
Lehman Brothers
Tempo hari pengalaman menarik saya dapatkan. Sebuah cerita yang mengingatkan saya, bahwa sebuah keikhlasan sangat diperlukan dalam hidup ini. Cerita itu datang bukan dari motivator ulung atau pak ustad, tapi dari seorang rakyat terpinggirkan, tukang ojek. Begini ceritanya; hari menunjukkan pukul 7.50, 10 menit menjelang waktu saya masuk kantor. Kopaja, jelaslah pilihan yang salah untuk cepat sampai kantor, memilih Kopaja bisa-bisa telat lagi. Taksi, oh no…, mahalnya argo taksi tak cukup untuk karyawan kecil macam saya. Tak ada pilihan lain, selain memilih ojek untuk sampai sebelum jam 8.00 di kantor.
Panas yang mulai meninggi di downtown kota Jakarta, plus kondisi lalu lintas yang cukup semrawut, tak membuat wajah ini absen mengumbar senyum. Senyum pagi itu, saya tumburkan ke seorang tukang ojek setengah baya. Senyum tipis dari pengojek itulah, yang membuat saya membalas senyum. Setelah itu, tawar menawar pun terjadi diantara kami. “Bang, Komdak sepuluh ribu ya?” Tanya saya pada pengojek tersebut. Tawaran saya pun langsung di iyakan olehnya, setelah tawaran saya kepada dua tukang ojek sebelumnya ditolak mentah-mentah. Tanpa ba bi bu, si pengojek ramah tersebut langsung menancap motor bebek bututnya.
Sesampainya di bilangan Setia Budi, si pengojek itu mulai bercericau. “Mas, besok-besok kalo mo naik ojek, langsung aja naik ojek saya” si pengojek itu memulai pembicaraan. “Emangnya kenapa mas?” balas saya, “Iya, kalo tukang ojek lain dia suka milih-milih bawa penumpang. Mereka gak bakalan mau bawa penumpang yang jarak jauh.” “Oohh gitu”, sahut saya heran. “Kalo saya sih bawa penumpang kagak pernah milih-milih, rejeki gak bakal kemana Mas” tambahnya dalam logat betawi yang kental. Singkat cerita, ternyata si pengojek ini pernah mendapatkan uang kaget Rp 2.500.000, dari acara reality show Tolong. Keberuntungan ini terjadi karena hanya dia lah satu-satunya tukang ojek yang bersedia membawa penumpang berongkos Rp 2.000, dari Dukuh Atas ke Pulo Gadung. “Tukang ojek lain kagak ada yang mau Mas, eh ternyata gak nyangka malah saya dapet dua setengah juta” Berawal dari pengalaman itulah, si pengojek itu makin yakin bahwa jika bekerja dengan ikhlas maka Tuhan akan memberikan harta lebih yang tak disangka-sangka.
Lain dari kisah pengojek itu, Richard Fuld Jr bukanlah orang bodoh. Tapi ketamakannya lah yang membawa bank investasi terbesar nomor tiga Amerika, Lehman Brothers, jatuh terperosok hingga bangkrut. Berdiri sejak 1850, garapan bisnis Lehman cukuplah luas. Dari pinjaman untuk properti, obligasi perusahaan, hingga aset manajemen. Lehman selalu lulus uji melewati krisis ekonomi dunia, sejak depresi AS 1929 sampai krisis Asia 1998. Tapi kali ini keberuntungan Lehman tak secemerlang sebelumnya, mengharap untung besar, Fuld Jr memberikan kredit rumah yang berlebihan kepada nasabah-nasabah sub-prime, nasabah yang jelas-jelas tak memiliki riwayat bagus dalam berurusan dengan bank.
Lehman tak pernah berpikir bahwa nasabah sub-prime ini akan memacetkan likuiditasnya. Yang mereka tahu adalah jika nasabah sub-prime itu menunggak, mereka bisa melego aset properti yang menjadi jaminannya, dengan harapan nilai properti tersebut terus meningkat. Tapi skenario Lehman tak berjalan mulus, nasabah sub-prime memang menunggak, tapi nilai propertinya terus merosot. Walhasil likuiditas Lehman seret, nilai asetnya terus tergerus. Kerugian, so pasti, tapi nasib Lehman tak seberuntung AIG, J.P Morgan, dan Merril Lynch yang disuntik dana segar oleh pemerintah. Kebangkrutan pun tak tertahankan, karier perusahaan Lehman berakhir. Ini semua terjadi akibat manajemen Lehman yang serakah, yang tak peduli lagi dengan resiko, demi mengejar laba besar.
Sumber foto : http://mohammadihsan.com
DIarsipkan di bawah: Motivasi | Ditandai: Ikhlas, Lehman Brothers, Serakah