persaingan antar kerajaan-kerajaan Nusantara juga menjadi penyebab melemahnya mereka. Sejarah mencatat, persaingan paling keras terjadi di Maluku dan Sulawesi. Tidak adanya kekuatan yang mendominasi di wilayah tersebut, menyebabkan persaingan perdagangan berjalan seimbang. Persaingan yang cukup keras ini membangkitkan semangat Portugis dan Belanda untuk mengadu domba raja-raja Nusantara. Di Maluku, persaingan Ternate-Tidore dalam memperebutkan hegemoni Nusantara timur menyebabkan ikut sertanya Belanda dalam menyelesaikan konflik ini. Untuk melawan Ternate, raja-raja Tidore meminta bantuan militer VOC untuk berada di pihak mereka, yang mana kompensasi dari semua ini ialah monopoli hasil bumi Tidore di tangan pedagang VOC. Demikian pula di Sulawesi, persaingan internal orang-orang Bugis berhasil dimanfaatkan oleh VOC hingga terbitlah perjanjian Bongaya yang melemahkan kota perdagangan termaju di Nusantara timur, Makassar.

Kondisi dan faktor-faktor utama diatas, hingga kini masih berkembang dalam masyarakat Nusantara, walaupun negeri-negeri di Nusantara telah lepas dari kolonialisme Eropa sejak 60 tahun lalu. Saat ini, kita masih melihat otoritarian penguasa di tubuh pemerintahan Myanmar, pergolakan etnis yang cukup hangat terjadi di Malaysia, dan tradisi korupsi-kolusi yang masih jamak dipraktekkan di Vietnam dan Indonesia. Hingga kini-pun kita masih merasakan kentalnya budaya feodalistik ditengah-tengah mayarakat Thai dan Jawa. Kondisi ini tentunya haruslah dapat dipecahkan oleh pemimpin-pemimpin bangsa di Nusantara, agar masyarakat ini tidak terus menerus miskin serta dapat pula memiliki peran yang signifikan seperti halnya dua tetangga Nusantara, China dan India.

Sumber gambar : http://www.eramuslim.com

Tinggalkan Balasan