<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Afandri Adya</title>
	<atom:link href="http://afandri81.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://afandri81.wordpress.com</link>
	<description>Just my simple idea</description>
	<lastBuildDate>Sun, 20 Dec 2009 00:34:28 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='afandri81.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/e6633ad80d2fb6402e0961af3f2c5253?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Afandri Adya</title>
		<link>http://afandri81.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://afandri81.wordpress.com/osd.xml" title="Afandri Adya" />
		<item>
		<title>Orang-orang Jakarta</title>
		<link>http://afandri81.wordpress.com/2009/12/19/orang-orang-jakarta/</link>
		<comments>http://afandri81.wordpress.com/2009/12/19/orang-orang-jakarta/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 Dec 2009 23:48:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>afandri81</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Orang Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Anak Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Kehidupan Jakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://afandri81.wordpress.com/?p=373</guid>
		<description><![CDATA[Keruan saja tingkah laku para komuter di kereta listrik selingkaran kota Jakarta (baca : KRL Jabotabek). Cuma karena bersua tipa pagi dan sore hari, mereka sampai-sampai buat arisan. Nggak tua nggak muda, nggak laki nggak perempuan, tanpa memandang profesi dan domisili, mereka bersatu dalam komunitas kereta listrik lewat arisan. Biasanya pihak yang mengkoordinir arisan adalah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=afandri81.wordpress.com&blog=1733555&post=373&subd=afandri81&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><div id="attachment_379" class="wp-caption alignleft" style="width: 235px"><a href="http://afandri81.files.wordpress.com/2009/12/hard-rock-kafe.jpg"><img src="http://afandri81.files.wordpress.com/2009/12/hard-rock-kafe.jpg?w=225&#038;h=300" alt="" title="hard rock kafe" width="225" height="300" class="size-medium wp-image-379" /></a><p class="wp-caption-text">Hard Rock Cafe, salah satu tempat kongkow di Jakarta</p></div>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:27pt;text-align:justify;margin:0;">Keruan saja tingkah laku para komuter di kereta listrik selingkaran kota Jakarta (baca : KRL Jabotabek). Cuma karena bersua tipa pagi dan sore hari, mereka sampai-sampai buat arisan. Nggak tua nggak muda, nggak laki nggak perempuan, tanpa memandang profesi dan domisili, mereka bersatu dalam komunitas kereta listrik lewat arisan. Biasanya pihak yang mengkoordinir arisan adalah ibu-ibu yang paling ngocol diantara mereka. Kegiatan mereka tak hanya sekadar kocok arisan. Untuk memperkuat keanggotaan, biasa mereka mengadakan perayaan ulang tahun atau acara buka puasa bersama. Kadang jika ada anggota komunitas yang nikahan atau lahiran, mereka tak lupa untuk urunan, sebagai bukti kepedulian terhadap anggota yang lain. Untuk melayani keluhan serta curhat diantara para penumpang KRL, milis KRL Mania menjadi wadahnya. Disini para KRL-ers bisa menumpahkan uneg-unegnya hingga berbagi cerita. Komunitas kereta Jabotabek mungkin salah satu contoh komunitas unik orang-orang Jakarta.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:27pt;text-align:justify;margin:0;">Di tempat dan waktu terpisah, ratusan orang rela keluar malam untuk sekadar mengejar <em>midnight sale</em>. Penyelenggara acara obral-obral ini, toko ternama macam Metro, Sogo, Matahari, dan Centro. Selain itu beberapa outlet asing seperti Zara, Mark and Spencer, dan Louis Vuitton, kerap mengadakan <em>midnight sale </em>untuk menambah penjualan akhir tahun. Diskon yang mereka agihpun tak tanggung-tanggung, hingga 70% ! Hitung-hitung ngabisin stok lama, kegiatan diskon besar-besaran inipun tak terlalu merugikan produsen. Para eksekutif muda Jakarta yang berpenghasilan pas-pasan namun hendak memakai produk-produk bermerek, momen ini sangat dinanti-nantikan. Prinsip mereka, bisa tampil parlente tanpa harus merogoh kocek dalam-dalam. Maklum, gaji bulanan yang didapat hanya pas untuk ongkos, bayar kos, dan makan sehari-hari.</p>
<p><span id="more-373"></span>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:27pt;text-align:justify;margin:0;">Populasi <em>Greater</em> Jakarta di tahun 2009 ini, diperkirakan mencapai 24 juta jiwa. Dengan luas hanya 5.400 km2 kota ini terlampau padat. Padatnya kota nampak dari semakin meningkatnya pengguna sepeda motor. Maraknya pemberian kredit oleh perusahaan-perusahaan pembiayaan, memudahkan warga Jakarta untuk memiliki alat transporatasi yang satu ini. Kemacetan di jalan raya serta mahalnya ongkos kendaraan umum, telah mendorong masyarakat untuk berbondong-bondong membeli sepeda motor. Banyaknya pengguna sepeda motor mengakibatkan lengangnya angkutan umum. Para supir angkot kerap mengeluh, jika di jam-jam siang penumpang yang naik sulit di dapat.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:27pt;text-align:justify;margin:0;">Pengendara motor di Jakarta terkenal suka ugal-ugalan dan tak tertib berlalu lintas. Jika dibandingkan dengan kota-kota lain, mungkin pengendara motor di Jakarta-lah yang paling beringas. Tak berhelem, memotong lajur sesukanya, jalan di jalur yang berlawanan, dan acap kali menerobos lampu merah. Yang muda-muda lain lagi perangainya. Untuk melampiaskan kejantanan mereka, labuh-labuh besar sering dijadikan tempat ajang pacu motor. Jalan Benyamin Sueb di Kemayoran, sering berubah fungsi menjadi sirkuit dadakan menjelang tengah malam minggu. Walau sudah banyak yang mati dari ajang pacu motor ini, anak-anak muda liar itu tak pernah jera untuk melakukannya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:27pt;text-align:justify;margin:0;">Omong-omong anak muda Jakarta, banyak cerita asik dari seputaran kegiatan mereka. Dari aksi brutal pacu motor <em>kayak</em> yang diatas, sampai aktivitas anak-anak alim yang sukanya berdiskusi. Di Jakarta, organisasi remaja bernuansa keislaman tak sulit dijumpai. Kalau anak-anak Menteng biasanya ngumpul di Mesijid Sunda Kelapa, maka anak-anak Kebayoran Baru biasa nongkrong di Mesjid Al-Azhar. Kegiatan merekapun aneka rupa, dari ngadain kajian, bakti sosial, ataupun mengajar adik-adik kecil mengaji. Bulan Ramadhan, bulan yang ditunggu-tunggu. Biasanya, di bulan penuh berkah ini, acara mereka seabrek-abrek. Dari acara sahur di jalan, buka puasa bersama anak yatim, sampai menyelenggarakan konser nasyid. Diantara semua organisasi pemuda, RISKA Sunda Kelapa yang paling getol.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:27pt;text-align:justify;margin:0;">Kegiatan mahasiswa Jakarta juga tak hanya demo-demo belaka. Mereka yang suka berdebat, biasa ngadain seminar dengan mengundang pembicara-pembicara kondang. Pembicara itu diharap mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang buntu ketika berdebat. Di UI dan UIN, acara-acara seminar macam ini marak digelar. Bagi mereka yang hobi musik, mengadakan festival di kampus merupakan suatu keharusan. Dari semua festival musik yang diselenggarakan mahasiswa Jakarta, mungkin Jazz Goes to Campus-nya FEUI yang paling ciamik.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:27pt;text-align:justify;margin:0;">Selain Ancol, Taman Mini, dan Ragunan, pusat perbelanjaan seperti mal dan plaza menjadi tujuan favorit keluarga Jakarta di akhir pekan. Selain sebagai tempat belanja, mal-mal di Jakarta banyak pula yang berfungsi sebagai tempat rekreasi. Konsep <em>one stop service </em>yang memadukan belanja dan rekreasi, telah menjadi pilihan bagi para pengelola mal untuk menarik pengunjung. Sebut saja misalnya Mal of Indonesia di Kelapa Gading. Mal dengan <em>theme park indoor</em> terbesar ini menghadirkan tempat belanja sekaligus wahana bermain bagi anak-anak. Bagi keluarga Jakarta yang super sibuk dan jarang bercengkerama, tempat-tempat semacam ini sering menjadi pilihan. Di satu tempat ini, semua anggota keluarga bisa memenuhi keperluannya masing-masing. Dari si Ibu yang hendak belanja, ayah yang ingin merasakan masakan luar rumah, hingga anak-anak yang ingin bermain. Sehingga tak heran jika kita berkunjung ke mal atau plaza di Jakarta pada akhir pekan, parkiran, <em>food court</em>, dan stan-stan belanja penuh dijubeli pengunjung.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:27pt;text-align:justify;margin:0;">Kaum sosialita ibukota, banyak di jumpai di tempat-tempat kongkow papan atas. Kalau jaman Belanda dulu para sosialita Batavia banyak berkumpul di Harmoni, maka kini arena kumpul telah menyebar ke beberapa tempat. Bagi mereka penggemar musik, mungkin kafe menjadi pilihannya. Untuk yang satu ini, Jalan Kemang yang paling favorit. Kalau mau lebih eksklusif lagi, mereka bisa mangkal di Hard Rock Café atau Bengkel Café, walaupun yang terakhir ini agak meredup pamornya. Kaum sosialita ibukota, biasanya orang-orang kelas menengah yang kelebihan uang. Mereka berpenampilan cik, wangi, dan rapi jali. Tunggangannya pun tak tanggung-tanggung, Mercy S-Class ! atau setidak-tidaknya sedan Camry keluaran baru. Bagi mereka, kumpul-kumpul bukan hanya sekadar gaya hidup, tapi juga menambah jejaring untuk menunjang karir dan kesuksesan bisnis.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:27pt;text-align:justify;margin:0;">Berdasarkan data yang diluncurkan litbang harian Kompas beberapa bulan lalu, ternyata jumlah penduduk Jabotabek yang berpenghasilan diatas 10 juta per bulan mencapai angka dua juta orang. Hal ini berarti jumlah kelas menengah di Jabotabek telah menyamai Singapura, bahkan melampaui jumlah di Manila atau Kuala Lumpur. Warga kelas menengah inilah yang telah membentuk dan mengakselerasi perekonomian Indonesia. Mereka enerjik, penuh talenta, serta lebih kritis jika dibandingkan generasi orang tua mereka. Di usia yang relatif muda, mereka telah mampu membeli real estat dan mobil pribadi.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:27pt;text-align:justify;margin:0;"><em>Booming</em> pasar keuangan serta IT dalam satu dekade terakhir, telah banyak melahirkan wirausaha muda yang handal. Satu dari sekian banyak profesi yang menghasilkan, adalah sebagai manajer investasi. Pertumbuhan transaksi saham yang mencapai 300 kali lipat jika dibandingkan sepuluh tahun lalu, telah melahirkan orang kaya-orang kaya baru. Penghasilan mereka yang konon mencapai 30 juta per bulan itu, menjadikan Jakarta sebagai salah satu metropolitan dunia yang menjanjikan.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/afandri81.wordpress.com/373/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/afandri81.wordpress.com/373/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/afandri81.wordpress.com/373/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/afandri81.wordpress.com/373/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/afandri81.wordpress.com/373/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/afandri81.wordpress.com/373/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/afandri81.wordpress.com/373/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/afandri81.wordpress.com/373/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/afandri81.wordpress.com/373/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/afandri81.wordpress.com/373/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=afandri81.wordpress.com&blog=1733555&post=373&subd=afandri81&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://afandri81.wordpress.com/2009/12/19/orang-orang-jakarta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4d915c9572438cee3e7045d27fc801fd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">afandri81</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://afandri81.files.wordpress.com/2009/12/hard-rock-kafe.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">hard rock kafe</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kelompok Usaha di Indonesia</title>
		<link>http://afandri81.wordpress.com/2009/12/19/kelompok-usaha-di-indonesia/</link>
		<comments>http://afandri81.wordpress.com/2009/12/19/kelompok-usaha-di-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 Dec 2009 23:45:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>afandri81</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ekonomi Bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[Bakrie Grup]]></category>
		<category><![CDATA[Bisnis Grup]]></category>
		<category><![CDATA[Bisnis Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Ekonomi Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Lippo Grup]]></category>
		<category><![CDATA[Salim Grup]]></category>
		<category><![CDATA[Sinar Mas Grup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://afandri81.wordpress.com/?p=369</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa waktu lalu, majalah Globe Asia merilis 100 besar kelompok usaha di Indonesia, yang diukur dari nilai penjualan yang diraih. Nama-nama beken seperti Salim, Sinar Mas, dan Lippo masih betah duduk di posisi sepuluh besar dalam daftar tersebut. Keadaan ini tak ubahnya dengan kondisi 15 tahun lalu di saat Indonesia masih menjadi macan ekonomi Asia. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=afandri81.wordpress.com&blog=1733555&post=369&subd=afandri81&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-indent:27pt;text-align:justify;margin:0;">Beberapa waktu lalu, majalah Globe Asia merilis 100 besar kelompok usaha di Indonesia, yang diukur dari nilai penjualan yang diraih. Nama-nama beken seperti Salim, Sinar Mas, dan Lippo masih betah duduk di posisi sepuluh besar dalam daftar tersebut. Keadaan ini tak ubahnya dengan kondisi 15 tahun lalu di saat Indonesia masih menjadi macan ekonomi Asia. Ketika itu, disamping perusahaan-perusahaan pelat merah, tiga kelompok usaha inilah yang menjadi penggerak ekonomi kita. Ketahanan mereka dalam menjalani bisnis patut diacungi jempol. Kalau dulu tiga kelompok usaha ini mendapat bekingan penuh dari pemerintah, maka keistimewaan itu kini tidak lagi. Mereka harus mampu memutar otak, untuk bertahan dan terus berkembang menghadapi pesaing-pesaing lokal dan mancanegara yang telah mulai merangsek pasar tanah air. Selain tiga itu, muncul nama-nama baru yang sepuluh tahun lalu tak pernah diperhitungkan. Kemunculan mereka bak meteor. Sebutlah saja Raja Garuda Mas atau Triputra Grup atau Para Grup. Satu dasawarsa lalu, kelompok-kelompok usaha itu tidaklah ada apa-apanya, malah Triputra Grup baru berdiri setelah krisis ekonomi 1998.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:27pt;text-align:justify;margin:0;">Dari kelompok usaha yang baru terbit, Bakrie Grup-lah yang paling fenomenal. Kelompok usaha yang digadangkan oleh Aburizal Bakrie ini, sepuluh tahun lalu baru memulai ekspansi usahanya. Tapi tengoklah kini, Bakrie Grup nongkrong di posisi kelima dalam daftar tersebut. Pencapaian ini juga telah mendudukan Aburizal sebagai manusia terkaya di Asia Tenggara pada tahun 2007 silam. Selain kelompok usaha nasional, beberapa kelompok usaha asing juga menghiasi daftar ini. Dalam daftar sepuluh besar, ada nama Jardine Matheson dan Phillip Morris International.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:27pt;text-align:justify;margin:0;">Pada daftar yang dirilis bulan Agustus 2009 tersebut, Jardine Matheson milik Henry Keswick duduk sebagai pemuncak. Jardine meraih penjualan sebesar US$ 10,2 milyar, atau naik 13% dari penjualan tahun sebelumnya yang hanya sebesar US$ 9,06 milyar. Masuknya Jardine dalam percaturan bisnis tanah air, dimulai dengan pencaplokan Astra Grup milik taipan gaek William Suryajaya. Setelah pengakuisisian itu, pembelian aset-aset nasional oleh Jardine terus berlanjut. Di Indonesia, konglomerasai bisnis Jardine-Astra sangatlah besar. Mereka menguasai bisnis otomotif (Astra International), perbankan (Bank Permata), properti (Gedung WTC), hotel (Mandarin Hotel), penjualan eceran (Hero Supermarket), dan farmasi (Guardian Pharmacy).</p>
<p> <span id="more-369"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:27pt;text-align:justify;margin:0;">Sebagai <em>runner-up</em>, ada kelompok usaha Salim. Kelompok bisnis yang pernah menjadi terbesar di Asia Tenggara ini membukukan penjualan sebesar US$ 9,1 milyar. Aset kelompok Salim memang telah menciut jika dibandingkan dengan masa-masa jayanya ketika Orde Baru dulu. Namun kekuatan Salim belumlah habis. Salim masih menguasai Indofood, perusahaan mi instan terbesar di dunia, Bogasari, Indocement, jaringan supermarket Indomaret dan Super Indo, serta perkebunan kelapa sawit di Sumatera. Otot-otot bisnis Salim bahkan telah merentang jauh hingga ke India dan Tiongkok.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:27pt;text-align:justify;margin:0;">Di posisi ketiga bertengger nama besar Sinar Mas Grup. Sejak krisis ekonomi tahun 1998 beberapa kelompok usaha besar Indonesia bertumbangan, tak terkecuali kelompok usaha Sinar Mas. Karena krisis inilah, Sinar Mas kehilangan pilar bisnis utamanya yakni Bank International Indonesia. BII, biasa bank itu disebut, harus dilego ke BPPN dan kini telah beralih tangan ke Temasek Holding asal Singapura. Kehilangan BII tak membuat Sinar Mas kehilangan akal. Untuk membangun kembali pilar bisnisnya melalui perbankan, Sinar Mas mendirikan Bank Sinar Mas. Selain mumpuni di bisnis keuangan, Sinar Mas juga menjadi pengembang yang handal. Proyek propertinya seperti kota mandiri Bumi Serpong Damai, diakui menjadi salah satu karya terbaik anak bangsa.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:27pt;text-align:justify;margin:0;">Djarum Grup duduk di posisi berikutnya. Kelompok usaha yang berawal dari bisnis rokok ini, kini telah mendiversifikasi usahanya ke bisnis perbankan dan properti. Bank Central Asia, bank swasta terbesar di tanah air yang sebelumnya menjadi kendaraan bisnis Salim Grup, kini berada di genggamannya. Dengan penguasaan ini, Djarum dengan leluasa mengekpansi proyek-proyek bisnisnya. Kompleks  Grand Indonesia, yang memadukan pertokoan, perkantoran, hotel, dan apartemen, kini menjadi aset properti paling prestisius yang dimiliki kelompok Djarum.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:27pt;text-align:justify;margin:0;">Peringkat kelima ditempati Bakrie Grup. Kelompok ini menjadi salah satu ikon kebangkitan pengusaha Indonesia. Imperium bisnis Bakrie menjulur ke seluruh Indonesia, mulai dari usaha pertambangan, properti, keuangan, hingga media. Lewat perusahaan pertambangan Bumi Resources, Bakrie menjadi pengusaha tambang batu bara terbesar kedua di dunia. Di pasar modal Indonesia, hanya <em>seven brothers</em> Bakrie Grup-lah yang bermain. Bahkan selama dua tahun terakhir, transaksi saham grup Bakrie mendominasi Bursa Efek Indonesia. Kapitalisasi pasar Bumi Resources-pun pernah menjadi yang terbesar, melampaui Telkom Indonesia. Dominannya Bakrie di lantai bursa kita, menjadikannya sebagai pembuat pasar yang mampu mengerek atau menjungkalkan indeks harga saham gabungan (IHSG).</p>
<p><strong>Berikut daftar lengkap 100 kelompok usaha terbesar tanah air :</strong></p>
<p>1.	Jardine Matheson, milik Henry Keswick (Inggris), pendapatan US$ 10.200 juta<br />
2.	Salim Grup, Anthony Salim, US$ 9.100 juta<br />
3.	Sinar Mas Grup, Eka Tjipta Widjaja, US$ 5.200 juta<br />
4.	Djarum Grup, Budi Hartono, US$ 4.900 juta<br />
5.	Bakrie Grup, Aburizal Bakrie, US$ 4.400 juta<br />
6.	Gudang Garam, Susilo Wonowidjojo, US$ 3.900 juta<br />
7.	Phillip Morris International, Phillip Morris (AS), US$ 3.600 juta<br />
8.	Lippo Grup, Mochtar Riady, US$ 3.300 juta<br />
9.	Raja Garuda Mas, Sukanto Tanoto, US$ 2.900 juta<br />
10.	Triputra Grup, Teddy P. Rachmat, US$ 2.700 juta<br />
11.	Khazanah Grup, Pemerintah Malaysia, US$ 2.600 juta<br />
12.	Para Grup, Chairul Tanjung, US$ 2.000 juta<br />
13.	Saratoga Capital, Edwin Soerjadjaja &amp; Sandiaga Uno, US$ 1.980 juta<br />
14.	Qatar Telecommunication, Pemerintah Qatar, US$ 1.900 juta<br />
15.	Barito Pacific, Prajogo Pangestu, US$ 1.800 juta<br />
16.	Sampoerna, Putera Sampoerna, US$ 1.600 juta<br />
17.	Unilever, Mavibel BV (Belanda/Inggris), US$ 1.560 juta<br />
18.	Charoend Pokphand Grup, Benjamin Jiaravanon (Thailand), US$ 1.320 juta<br />
19.	Medco Energy, Arifin Panigoro, US$ 1.300 juta<br />
20.	Vale (Inco), CVRD Inco Ltd (Brazil), US$ 1.300 juta<br />
21.	Gajah Tunggal, Sjamsul Nursalim, US$ 1.280 juta<br />
22.	Ometraco Grup, Handojo Santosa, US$ 1.280 juta<br />
23.	Panasonic Gobel Grup, Rachmat Gobel, US$ 1.210 juta<br />
24.	Panin Bank Grup, Mukmin Ali Gunawan, US$ 1.200 juta<br />
25.	Carrefour, Carefour (Prancis), US$ 1.200 juta<br />
26.	Temasek Grup, Pemerintah Singapura, US$ 1.150 juta<br />
27.	Standard Chartered Bank, SCB London (Inggris), US$ 958 juta<br />
28.	Wings Grup, Eddy William Katuari, US$ 940 juta<br />
29.	Aneka Kimia Raya Grup, Soegiarto Adikoesoemo, US$ 940 juta<br />
30.	Trakindo, A.H.K Hamami, US$ 902 juta<br />
31.	Kalbe Farma Grup, Boenjamin Setiawan, US$ 790 juta<br />
32.	Risjadson Grup, Armadian Tritunggal, US$ 750 juta<br />
33.	Berlian Laju Tanker, Hadi Surya, US$ 700 juta<br />
34.	Bhakti Investama, Harry Tanoesoedibjo, US$ 680 juta<br />
35.	Rajawali Grup, Peter Sondakh, US$ 656,8 juta<br />
36.	Heidelberg Cement Grup, Heidelberg Cement (Jerman), US$ 637 juta<br />
37.	Citra Tubindo, Kris T. Wiluan, US$ 625 juta<br />
38.	ABC Grup, Husain Djojonegoro, US$ 590 juta<br />
39.	Indorama Synthetics, Sri Prakash Lohia, US$ 553 juta<br />
40.	Sungai Budi, Widiarto, US$ 551 juta<br />
41.	Ramayana Lestari Sentosa, US$ 550 juta<br />
42.	Tunas Ridean, Tunas Andalan Pratama, US$ 550 juta<br />
43.	Maspion Grup, Alim Markus, US$ 510 juta<br />
44.	Samudera Indonesia, Shanti Poesposoetjipto, US$ 500,1 juta<br />
45.	Danone, Danone Grup, US$ 500 juta<br />
46.	Kompas-Gramedia, Jakob Oetama, US$ 482 juta<br />
47.	Holcim Indonesia, Holderfin (Swiss), US$ 480 juta<br />
48.	Bosowa Grup, Aksa Mahmud, US$ 471 juta<br />
49.	Lautan Luas, Adyansyah Masrin, US$ 446 juta<br />
50.	Tembaga Mulia Semanan, The Furukawa Electric (Jepang), US$ 440,5 jutas<br />
51.	Tempo Scan Pacific, Kartini Muljadi, US$ 436,8 juta<br />
52.	Kodeco Grup, Bambang Soesatyo, US$ 435 juta<br />
53.	Mulia Grup, Eka Tjandranegara, US$ 432 juta<br />
54.	Gemala &amp; Santini, Sofjan Wanandi, US$ 431,25 juta<br />
55.	Alfamart, Djoko Susanto, US$ 420 juta<br />
56.	Hadji Kalla Grup, Jusuf Kalla, US$ 415 juta<br />
57.	Sintesa Grup, Johnny Widjaja, US$ 410 juta<br />
58.	Bank Bukopin, Kopelindo, US$ 395 juta<br />
59.	Mayora Indah, Unita Branindo, US$ 390 juta<br />
60.	Persada Capital, Benny Sutrisno, US$ 360 juta<br />
61.	Davomas Abadi, Husein Sutjiadi, US$ 360 juta<br />
62.	Texmaco, HSBC-Fund Services (Inggris), US$ 340 juta<br />
63.	Modern Grup, Luntungan Honoris, US$ 333,8 juta<br />
64.	Agung Podomoro Grup, Trihatma K. Haliman, US$ 331 juta<br />
65.	OCBC-NISP, OCBC Bank Singapore (Singapura), US$ 326 juta<br />
66.	Sinar Sosro, Soegiharto Sosrodjojo, US$ 316 juta<br />
67.	Metrodata Grup, Hiskak Secakusuma, US$  310 juta<br />
68.	Sriwijaya Air, Chandra Lie, US$ 310 juta<br />
69.	Fajar Surya Wisesa, Intercipta Sempana, US$ 302,7 juta<br />
70.	Garudafood, Sudhamek, US$ 300 juta<br />
71.	Rodamas Grup, Tan Siong Kie, US$ 294 juta<br />
72.	Artha Graha Grup, Tomy Winata, US$ 294 juta<br />
73.	Hexindo/Hitachi Indonesia, Hitachi Construction (Jepang), US$ 280,8 juta<br />
74.	Arpeni Pratama Oceanline, Untoro Surya, US$ 279 juta<br />
75.	Truba Alam Manunggal, Alam Manunggal, US$ 257 juta<br />
76.	FKS Multi Agro, Era Investama Cemerlang, US$ 250 juta<br />
77.	Batavia Air, Yudiawan Tansari, US$ 240 juta<br />
78.	Voksel Electric, Perfect Prospect, US$ 238 juta<br />
79.	Ciputra Grup, Ciputra, US$ 227 juta<br />
80.	Busana Apparel, Marimutu Maniwanen, US$ 216 juta<br />
81.	Sucaco, Moda Sukma, US$ 213 juta<br />
82.	Fast Food Indonesia, Dick Gelael, US$ 210 juta<br />
83.	Emtek Grup, Eddy Sariaatmadja dan Fofo Sariaatmadja, US$ 210 juta<br />
84.	Sierad Produce, Harvest Agents, US$ 202 juta<br />
85.	Apac Citra Centertex, US$ 200 juta<br />
86.	Trias Sentosa, Adilaksa Manunggal, US$ 191 juta<br />
87.	Pan Brothers, Intiniaga Usahamakmur, US$ 181 juta<br />
88.	Malindo Feedmill, Dragon Amity, US$ 176 juta<br />
89.	Sat Nusapersada, Abidin Hasibuan, US$ 175 juta<br />
90.	OSO Grup, Oesman Sapta Oedang, US$ 175 juta<br />
91.	Indo Kordsa, Kordsa Global, US$ 173 juta<br />
92.	Sumi Indo Kabel, Sumitomo Electric Industry (Jepang), US$ 168 juta<br />
93.	Total Bangun Persada, Komajaya, US$ 165 juta<br />
94.	Gunung Agung Grup, Putra Masagung, US$ 164 juta<br />
95.	Dynaplast, Soebakti Hambali, US$ 164 juta<br />
96.	Surya Semesta Internusa, Union Sampoerna, US$ 155 juta<br />
97.	Panorama Leisure Grup, Satrijanto Tirtawisata, US$ 145 juta<br />
98.	ADR Grup, Adrindo Intiperkasa, US$ 139 juta<br />
99.	Alakasa Industrindo, Ryburn Investment, US$ 138 juta<br />
100.	Summarecon, Soetjipto Nagaria, US$ 135 juta          </p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/afandri81.wordpress.com/369/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/afandri81.wordpress.com/369/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/afandri81.wordpress.com/369/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/afandri81.wordpress.com/369/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/afandri81.wordpress.com/369/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/afandri81.wordpress.com/369/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/afandri81.wordpress.com/369/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/afandri81.wordpress.com/369/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/afandri81.wordpress.com/369/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/afandri81.wordpress.com/369/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=afandri81.wordpress.com&blog=1733555&post=369&subd=afandri81&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://afandri81.wordpress.com/2009/12/19/kelompok-usaha-di-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4d915c9572438cee3e7045d27fc801fd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">afandri81</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sejarah Sumatra pada Periode Klasik (3)</title>
		<link>http://afandri81.wordpress.com/2009/12/09/sejarah-sumatra-pada-periode-klasik-3/</link>
		<comments>http://afandri81.wordpress.com/2009/12/09/sejarah-sumatra-pada-periode-klasik-3/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Dec 2009 14:37:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>afandri81</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Kerajaan Pagaruyung]]></category>
		<category><![CDATA[Majapahit]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah Melayu]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah Sumatra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://afandri81.wordpress.com/?p=357</guid>
		<description><![CDATA[
Pada tahun 1100, kendali kerajaan Chola di India Selatan telah menghilang, dan membuat situasi politik India tidak stabil. Akibatnya pengaruh dan kekuatan jaringan perdagangan Tamil di utara Sumatra-pun melemah. Pada saat yang sama dinasti Song di China berada dalam tekanan kuat dari suku-suku Mongol di pedalaman. Tekanan ini mendorong para pedagang China untuk bermukim di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=afandri81.wordpress.com&blog=1733555&post=357&subd=afandri81&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://afandri81.files.wordpress.com/2009/12/patung-adityawarman1.jpg"><img src="http://afandri81.files.wordpress.com/2009/12/patung-adityawarman1.jpg?w=140&#038;h=254" alt="" title="Patung Adityawarman, Raja Pagaruyung" width="140" height="254" class="alignleft size-full wp-image-363" /></a>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:27pt;text-align:justify;margin:0;">Pada tahun 1100, kendali kerajaan Chola di India Selatan telah menghilang, dan membuat situasi politik India tidak stabil. Akibatnya pengaruh dan kekuatan jaringan perdagangan Tamil di utara Sumatra-pun melemah. Pada saat yang sama dinasti Song di China berada dalam tekanan kuat dari suku-suku Mongol di pedalaman. Tekanan ini mendorong para pedagang China untuk bermukim di bandar-bandar utara Sumatra dan menggantikan peran yang selama ini dijalankan orang-orang Tamil. Dibawah kekuasaan Xiazong (1163-1190), China mengembangkan armada angkatan laut yang kuat sekaligus mengembangkan armada perdagangan lintas benua yang mumpuni. Pada masa itu kapal-kapal China mengungguli kapal-kapal dagang negara lain, dan berlayar jauh dari Jepang hingga Teluk Persia. Armada dagang China yang besar itu, telah mengambil alih peran yang selama lima abad telah diperankan Sriwijaya dengan mantap. Perdagangan langsung China yang tak lagi menggunakan jasa-jasa Sriwijaya, telah mengempiskan pundi-pundi kerajaan secara signifikan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:27pt;text-align:justify;margin:0;">Perdagangan langsung China telah mendorong lepasnya kota-kota dagang Sriwijaya di utara Sumatra. Mengikuti contoh Kampe, kota-kota dagang seperti Samudera, Pasai, Perlak, Lamuri, dan Aceh, satu per satu melepaskan diri dari ikatan Sriwijaya untuk membangun negara yang terpisah. Di antara semua kerajaan-kerajaan baru tersebut, Samudera Pasai-lah yang terkuat. Samudera Pasai merupakan dua kota kembar yang didirikan oleh Marah Silu, seorang mualaf yang telah mengganti namanya menjadi Malik al-Saleh. Negara-kota yang berdiri diatas sendi-sendi Islam ini, mengirimkan dutanya ke China pada tahun 1281. Kemasyuran Samudera Pasai dimulai dengan pernikahan Malik al-Saleh dengan putri penguasa Perlak di penghujung abad ke-13. Kehadiran kerajaan baru ini telah menarik pedagang-pedagang Muslim, sekaligus mempercepat keruntuhan pelabuhan-pelabuhan Sriwijaya di semenanjung Malaysia.</p>
<p> <span id="more-357"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:27pt;text-align:justify;margin:0;">Pada tahun 1275, Sriwijaya yang telah sempoyongan kembali mengalami penyerangan dari Jawa. Sedangkan di semenanjung Malaysia, kekuatan Thailand semakin dalam menggerogoti Sriwijaya. Invasi Ram Khaemheng pada tahun 1293 atas Ligor, berlanjut kepada penaklukan Singora, Patani, Kedah, hingga seluruh semenanjung sampai ke Singapura. Kombinasi serangan dari dua kekuatan yang baru muncul itu, telah menamatkan riwayat imperium ini. Pada pertengahan abad ke-13, kerajaan Sriwijaya telah bersalin rupa menjadi Dharmasraya. Ekspedisi Pamalayu yang dilakukan Kertanegara telah menempatkan Dharmasraya berada dibawah kendali Jawa. Kematian Kertanegara serta invasi bangsa Mongol ke Jawa, memberikan kesempatan kepada Dharmasraya untuk melepaskan diri. Kerajaan ini kembali menjadi taklukan Jawa setelah Majapahit menyerbu Sumatra pada tahun 1347.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:27pt;text-align:justify;margin:0;">Sementara itu di pedalaman Minangkabau, federasi negeri-negeri kecil digabungkan oleh ikatan adat. Pertengahan abad ke-12, dua orang bijak Datuk Perpatih nan Sebatang beserta saudaranya Datuk Ketemanggungan merumuskan adat-adat Minangkabau yang matrilineal. Aliansi matrimonial antara federasi Minangkabau dengan Dharmasraya, telah melahirkan Dara Petak dan Dara Jingga. Dua putri ini kemudian dipersunting oleh raja-raja Majapahit, Raden Wijaya dan Adwajavarman. Dari pernikahan Dara Jingga dengan Adwajavarman lahirlah Adityawarman, seorang raja Pagaruyung yang legendaris. Sebelum naik tahta menjadi raja, Adityawarman telah menjabat komandan militer Majapahit dan memimpin sebuah penyerangan ke Bali. Di awal karirnya sebagai raja, Adityawarman hanyalah raja tempatan di bawah kekuasaan Majapahit. Namun atas sokongan orang-orang Minang, dia berhasil menjadikan Pagaruyung sebuah kerajaan yang merdeka. Anangawarman dipersiapkan sebagai penerusnya, namun tidak pernah naik tahta. Adat matrilineal Minang yang unik tak memungkinkan raja penerus berasal dari garis ayah, sehingga setelah kematian Adityawarman, Pagaruyung dipimpin oleh tiga orang raja yang dikenal dengan istilah <em>Rajo Tigo Selo</em>. Pada masa ini, banyak keluarga Minangkabau pergi merantau ke Malaysia, dan mendirikan negeri sendiri disana.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:27pt;text-align:justify;margin:0;">Sebuah perubahan besar terjadi di tahun 1368 ketika kekaisaran Ming naik tahta dan berhasil mengusir orang-orang Mongol dari China. Bergantinya penguasa China ini, telah membangkitkan kembali ambisi penguasa Melayu untuk memulihkan perdagangan Sriwijaya dengan Tiongkok. Pada tahun 1376, Wuni naik sebagai penguasa Jambi. Tindakan diplomatik pertamanya ialah menolak pengaruh Majapahit di Sumatra. Namun usaha Wuni inipun gagal dengan adanya penyerangan Jawa atas Jambi dan Palembang. Salah satu pemimpin pemberontakan, Parameswara, berhasil meloloskan diri dan lari menuju Singapura. Di Singapura, putra Palembang itu membunuh penguasa kota berkebangsaan Thai. Kejadian ini menimbulkan kemarahan penguasa Thai di Ayutthaya, dengan memburu Parameswara. Dalam keadaan terjepit, Parameswara melarikan diri ke Malaka. Pada tahun 1402, atas dukungan Orang Laut, Parameswara membangun kerajaan Melayu yang baru, Malaka. Sepanjang abad ke-15, kerajaan ini mendominasi Selat Malaka dan mengusir kekuasaan Thai dan Jawa dari perairan itu. Kejayaan Malaka berlangsung hingga 1511 disaat Albuquerque merampas kota ini dari tangan orang-orang Melayu. Periode klasik sepanjang tujuh abad ini, merupakan masa emas bagi peradaban Sumatra, dan pencapaian tersebut tak pernah terulang lagi hingga saat ini.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/afandri81.wordpress.com/357/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/afandri81.wordpress.com/357/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/afandri81.wordpress.com/357/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/afandri81.wordpress.com/357/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/afandri81.wordpress.com/357/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/afandri81.wordpress.com/357/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/afandri81.wordpress.com/357/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/afandri81.wordpress.com/357/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/afandri81.wordpress.com/357/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/afandri81.wordpress.com/357/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=afandri81.wordpress.com&blog=1733555&post=357&subd=afandri81&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://afandri81.wordpress.com/2009/12/09/sejarah-sumatra-pada-periode-klasik-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4d915c9572438cee3e7045d27fc801fd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">afandri81</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://afandri81.files.wordpress.com/2009/12/patung-adityawarman1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Patung Adityawarman, Raja Pagaruyung</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sejarah Sumatra pada Periode Klasik (2)</title>
		<link>http://afandri81.wordpress.com/2009/12/09/sumatra-pada-periode-klasik-ii/</link>
		<comments>http://afandri81.wordpress.com/2009/12/09/sumatra-pada-periode-klasik-ii/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Dec 2009 14:19:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>afandri81</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Kerajaan Chola]]></category>
		<category><![CDATA[Palembang]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah Melayu]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah Sumatra]]></category>
		<category><![CDATA[Sriwijaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://afandri81.wordpress.com/?p=353</guid>
		<description><![CDATA[Samaratungga, merupakan anak-cucu dari wangsa Syailendra yang telah berkuasa di Jawa sejak tahun 752. Dia merupakan pengganti Wisnu sebagai maharaja Sriwijaya, dan untuk memperkuat kekuasaannya, ia menikahi Tara putri Dharmasetu. Di pedalaman Kedu yang permai, Samaratungga menghadapi masalah yang cukup pelik. Loyalitas wangsa Sanjaya dan tuan-tuan tanah tak lagi berpihak kepadanya. Mencoba mengakhiri huru-hara ini, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=afandri81.wordpress.com&blog=1733555&post=353&subd=afandri81&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><div id="attachment_367" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://afandri81.files.wordpress.com/2009/12/relief-kapal.jpg"><img src="http://afandri81.files.wordpress.com/2009/12/relief-kapal.jpg?w=300&#038;h=228" alt="" title="Relief Kapal" width="300" height="228" class="size-full wp-image-367" /></a><p class="wp-caption-text">Relief Kapal Sriwijaya pada Candi Borobudur</p></div>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:27pt;text-align:justify;margin:0;">Samaratungga, merupakan anak-cucu dari wangsa Syailendra yang telah berkuasa di Jawa sejak tahun 752. Dia merupakan pengganti Wisnu sebagai maharaja Sriwijaya, dan untuk memperkuat kekuasaannya, ia menikahi Tara putri Dharmasetu. Di pedalaman Kedu yang permai, Samaratungga menghadapi masalah yang cukup pelik. Loyalitas wangsa Sanjaya dan tuan-tuan tanah tak lagi berpihak kepadanya. Mencoba mengakhiri huru-hara ini, dia memperkuat aliansi dengan menikahkan putrinya Paramodavardhani dengan Rakai Pikatan, seorang putra raja Sanjaya, Rakai Garung. Usaha ini tak berbuah hasil, malah Rakai Pikatan dengan bantuan istrinya berhasil mengusir Balaputra, anak Samaratungga yang lain sekaligus pengganti tahtanya, kembali ke Palembang. Tahun itu berangka 850. Dengan terusirnya Balaputra, berakhir pula kekuasaan Sriwijaya selama satu abad di Jawa Tengah.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:27pt;text-align:justify;margin:0;">Rakai Pikatan yang ambisius dengan cepat memutus ikatan Sriwijaya dengan Jawa. Naiknya Pikatan, memaksa orang-orang Jawa pengikut Balaputra untuk angkat kaki, dan merekapun bermigrasi ke Jawa Barat untuk mendirikan kerajaan Banten Girang. Lepasnya Jawa dari Sriwijaya mendorong raja-rajanya untuk memperkuat kerajaan, alhasil pada abad ke-10 Jawa dengan percaya dirinya menjadi penantang Sriwijaya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:27pt;text-align:justify;margin:0;">Berdirinya Banten Girang yang menguasai Banten dan Lampung, ternyata bagai duri dalam daging. Banten Girang yang diberikan kepercayaan untuk berdagang lada di wilayah Sriwijaya, ternyata berbalik arah menyokong saudara Jawa-nya, Dharmawangsa, untuk menyerang Palembang. Tahun 990, untuk pertama kalinya Jawa menyerang Sumatra. Penyerangan itu memporakporandakan Palembang, walau tak berakibat jatuhnya Sriwijaya ke tangan Jawa. Mungkin para penyerang Jawa itu tak pernah tahu, sistem kerajaan Melayu ini tak sama dengan mereka. Sriwijaya memiliki dua hal yang membuat mereka bisa bertahan lama walau sering diserbu musuh. <span id="more-353"></span> Struktur organisasi yang tidak bergantung pada satu titik ibukota serta aliansi yang kuat dengan raja-raja China, memudahkan punggawa-punggawa Sumatra untuk memukul balik prajurit Jawa. Dengan penyerangan ini, Sriwijaya murka, dan Banten Girang-pun dibasmi habis. Kemarahan raja Culamanivarmadewa yang diserang, tak hanya sebatas itu. Dia pun merencanakan sebuah pembalasan terhadap Jawa dengan sebuah taktik yang jitu. Tanpa harus mengerahkan pasukan yang besar, dia menyokong sebuah pemberontakan pangeran Jawa, Wunawari. Pada 1006, Wunawari melancarkan serangan mendadak ke keraton Dharmawangsa saat istana tersebut sedang melakukan pesta pernikahan. Semua anggota keluarga bangsawan Jawa tersebut dibantai, terkecuali bangsawan muda bernama Airlangga yang berhasil meloloskan diri. Penyerangan balasan ini melegakan Culamanivarmadewa yang sekaligus mengembalikan marwah kebesaran Sriwijaya di panggung politik Timur Jauh.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:27pt;text-align:justify;margin:0;">Pada tahun 1005, Rajaraja I pemimpin kerajaan terkuat India masa itu, Chola, menghadiahi Culamanivarmadewa sebuah desa Budha berkuil di Negapatnam, Tanjore. Desa dengan kuil ini mungkin dibangun untuk kenyamanan para pendeta Budha Sriwijaya yang acapkali mengunjungi India dan Srilanka untuk kepentingan rohani dan bisnis. Hadiah ini menandakan bahwa pentingnya Sriwijaya bagi penguasa-penguasa India ketika itu.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:27pt;text-align:justify;margin:0;">Namun kebaikan itu berubah 1800 ketika pada tahun 1025, kerajaan Tamil ini menyerang Sriwijaya. Nafsu ekspansionis Rajendra Chola, penerus Rajaraja I yang telah menaklukan kerajaan Palawa dan Pandyas, telah mendorongnya untuk pergi berperang ke seberang lautan. Ke Sumatera, selain menjarah harta Palembang, Chola juga ingin membantu jaringan komersial Tamil yang diberlakukan sewenang-wenang oleh penguasa Sriwijaya. Ketidakpuasan pedagang-pedagang Tamil yang banyak berbasis di Barus ini, dikarenakan tingginya pajak yang ditarik Sriwijaya atas kargo-kargo mereka yang berdagang di Selat Malaka. Penyerbuan Chola ke Palembang dan Kedah begitu mendadak. Selain itu rute kapal perang Chola yang melalui pesisir barat dan kemudian memutari selatan Sumatra melewati Selat Sunda, mengejutkan penguasa-penguasa laut Sriwijaya. Kekuatan Chola jauh lebih besar dari kekuatan Jawa yang menyerbu Palembang 35 tahun sebelumnya, sehingga dalam penyerangan itu raja Sangramavijayottungavarman tertawan dan seluruh kota luluh lantak. Dalam tempo tak begitu lama, Rajendra menjarah seluruh kota-kota dagang Melayu di kedua belah sisi Selat Malaka, dan pulang dengan rampasan perang yang melimpah ruah. Dalam kekacauan ini, Sri Deva naik tahta dan berhasil memulihkan keadaan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:27pt;text-align:justify;margin:0;">Penjarahan Chola merupakan titik balik kejayaan Sriwijaya dan awal mula dari kemunduran imperium orang Sumatra. Konsekuensi dari penyerangan ini antara lain, semakin menguatnya jaringan dagang Tamil di utara Sumatra. Hal ini ditandai dengan diberikannya hak pemungutan pajak kepada persekutuan dagang Tamil. Penyerbuan ini juga meruntuhkan wibawa Sriwijaya di mata vassal-vassalnya. Penjarahan Chola telah lewat satu generasi. Orang-orang Sumatra yang pandai mengambil hati, dengan cepat melupakan kejadian itu dan berpikir strategis. Alih-alih membalas dendam,  Sriwijaya malah membangun aliansi baru dengan Chola. Aliansi ini nantinya akan banyak membantu Sriwijaya dalam proses pemulihan kekuasaannya atas vassal-vassalnya yang ambisius.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:27pt;text-align:justify;margin:0;">Tahun 1092-1093, ibukota kerajaan berpindah ke Jambi. Seiring dengan berpindahnya ibukota ke Jambi, untuk pertamakalinya Palembang berada di bawah kekuasaan Malayu yang dulu menjadi taklukannya. Pergeseran dari Palembang ke Jambi sudah mulai terlihat sejak pertengahan abad ke-10, disaat penguasa Palembang sibuk memulihkan kota yang porak poranda. Kedekatan Jambi dengan sumber emas di pedalaman Minangkabau dan adanya penawaran perlindungan yang lebih baik kepada para pedagang dari penguasa Malayu, menjadi alasan kepindahan ibukota Sriwijaya ke Jambi. Dua abad berikutnya menjadi saksi dari kejayaan kota tersebut. Kuil-kuil baru dibangun dan yang telah uzur direstorasi. Sejumlah candi dan biara serta tempat suci sepanjang lebih lima kilometer di tepian Batanghari, menjadi tanda kemakmuran Jambi pada masa itu. Sebaliknya peran Palembang menurun drastic, dan hanya menjadi kota pelabuhan yang tak berarti.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/afandri81.wordpress.com/353/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/afandri81.wordpress.com/353/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/afandri81.wordpress.com/353/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/afandri81.wordpress.com/353/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/afandri81.wordpress.com/353/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/afandri81.wordpress.com/353/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/afandri81.wordpress.com/353/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/afandri81.wordpress.com/353/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/afandri81.wordpress.com/353/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/afandri81.wordpress.com/353/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=afandri81.wordpress.com&blog=1733555&post=353&subd=afandri81&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://afandri81.wordpress.com/2009/12/09/sumatra-pada-periode-klasik-ii/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4d915c9572438cee3e7045d27fc801fd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">afandri81</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://afandri81.files.wordpress.com/2009/12/relief-kapal.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Relief Kapal</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sejarah Sumatra pada Periode Klasik (1)</title>
		<link>http://afandri81.wordpress.com/2009/11/24/sejarah-sumatra-pada-periode-klasik/</link>
		<comments>http://afandri81.wordpress.com/2009/11/24/sejarah-sumatra-pada-periode-klasik/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Nov 2009 13:55:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>afandri81</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Malayu]]></category>
		<category><![CDATA[Melayu]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah Malaysia]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah Sumatra]]></category>
		<category><![CDATA[Sriwijaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://afandri81.wordpress.com/2009/11/24/sejarah-sumatra-pada-periode-klasik/</guid>
		<description><![CDATA[
Kisah Sumatra pada periode klasik sangat jarang dibahas dalam literatur-literatur sejarah nasional. Kejayaan imperium orang-orang Sumatra yang akbar, seolah-olah tenggelam dalam bahasan panjang sejarah Jawa. Pola pandang Jawasentris dalam banyak kajian sejarah Indonesia, telah menutup informasi-informasi penting seputar kehidupan masyarakat Sumatra. Dengan merujuk pada catatan-catatan China, India, dan Arab, serta beberapa prasasti yang terserak di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=afandri81.wordpress.com&blog=1733555&post=336&subd=afandri81&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://afandri81.files.wordpress.com/2009/11/srivijaya-empire1.jpg"><img src="http://afandri81.files.wordpress.com/2009/11/srivijaya-empire1.jpg?w=290&#038;h=270" alt="" title="Srivijaya Empire" width="290" height="270" class="alignleft size-full wp-image-344" /></a>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:27pt;text-align:justify;margin:0;">Kisah Sumatra pada periode klasik sangat jarang dibahas dalam literatur-literatur sejarah nasional. Kejayaan imperium orang-orang Sumatra yang akbar, seolah-olah tenggelam dalam bahasan panjang sejarah Jawa. Pola pandang Jawasentris dalam banyak kajian sejarah Indonesia, telah menutup informasi-informasi penting seputar kehidupan masyarakat Sumatra. Dengan merujuk pada catatan-catatan China, India, dan Arab, serta beberapa prasasti yang terserak di sepanjang pulau Sumatra, kita akan menengok sejarah bangkit dan jatuhnya orang-orang Melayu yang bermukim di pulau tersebut sejak abad ke-7 hingga ke-15. Masa tersebut, yang dikategorikan oleh sejarawan Krom sebagai masa klasik, merujuk pada masa terbentuknya kerajaan Malayu hingga bangkitnya kerajaan Aceh di ujung utara Sumatra.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:27pt;text-align:justify;margin:0;">Dalam catatan musafir-musafir mancanegara, Suwarnadwipa atau Zabag atau Sanfotsi, merupakan tempat penting dalam rute perdagangan mereka. Pedagang-pedagang Arab dan Persia kerap mendapatkan bumbu-bumbu masak yang dibutuhkan pasaran Eropa dari wilayah ini. Sedangkan raja-raja China dan India membutuhkan mineral-mineral yang banyak dikandung oleh pulau emas ini. Kerajaan Kantoli di Sumatera Selatan yang mengalami keruntuhan pada pertengahan abad ke-6, mengakhiri periode kuno Sumatra. Selanjutnya, sejarah Sumatra masuk pada fase ekspansi dan kedewasaan kultural kerajaan Budha dan Hindu.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:27pt;text-align:justify;margin:0;">Pada awal abad ke-7, persekutuan antara komunitas Batanghari dan pedagang-pedagang Minangkabau yang bermukim di lereng pegunungan Bukit Barisan, membentuk sebuah pemerintahan yang bernama Malayu. Pelabuhan dagang Malayu diperkirakan berada di Jambi, hilir sungai Batanghari. Kehidupan kerajaan disokong oleh kegiatan perdagangan emas yang banyak diusahakan oleh masyarakat pedalaman Minangkabau di hulu sungai Batanghari. Pedagang-pedagang ini menggunakan jalur Batanghari untuk mengangkut barang dagang mereka dari pedalaman ke muara Jambi di pesisir timur Sumatra, untuk ditukarkan dengan produk-produk impor dari mancanegara.</p>
<p><span id="more-336"></span> </p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:27pt;text-align:justify;margin:0;">Kronik China mengungkapkan bahwa duta pertama Malayu dikirim ke China pada tahun 644. Sumber tersebut juga mencatat bahwa raja-raja Malayu merupakan pemeluk Hindu, yang selalu bersaing sengit dengan jiran mereka Sriwijaya yang memeluk Budha. Aktifitas perdagangan Malayu mengganggu ambisi politik Sriwijaya, yang berada sekitar 300 km di selatan Malayu. Pada tahun 682, Sriwijaya dibawah kekuasaan Jayanasa, menyerbu dan meluluhlantakan Malayu. Mengikuti penaklukan ini, selanjutnya Malayu menjadi vassal Sriwijaya hingga 500 tahun kemuka.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:27pt;text-align:justify;margin:0;">Sriwijaya, satu-satunya imperium yang pernah dimiliki orang Melayu, merupakan kerajaan paling lama bertahan dalam sejarah negara-negara Nusantara. Tak kurang selama 6 abad, imperium yang membentang dari Sumatra, semenanjung Malaysia, Jawa, hingga Kamboja ini kokoh berdiri. Di pertengahan abad ke-7, komunitas-komunitas pelaut yang bermukim di sepanjang alur sungai Musi membangun sebuah pemukiman baru di Palembang. Mereka menamakan kedatuan tersebut Sriwijaya, yang dalam bahasa Sanskerta bermakna kemenangan yang menjanjikan. Letak geografis Sriwijaya yang menguntungkan serta semaraknya sistem perdagangan upeti dengan daratan China, menjadikan Sriwijaya makmur dan kuat. Selain faktor-faktor tersebut, sifat masyarakat Melayu yang dinamis serta mau bangkit dari kekalahan, menjadikan imperium ini bisa tegak bertahan lama.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:27pt;text-align:justify;margin:0;">Abad ke-8 hingga ke-10, menandai masa jaya imperium ini. Pada masa-masa ini, Sriwijaya mengontrol perdagangan antara China hingga India. Tak adanya kapal-kapal China yang melakukan perdagangan langsung dengan negara-negara Nusantara dan India, dimanfaatkan Sriwijaya untuk menjadi pedagang perantara bagi pasaran China yang luas. Selain itu, letak pelabuhan Palembang yang strategis, telah mendatangkan pajak yang cukup besar ke dalam pundi-pundi kerajaan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:27pt;text-align:justify;margin:0;">Selain menjadikan Sriwijaya sebagai kerajaan dagang yang handal, angkatan laut yang kuat telah memungkinkan Sriwijaya untuk menguasai wilayah-wilayah seberang lautan. Orang Laut yang lihai dan pemberani itu, menjadi penyokong utama angkatan laut Sriwijaya. Berkat jasa mereka, Sriwijaya melakukan ekspansi besar-besaran ke Bangka, Tarumanagara, dan Holing. Prasasti Kota Kapur mencatat, bahwa pada tahun 686 Masehi pasukan Sriwijaya berangkat ke medan perang melawan negeri Jawa yang tak mengakui kebesarannya. Penaklukan Sriwijaya atas Bangka dan Tarumanagara, beserta Holing di Jawa Tengah merupakan kelanjutan atas penaklukan Malayu yang menjadi bagian dari jaringan dagang Hindu, pesaing berat Sriwijaya. Penaklukan Sriwijaya atas tanah Jawa juga mengakibatkan berpindahnya sebagian komunitas Melayu ke pulau Jawa. Keluarga Sailendra yang telah turun temurun menetap di Sumatra, sejak pertengahan abad ke-8 menjadi pemain politik utama di Jawa. Permainan politik keluarga Sailendra telah mengukuhkan kekuasaan Sriwijaya di Jawa hingga dua abad lamanya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:27pt;text-align:justify;margin:0;">Selain mematahkan jaringan perdagangan Hindu yang kuat, Sriwijaya juga menaklukan Langkasuka di semenanjung Malaysia. Pada awalnya Langkasuka merupakan persekutuan Sriwijaya yang kukuh. Keahlian diplomasi orang-orang Melayu dan kemakmuran Sriwijaya yang menjanjikan, telah mempengaruhi Langkasuka untuk menjadi vassal Sriwijaya pada masa-masa selanjutnya. Setelah Langkasuka, penaklukan Pan-Pan dan Kamboja menjadi prioritas berikutnya. Beberapa sumber menyebut, sebelum tahun 775 Pan-Pan telah menjadi taklukan Sriwijaya. Dengan takluknya kerajaan ini maka untuk pertama kalinya ibu kota kerajaan pindah keluar Palembang. Berpindahnya ibu kota kerajaan ke Nakhon Si Thammarat (Ligor), mungkin untuk mempermudah konsolidasi kerajan-kerajaan daratan Asia Tenggara kedalam imperium Sriwijaya. Sumber-sumber Arab mengatakan bahwa armada Sriwijaya dibawah pemerintahan Sangramadhananjaya, menyerang sebuah pusat pemerintahan Kamboja di hilir sungai Mekong diantara tahun 782-790. Dengan terintegrasinya Langkasuka, Pan-Pan, dan Kamboja kedalam imperium besar Sriwijaya, praktis hanya dalam waktu satu abad kerajaan ini telah menguasai wilayah seluas 700.000 km2, dan menduduki semua kerajaan-kerajaan penting Asia Tenggara pada masa itu.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:27pt;text-align:justify;margin:0;">Tak seperti halnya Jayanasa dan Sangramadhananjaya yang ekspansionis, Samaratungga yang bertahta pada tahun 792, lebih fokus pada pengembangan kebudayaan dan agama. Hal ini ditandai dengan banyaknya candi yang dibangun. Yang termasyur diantara candi-candi tersebut adalah Borobudur. Selain patung Budha, pada candi itu ditemukan pula relief-relief yang mengisahkan kejayaan Sriwijaya sebagai kerajaan maritim Nusantara. Kegiatan perdagangan orang-orang Melayu yang membentang dari Pattani hingga Maluku, telah mengantarkan pula kebudayaan dan bahasa Melayu ke seluruh Nusantara. Beberapa sejarawan Eropa juga mengungkapkan bahwa kegiatan penyebaran budaya Melayu ini tidak hanya terjadi di seputaran Nusantara saja, tetapi juga mencapai Sri Lanka dan Madagaskar yang berjarak 5.000 mil dari Palembang.</p>
<p>sumber peta : www.wikipedia.org</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/afandri81.wordpress.com/336/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/afandri81.wordpress.com/336/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/afandri81.wordpress.com/336/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/afandri81.wordpress.com/336/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/afandri81.wordpress.com/336/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/afandri81.wordpress.com/336/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/afandri81.wordpress.com/336/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/afandri81.wordpress.com/336/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/afandri81.wordpress.com/336/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/afandri81.wordpress.com/336/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=afandri81.wordpress.com&blog=1733555&post=336&subd=afandri81&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://afandri81.wordpress.com/2009/11/24/sejarah-sumatra-pada-periode-klasik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4d915c9572438cee3e7045d27fc801fd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">afandri81</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://afandri81.files.wordpress.com/2009/11/srivijaya-empire1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Srivijaya Empire</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Politisi Minang dan Kabinet Beraroma Rendang</title>
		<link>http://afandri81.wordpress.com/2009/11/17/politisi-minang-dan-kabinet-beraroma-rendang/</link>
		<comments>http://afandri81.wordpress.com/2009/11/17/politisi-minang-dan-kabinet-beraroma-rendang/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Nov 2009 13:27:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>afandri81</dc:creator>
				<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[Politik Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Menteri Minang]]></category>
		<category><![CDATA[Kabinet Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Perdana Menteri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://afandri81.wordpress.com/?p=329</guid>
		<description><![CDATA[Kiprah politisi Minang dalam kancah pemerintahan Indonesia cukup menarik untuk disimak. Ketertarikan tersebut mengingat kecilnya jumlah etnis Minang dalam populasi Indonesia, namun mampu memainkan peranan penting dalam roda pemerintahan. Peranan ini sangat nampak mencolok pada masa perjuangan kemerdekaan dan demokrasi parlementer, ketika banyak orang Minang yang duduk sebagai perdana menteri serta mengisi pos-pos penting kabinet. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=afandri81.wordpress.com&blog=1733555&post=329&subd=afandri81&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><div id="attachment_333" class="wp-caption alignleft" style="width: 185px"><a href="http://afandri81.files.wordpress.com/2009/11/kabinet-hatta-i1.jpg"><img src="http://afandri81.files.wordpress.com/2009/11/kabinet-hatta-i1.jpg?w=175&#038;h=100" alt="" title="Situasi Rapat Kabinet Hatta I" width="175" height="100" class="size-full wp-image-333" /></a><p class="wp-caption-text">Situasi Rapat Kabinet Hatta I</p></div>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:27pt;text-align:justify;margin:0;">Kiprah politisi Minang dalam kancah pemerintahan Indonesia cukup menarik untuk disimak. Ketertarikan tersebut mengingat kecilnya jumlah etnis Minang dalam populasi Indonesia, namun mampu memainkan peranan penting dalam roda pemerintahan. Peranan ini sangat nampak mencolok pada masa perjuangan kemerdekaan dan demokrasi parlementer, ketika banyak orang Minang yang duduk sebagai perdana menteri serta mengisi pos-pos penting kabinet. 15 tahun awal berdirinya republik Indonesia, bisa dikatakan sebagai era keemasan politik orang Minang. Pada periode 1945-1960, politisi Minang tidak hanya duduk di posisi strategis pemerintahan, namun juga cukup mewarnai kebijakan politik negara. Di penghujung dekade 1950-an era kejayaan tersebut berakhir. Dimulai dengan lengsernya Hatta dari kursi wakil presiden (1956), yang diikuti oleh gerakan koreksi PRRI (1958-1959), serta dibubarkannya partai Masyumi dan PSI (1960), dua partai yang menjadi motor politik orang-orang Minang.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:27pt;text-align:justify;margin:0;">Sejak negeri ini merdeka, hingga kini telah 39 kabinet yang terbentuk. Angka 39 itu, tanpa mengikutsertakan kabinet sementara Susanto dan kabinet tandingan PRRI, yang hanya bersifat <em>ad hoc</em>. Dalam 39 kali pembentukan kabinet, tak pernah sekalipun orang-orang Minang absen duduk sebagai menteri. Kabinet Presidensial yang terbentuk pada tanggal 2 September 1945, merupakan kabinet pertama yang dibentuk oleh pemerintahan Soekarno-Hatta. Pada masa ini, Mohammad Amir putra kelahiran Sawahlunto, tercatat sebagai orang Minang pertama yang diangkat menjadi menteri.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:27pt;text-align:justify;margin:0;">Berdasarkan data statistik, populasi etnis Minangkabau hanyalah berjumlah 2,7% dari seluruh jumlah penduduk Indonesia, namun jumlah keterwakilan mereka dalam kabinet jauh melampaui angka tersebut. Sekurang-kurangnya 94 posisi kementerian diisi oleh orang-orang Minang, angka tersebut belumlah ditambah dengan posisi menteri muda serta pejabat setingkat menteri yang pernah ada dalam beberapa kabinet. Jumlah itu setara dengan 8% dari seluruh posisi kementerian yang ada, atau 3 kali lebih banyak dari jumlah orang Minang yang bermukim di Indonesia. Dalam sejarah kabinet, jumlah menteri dari ranah Minang melampaui etnis Sunda, Melayu, Madura, Bugis, dan Batak yang secara populasi di atas mereka. Jumlah keterwakilan orang Minang, hanya kalah dari orang-orang Jawa yang memang mayoritas di republik ini.</p>
<p> <span id="more-329"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:27pt;text-align:justify;margin:0;">Angka-angka yang mencolok akan nampak lagi ketika kita melihat puncak piramida kabinet. Dari 39 kabinet yang terbentuk, 8 kali dipimpin oleh putra-putra Minang, atau setara dengan 20,5%. Para pemimpin ini mengomandani kabinet di usia yang relatif muda. Sutan Syahrir (mengomandani 3 kabinet dan mulai memimpin pada usia 36 tahun), Mohammad Hatta (3 kabinet, 46 tahun), Abdul Halim (1 kabinet, 38 tahun), Mohammad Natsir (1 kabinet, 42 tahun). Selain menjadi pemimpin kabinet, pos-pos kementerian penting seperti menteri luar negeri, menteri dalam negeri, dan menteri pertahanan, banyak ditempati orang-orang Minang. Pos kementerian luar negeri, 8 kali ditempati orang-orang Minang. Kecakapan mereka dalam melobi, serta menguasai aneka macam bahasa asing, menjadikan posisi ini sering diamanahi kepada putra-putra Minang. Para diplomat ulung tersebut ialah Agus Salim (4 kali menjadi menteri luar negeri), Sutan Syahrir (3 kali), dan Mohammad Hatta (1 kali). Pos kementerian dalam negeri, 4 kali diisi orang-orang Minang. Mereka adalah Sutan Syahrir, Assaat, Hazairin, dan Gamawan Fauzi. Sedangkan menteri pertahanan hanya 2 kali dipegang orang Minang, yakni oleh Mohammad Hatta dan Abdul Halim. Selain tiga pos kementerian tersebut, posisi kementerian bergengsi lainnya yakni kementerian ekonomi juga sering diisi orang-orang Minang. Mereka yang duduk dikementerian tersebut antara lain Adnan Kapau Gani, Mohammad Yamin, Chaerul Saleh, A.R. Suhud, dan Rizal Ramli.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:27pt;text-align:justify;margin:0;">Chaerul Saleh merupakan politikus Minang yang paling rajin duduk di kursi kabinet. Chaerul hadir dalam 7 kabinet, berturut-turut dari era Djuanda sampai Dwikora II. Posisi Chaerul dalam kabinet-pun beraneka rupa. Dalam 3 kabinet ia dipercaya sebagai wakil perdana menteri, 4 kabinet sebagai ketua MPR, dan 9 posisi menteri serta 1 posisi menteri muda. Pada masa Demokrasi Terpimpin, Chaerul-lah politikus Minang yang paling dipercaya presiden. Pada masa ini, bersama Mohammad Yamin, dia menjadi bagian pemerintah, disaat politisi Minang lainnya menjadi oposan utama Soekarno. Orang Minang lainnya yang menonjol dalam pemerintahan ialah Emil Salim. Putra Koto Gadang ini menjadi orang terlama yang mengenyam kursi kabinet Indonesia. Selama 22 tahun sejak 1971 hingga 1993, Emil berkiprah. Jika Chaerul menjadi orang kepercayaan Soekarno, maka Emil menjadi tangan kanan Soeharto. Emil bersama Widjojo Nitisastro, Ali Wardhana, dan J.B. Sumarlin, menjadi ekonom kepercayaan dalam kabinet Pembangunan Soeharto. Emil duduk sejak kabinet Pembangunan I hingga Pembangunan V, dengan posisi yang bermacam-macam pula.</p>
<p><strong>Kabinet Beraroma Rendang</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:27pt;text-align:justify;margin:0;">Dalam sejarah Indonesia, beberapa kali susunan kabinet kental bernuansa Minang, yang kami istilahkan sebagai kabinet beraroma rendang. Kabinet-kabinet beraroma rendang yaitu; Kabinet Syahrir I, Kabinet Syahrir III, Kabinet Hatta I, Kabinet Natsir, dan Kabinet Ali Sastroamijoyo I. Di lima kabinet tersebut, lebih dari seperlima kursi menteri diisi orang-orang Minang. Bahkan pada Kabinet Sjahrir I aroma rendang kental terasa, dimana dari 14 kursi menteri 4 dipegang oleh putra-putra Minang. Ini berarti 29% komposisi kabinet diisi oleh orang Minang. Selain jumlah yang cukup mencolok, piramida atas kabinet, yakni posisi perdana menteri, menteri luar negeri, dan menteri dalam negeri, dipercayai kepada politisi Minang. Pada kabinet Hatta I-pun, aroma rendang sangat terasa. Pada era ini, sekali lagi puncak piramida kabinet dipegang orang-orang Minang. 4 dari 16 kursi menteri yang tersedia, diisi politisi Minang. Hatta menjabat perdana menteri dan menteri pertahanan, Agus Salim sebagai menteri luar negeri, dan Natsir sebagai menteri penerangan. Jika Syafruddin Prawiranegara yang keturunan Minang juga di masukan kedalamnya, maka aroma rendang pada kabinet Hatta I makin terasa.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:27pt;text-align:justify;margin:0;">Selama bertugas di pemerintahan, banyak kebijakan penting yang diambil para politisi Minang. Kebijakan Hatta yang menerbitkan peraturan mengenai pembentukan partai-partai politik, telah menjadikan republik ini menjadi salah satu negara paling demokratis dengan sistem multi-partai. Walaupun kebijakan ini dihapuskan oleh presiden Soekarno sejak 1959, yang kemudian dilanjutkan oleh Soeharto hingga 1998, keputusan multi-partai Hatta tetap menjadi pijakan politik Indonesia hingga saat ini. Selain kebijkan itu, Hatta pulalah yang mencetuskan politik luar negeri bebas dan aktif. Hatta jualah yang menentukan garis kebijakan ekonomi rakyat yang bersandarkan pada koperasi. Karena kebijakannya itu, Hatta dikenal sebagai Bapak Koperasi Indonesia.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:27pt;text-align:justify;margin:0;">Selain Hatta, Natsir juga cukup berperan dalam menentukan arah sejarah bangsa. Berkat mosi integral yang dicetuskannya, Republik Indonesia Serikat dibubarkan dan Indonesia kembali menjadi negara kesatuan. Di antara menteri luar negeri yang pernah ada, mungkin Agus Salim yang paling bersinar. Politisi panjang akal ini selalu memiliki trik untuk mematahkan argumen politisi Belanda. Berkat kebijakan dan diplomasinya yang cemerlang, Agus Salim dijuluki oleh pengamat Barat sebagi “<em>the grand old man</em>”. Politikus Minang juga cermat dalam membaca situasi dan kondisi. Pada saat Agresi Militer Belanda II yang berakibat tertawannya pemimpin-pemimpin republik, masyarakat Minangkabau cepat mengambil inisiatif untuk membentuk Pemerintahan Darurat Republik Indonesia yang berpusat di Bukittinggi. Dengan dibentuknya PDRI, roda pemerintahan Indonesia tak pernah berhenti kendati ibu kota Yogyakarta jatuh ke tangan Belanda.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:27pt;text-align:justify;margin:0;">Tahun 1960, kepercayaan diri para politisi Minang mulai memudar. Orang-orang Minang yang selama ini merasa sebagai <em>rule-maker </em>dalam pemerintahan, harus berakhir dengan kisah yang tak mengenakkan. Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia, sebuah pemerintahan yang hendak mengoreksi dominasi pusat atas daerah, dianggap sebagai pemberontakan daerah atas pusat yang harus dihabisi. Pemerintahan yang berpusat di Padang ini, hanya berlangsung singkat dan segera dapat dipadamkan oleh tentara pusat. Hancurnya PRRI, beriringan jua dengan hilangnya dominasi politikus Minang dalam kancah nasional.</p>
<p><strong>Berikut Posisi Kementerian yang Ditempati Orang-orang Minang : </strong></p>
<p>1. Kabinet Presidensial (2 September – 14 November 1945)<br />
   &#8211; Menteri Negara : Mohammad Amir<br />
2. Kabinet Syahrir I (14 November 1945 – 12 Maret 1946)<br />
   &#8211; Perdana Menteri : Sutan Syahrir<br />
   &#8211; Menteri Luar Negeri : Sutan Syahrir<br />
   &#8211; Menteri Dalam Negeri : Sutan Syahrir<br />
   &#8211; Menteri Penerangan : Mohammad Natsir<br />
3. Kabinet Syahrir II (12 Maret – 2 Oktober 1946)<br />
   &#8211; Perdana Menteri : Sutan Syahrir<br />
   &#8211; Menteri Luar Negeri : Sutan Syahrir<br />
   &#8211; Menteri Penerangan : Mohammad Natsir<br />
4. Kabinet Syahrir III (2 Oktober 1946 – 27 Juni 1947)<br />
   &#8211; Perdana Menteri : Sutan Syahrir<br />
   &#8211; Menteri Luar Negeri : Sutan Syahrir<br />
   &#8211; Menteri Ekonomi : Adnan Kapau Gani<br />
   &#8211; Menteri Penerangan : Mohammad Natsir<br />
5. Kabinet Syarifuddin I (3 Juli – 11 November 1947)<br />
   &#8211; Wakil Perdana Menteri : Adnan Kapau Gani<br />
   &#8211; Menteri Luar Negeri : Agus Salim<br />
   &#8211; Menteri Kemakmuran : Adnan Kapau Gani<br />
6. Kabinet Syarifuddin II (11 November 1947 – 29 Januari 1948)<br />
   &#8211; Wakil Perdana Menteri : Adnan Kapau Gani<br />
   &#8211; Menteri Luar Negeri : Agus Salim<br />
   &#8211; Menteri Kemakmuran : Adnan Kapau Gani<br />
7. Kabinet Hatta I (29 Januari 1948 – 4 Agustus 1949)<br />
   &#8211; Perdana Menteri : Mohammad Hatta<br />
   &#8211; Menteri Luar Negeri : Agus Salim<br />
   &#8211; Menteri Pertahanan : Mohammad Hatta<br />
   &#8211; Menteri Penerangan : Mohammad Natsir<br />
8. Kabinet Syafruddin (19 Desember 1948 – 13 Juli 1949)<br />
   &#8211; Menteri Perburuhan dan Sosial : Sutan Mohammad Rasyid<br />
9. Kabinet Hatta II (4 Agustus – 20 Desember 1949)<br />
   &#8211; Perdana Menteri : Mohammad Hatta<br />
   &#8211; Menteri Luar Negeri : Agus Salim<br />
10. Kabinet RIS (20 Desember 1949 – 6 September 1950)<br />
     &#8211; Perdana Menteri : Mohammad Hatta<br />
     &#8211; Menteri Luar Negeri : Mohammad Hatta<br />
     &#8211; Menteri Pendidikan dan Kebudayaan : Abu Hanifah<br />
11. Kabinet Halim (21 Januari – 6 September 1950)<br />
     &#8211; Perdana Menteri : Abdul Halim<br />
12. Kabinet Natsir (6 September 1950 – 27 April 1951)<br />
     &#8211; Perdana Menteri : Mohammad Natsir<br />
     &#8211; Menteri Dalam Negeri : Assaat<br />
     &#8211; Menteri Keamanan Rakyat : Abdul Halim<br />
     &#8211; Menteri Pendidikan dan Kebudayaan : Bahder Johan<br />
13. Kabinet Sukiman (27 April 1951 – 3 April 1952)<br />
     &#8211; Menteri Kehakiman : Mohammad Yamin kemudian Mohammad Nasrun<br />
14. Kabinet Wilopo (3 April 1952 – 30 Juli 1953)<br />
     &#8211; Menteri Pendidikan dan Kebudayaan : Bahder Johan<br />
15. Kabinet Ali Sastroamijoyo I (30 Juli 1953 – 12 Agustus 1955)<br />
     &#8211; Menteri Dalam Negeri : Hazairin<br />
     &#8211; Menteri Pendidikan dan Kebudayaan : Mohammad Yamin<br />
     &#8211; Menteri Tenaga Kerja : Sutan Muchtar Abidin<br />
     &#8211; Menteri Kesejahteraan Umum : Siradjuddin Abbas<br />
16. Kabinet Burhanuddin (12 Agustus 1955 – 24 Maret 1956)<br />
     &#8211; Menteri Penerangan : Syamsuddin Sutan Makmur<br />
17. Kabinet Ali Sastroamijoyo II (24 Maret 1956 – 14 Maret 1957)<br />
     &#8211; Menteri Pertanian : Eny Karim<br />
     &#8211; Menteri Tenaga Kerja : Sabilal Rasyad<br />
     &#8211; Menteri Negara : Dahlan Ibrahim<br />
18. Kabinet Juanda (9 April 1957 – 10 Juli 1959)<br />
     &#8211; Menteri Perhubungan Laut : Mohammad Nazir<br />
     &#8211; Menteri Negara : Chaerul Saleh<br />
     &#8211; Menteri Negara : Mohammad Yamin<br />
19. Kabinet Kerja I (10 Juli 1959 – 18 Februari 1960)<br />
     &#8211; Menteri Pembangunan : Chaerul Saleh<br />
     &#8211; Menteri Sosial dan Kebudayaan : Mohammad Yamin<br />
20. Kabinet Kerja II (18 Februari 1960 – 6 Maret 1962)<br />
     &#8211; Menteri Pembangunan : Chaerul Saleh<br />
     &#8211; Menteri Perindustrian Dasar dan Pertambangan : Chaerul Saleh<br />
     &#8211; Menteri Dewan Perancangan Nasional : Mohammad Yamin<br />
21. Kabinet Kerja III (6 Maret 1962 – 13 November 1963)<br />
     &#8211; Wakil Menteri Pertama Koordinator Khusus : Mohammad Yamin<br />
     &#8211; Menteri Perindustrian Dasar dan Pertambangan : Chaerul Saleh<br />
     &#8211; Menteri Dewan Perancangan Nasional : Mohammad Yamin<br />
     &#8211; Menteri Penerangan : Mohammad Yamin<br />
22. Kabinet Kerja IV (13 November 1963 – 27 Agustus 1964)<br />
     &#8211; Wakil Perdana Menteri : Chaerul Saleh<br />
     &#8211; Menteri Koordinator Pembangunan : Chaerul Saleh<br />
     &#8211; Menteri Perindustrian Dasar dan Pertambangan : Chaerul Saleh<br />
23. Kabinet Dwikora I (27 Agustus 1964 – 22 Februari 1966)<br />
     &#8211; Wakil Perdana Menteri : Chaerul Saleh<br />
     &#8211; Menteri Koordinator Pembangunan : Chaerul Saleh<br />
     &#8211; Menteri Urusan Minyak dan Gas Bumi : Chaerul Saleh<br />
24. Kabinet Dwikora II (24 Februari 1966 – 28 Maret 1966)<br />
     &#8211; Wakil Perdana Menteri : Chaerul Saleh<br />
25. Kabinet Dwikora III (27 Maret 1966 – 25 Juli 1966)<br />
     &#8211; Menteri Tenaga Kerja : Awaluddin Jamin<br />
26. Kabinet Ampera I (25 Juli 1966 – 17 Oktober 1967)<br />
     &#8211; Menteri Tenaga Kerja : Awaluddin Jamin<br />
27. Kabinet Ampera II (17 Oktober 1967 – 6 Juni 1968)<br />
     &#8211; Menteri Tenaga Kerja : Awaluddin Jamin<br />
28. Kabinet Pembangunan I (10 Juni 1968 – 1973)<br />
     &#8211; Menteri Negara Penyempurnaan dan Pembersihan Aparatur Negara : Emil Salim<br />
29. Kabinet Pembangunan II (1973 – 1978)<br />
     &#8211; Menteri Perhubungan : Emil Salim<br />
30. Kabinet Pembangunan III (1978 – 1983)<br />
     &#8211; Menteri Perindustrian : A.R. Suhud<br />
     &#8211; Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi : Harun Zain<br />
     &#8211; Menteri Pengawas Pembangunan dan Lingkungan Hidup : Emil Salim<br />
31. Kabinet Pembangunan IV (1983 – 1988)<br />
     &#8211; Menteri Koperasi : Bustanul Arifin<br />
     &#8211; Menteri Kependudukan dan Lingkungan Hidup : Emil Salim<br />
32. Kabinet Pembangunan V (1988 – 1993)<br />
     &#8211; Menteri Perhubungan : Azwar Anas<br />
     &#8211; Menteri Koperasi : Bustanul Arifin<br />
     &#8211; Menteri Kependudukan dan Lingkungan Hidup : Emil Salim<br />
33. Kabinet Pembangunan VI (1993 – 1998)<br />
     &#8211; Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat : Azwar Anas<br />
     &#8211; Menteri Tenaga Kerja : Abdul Latief<br />
     &#8211; Menteri Pertanian : Syarifuddin Baharsyah<br />
     &#8211; Menteri Agama : Tarmizi Taher<br />
34. Kabinet Pembangunan VII (Jan – Mei 1998)<br />
     &#8211; Menteri Penerangan : Muhammad Alwi Dahlan<br />
     &#8211; Menteri Pariwisata, Seni, dan Budaya : Abdul Latief<br />
     &#8211; Menteri Kesehatan : Farid Anfasa Moeloek<br />
35. Kabinet Reformasi Pembangunan (Mei 1998 – Oktober 1999)<br />
     &#8211; Menteri Kesehatan : Farid Anfasa Moeloek<br />
     &#8211; Menteri Tenaga Kerja : Fahmi Idris<br />
     &#8211; Menteri Riset dan Teknologi : Zuhal Abdul Qadir<br />
     &#8211; Menteri Agraria : Hasan Basri Durin<br />
36. Kabinet Persatuan Nasional (1999 – 2001)<br />
     &#8211; Menteri Koordinator Ekonomi, Keuangan, dan Industri : Rizal Ramli<br />
37. Kabinet Gotong Royong (2001 – 2004)<br />
     &#8211; Menteri Sosial : Bachtiar Chamsyah<br />
38. Kabinet Indonesia Bersatu I (2004 – 2009)<br />
     &#8211; Menteri Tenaga Kerja : Fahmi Idris<br />
     &#8211; Menteri Sosial : Bachtiar Chamsyah<br />
39. Kabinet Indonesia Bersatu II (2009 – 2014)<br />
     &#8211; Menteri Dalam Negeri : Gamawan Fauzi<br />
     &#8211; Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia : Patrialis Akbar<br />
     &#8211; Menteri Komunikasi dan Informatika : Tifatul Sembiring<br />
     &#8211; Menteri Pemberdayaan Wanita dan Urusan Anak : Linda Amaliasari</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/afandri81.wordpress.com/329/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/afandri81.wordpress.com/329/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/afandri81.wordpress.com/329/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/afandri81.wordpress.com/329/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/afandri81.wordpress.com/329/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/afandri81.wordpress.com/329/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/afandri81.wordpress.com/329/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/afandri81.wordpress.com/329/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/afandri81.wordpress.com/329/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/afandri81.wordpress.com/329/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=afandri81.wordpress.com&blog=1733555&post=329&subd=afandri81&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://afandri81.wordpress.com/2009/11/17/politisi-minang-dan-kabinet-beraroma-rendang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4d915c9572438cee3e7045d27fc801fd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">afandri81</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://afandri81.files.wordpress.com/2009/11/kabinet-hatta-i1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Situasi Rapat Kabinet Hatta I</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Gedung Tertinggi Di Indonesia</title>
		<link>http://afandri81.wordpress.com/2009/10/28/gedung-tertinggi-di-indonesia/</link>
		<comments>http://afandri81.wordpress.com/2009/10/28/gedung-tertinggi-di-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Oct 2009 16:35:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>afandri81</dc:creator>
				<category><![CDATA[Arsitektur]]></category>
		<category><![CDATA[Bangunan Tertinggi]]></category>
		<category><![CDATA[Gedung Tertinggi]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Wisma 46]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://afandri81.wordpress.com/?p=317</guid>
		<description><![CDATA[Indonesia tak kalah dengan negara-negara lain yang telah maju di dunia. Mampu membuat struktur bangunan yang menjulang tinggi ke langit. Saat ini bangunan tertinggi di Indonesia ialah menara televisi Indosiar, yang terletak di daerah Kembangan, Jakarta Barat. Tinggi menara mencapai 395 meter dan berfungsi sebagai pemancar siaran Indosiar ke seluruh Indonesia.
Untuk kategori gedung tertinggi, Indonesia [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=afandri81.wordpress.com&blog=1733555&post=317&subd=afandri81&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div id="attachment_318" class="wp-caption alignleft" style="width: 478px"><img src="http://afandri81.files.wordpress.com/2009/10/wisma-46.jpg?w=468&#038;h=232" alt="Wisma 46" title="Wisma 46" width="468" height="232" class="size-full wp-image-318" /><p class="wp-caption-text">Wisma 46, di Tengah-tengah Pencakar Langit Jakarta</p></div>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:27pt;text-align:justify;margin:0;">Indonesia tak kalah dengan negara-negara lain yang telah maju di dunia. Mampu membuat struktur bangunan yang menjulang tinggi ke langit. Saat ini bangunan tertinggi di Indonesia ialah menara televisi Indosiar, yang terletak di daerah Kembangan, Jakarta Barat. Tinggi menara mencapai 395 meter dan berfungsi sebagai pemancar siaran Indosiar ke seluruh Indonesia.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:27pt;text-align:justify;margin:0;">Untuk kategori gedung tertinggi, Indonesia belum bisa berbicara banyak. Gedung-gedung tinggi di Indonesia, masih kalah ukuran jika dibandingkan dengan gedung-gedung di Kuala Lumpur atau Singapura. Malah jika dibandingkan dengan negara-negara seperti Amerika Serikat, Cina, ataupun Uni Emirat Arab, Indonesia tidak ada apa-apanya.  Sejak tahun 1997, Indonesia telah berencana untuk membangun gedung tertinggi di dunia, yakni Menara Kemayoran. Namun, menara yang kabarnya akan dibangun setinggi 550 meter ini, hingga kini tak pernah terwujud. Sekarang Indonesia hanya berpuas dengan Wisma 46, yang menjadi gedung tertinggi dengan ketinggian 262 meter. Gedung perkantoran milik Bank Negara Indonesia ini terletak di Jalan Sudirman, tepat di jantung ibu kota Jakarta. Bentuknya yang unik seperti pulpen, menjadikan Wisma 46 sebagai ikon kota Jakarta disamping Tugu Monas. Pembangunan Indonesia yang tidak merata, tercermin pula pada penyebaran pencakar langitnya, dimana dari 25 pencakar langit tertinggi semuanya berada di Jabotabek (baca: Jakarta).</p>
<p><strong>Berikut 25 Gedung Tertinggi di Indonesia :</strong> </p>
<p>1. <strong>Wisma 46</strong>, tinggi 262 meter, 48 lantai, selesai dibangun tahun 1996, terletak di Jalan Sudirman Jakarta Pusat.<br />
2. <strong>Menara BCA</strong>, tinggi 230 meter, 56 lantai, selesai dibangun tahun 2009, terletak di Jalan Thamrin Jakarta Pusat.<br />
3. <strong>The Peak Tower I</strong>, tinggi 218,5 meter, 55 lantai, selesai dibangun tahun 2006, terletak di Jalan Sudirman Jakarta Selatan.<br />
4. <strong>The Peak Tower II</strong>, tinggi 218,5 meter, 55 lantai, selesai dibangun tahun 2006, terletak di Jalan Sudirman Jakarta Selatan.<br />
5. <strong>Graha Energi</strong>, tinggi 217 meter, 40 lantai, selesai dibangun tahun 2008, terletak di Sudirman CBD Jakarta Selatan. <span id="more-317"></span><br />
6. <strong>Kempinski Residences</strong>, tinggi 217 meter, 57 lantai, selesai dibangun tahun 2009, terletak di Jalan Thamrin Jakarta Pusat.<br />
7. <strong>Bakrie Tower</strong>, tinggi 215 meter, 48 lantai, selesai dibangun tahun 2009, terletak di Rasuna Epicentrum Jakarta Selatan.<br />
8. <strong>Ritz-Carlton Jakarta Tower A</strong>, tinggi 212 meter, 48 lantai, selesai dibangun tahun 2005, terletak di Mega Kuningan Jakarta Selatan.<br />
9. <strong>Ritz-Carlton Jakarta Tower B</strong>, tinggi 212 meter, 48 lantai, selesai dibangun tahun 2005, terletak di Mega Kuningan Jakarta Selatan.<br />
10. <strong>Plaza Indonesia Extension Tower A</strong>, tinggi 210 meter, 48 lantai, selesai dibangun tahun 2009, terletak di Jalan Thamrin Jakarta Pusat.<br />
11. <strong>Plaza Indonesia Extension Tower B</strong>, tinggi 206 meter, 47 lantai, selesai dibangun tahun 2009, terletak di Jalan Thamrin Jakarta Pusat.<br />
12. <strong>Wisma Mulia</strong>, tinggi 195,1 meter, 54 lantai, selesai dibangun tahun 2003, terletak di Jalan Gatot Subroto Jakarta Selatan.<br />
13. <strong>Sudirman Place</strong>, tinggi 183 meter, 42 lantai, selesai dibangun tahun 2006, terletak di Jalan Sudirman Jakarta Pusat.<br />
14. <strong>Aston Veranda</strong>, tinggi 170 meter, 39 lantai, selesai dibangun tahun 2009, terletak di Jalan S. Parman Jakarta Barat.<br />
15. <strong>Indofood Tower</strong>, tinggi 170 meter, 36 lantai, selesai dibangun tahun 2006, terletak di Jalan Sudirman Jakarta Selatan.<br />
16. <strong>Menara Kadin Indonesia</strong>, tinggi 168,9 meter, 37 lantai, selesai dibangun tahun 1997, terletak di Jalan Rasuna Said Jakarta Selatan.<br />
17. <strong>The Peak Tower III</strong>, tinggi 165 meter, 35 lantai, selesai dibangun tahun 2006, terletak di Jalan Sudirman Jakarta Selatan.<br />
18. <strong>The Peak Tower IV</strong>, tinggi 165 meter, 35 lantai, selesai dibangun tahun 2006, terletak di Jalan Sudirman Jakarta Selatan.<br />
19. <strong>Apartemen Amartapura Tower I</strong>, tinggi 163,1 meter, 52 lantai, selesai dibangun tahun 1996, terletak di Lippo Karawaci, Tangerang.<br />
20.<strong> Menara Matahari</strong>, tinggi 162 meter, 41 lantai, selesai dibangun tahun 1996, terletak di Lippo Karawaci, Tangerang.<br />
21. <strong>Plaza BII Tower II</strong>, tinggi 160 meter, 39 lantai, terletak di Jalan Thamrin Jakarta Pusat.<br />
22. <strong>UOB Plaza</strong>, tinggi 160 meter, 45 lantai, selesai dibangun tahun 2007, terletak di Jalan Thamrin Jakarta Pusat.<br />
23. <strong>Apartemen Da Vinci</strong>, tinggi 160 meter, 36 lantai, selesai dibangun tahun 2003, terletak di Jalan Sudirman Jakarta Pusat.<br />
24. <strong>Sahid Sudirman Residences</strong>, tinggi 158,2 meter, 44 lantai, selesai dibangun tahun 2009, terletak di Jalan Sudirman Jakarta Pusat.<br />
25. <strong>Oakwood Premier Conzo</strong>, tinggi 158 meter, 40 lantai, selesai dibangun tahun 2006, terletak di Mega Kuningan Jakarta Selatan.</p>
<p>Sumber foto : http://www.skyscrapercity.com</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/afandri81.wordpress.com/317/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/afandri81.wordpress.com/317/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/afandri81.wordpress.com/317/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/afandri81.wordpress.com/317/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/afandri81.wordpress.com/317/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/afandri81.wordpress.com/317/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/afandri81.wordpress.com/317/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/afandri81.wordpress.com/317/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/afandri81.wordpress.com/317/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/afandri81.wordpress.com/317/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=afandri81.wordpress.com&blog=1733555&post=317&subd=afandri81&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://afandri81.wordpress.com/2009/10/28/gedung-tertinggi-di-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4d915c9572438cee3e7045d27fc801fd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">afandri81</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://afandri81.files.wordpress.com/2009/10/wisma-46.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Wisma 46</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Orang Kaya Indonesia</title>
		<link>http://afandri81.wordpress.com/2009/10/26/orang-kaya-indonesia/</link>
		<comments>http://afandri81.wordpress.com/2009/10/26/orang-kaya-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Oct 2009 15:32:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>afandri81</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ekonomi Bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[Bakrie]]></category>
		<category><![CDATA[Konglomerat Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Orang Kaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://afandri81.wordpress.com/?p=298</guid>
		<description><![CDATA[Forbes, dalam ritual tahunannya, kembali menurunkan daftar orang-orang kaya Indonesia. Ada yang berbeda tahun ini, Aburizal Bakrie yang tahun lalu duduk di kursi paling atas, kini harus merosot ke posisi keenam. Sejak krisis pasar modal terjadi pada bulan Oktober 2008 lalu, saham BUMI yang menjadi mesin uang grup Bakrie, terjun bebas dari Rp 8.800 hingga [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=afandri81.wordpress.com&blog=1733555&post=298&subd=afandri81&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><div id="attachment_299" class="wp-caption alignleft" style="width: 133px"><img src="http://afandri81.files.wordpress.com/2009/10/konglomerat-indonesia.jpg?w=123&#038;h=82" alt="Konglomerat Indonesia" title="konglomerat indonesia" width="123" height="82" class="size-full wp-image-299" /><p class="wp-caption-text">Konglomerat Indonesia</p></div>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:27pt;text-align:justify;margin:0;">Forbes, dalam ritual tahunannya, kembali menurunkan daftar orang-orang kaya Indonesia. Ada yang berbeda tahun ini, Aburizal Bakrie yang tahun lalu duduk di kursi paling atas, kini harus merosot ke posisi keenam. Sejak krisis pasar modal terjadi pada bulan Oktober 2008 lalu, saham BUMI yang menjadi mesin uang grup Bakrie, terjun bebas dari Rp 8.800 hingga mencapai Rp 700. Selain itu, diambil alihnya beberapa saham perusahaan di kelompok Bakrie dari tangan Aburizal, juga turut menekan jumlah kekayannya. Sukanto Tanoto, pengusaha kertas dan bubuk kertas asal Medan, ambil alih posisi menjadi yang teratas. Berikut daftar konglomerat Indonesia menurut versi majalah Forbes Asia.</p>
<p>1. <strong>Sukanto Tanoto</strong>, US$ 2,8 Milyar; 58 tahun. Di bawah bendera Raja Garuda Mas International yang berpusat di Singapura, Sukanto memproduksi kertas, minyak kelapa, dan sumber daya energi.</p>
<p>2. <strong>Putera Sampoerna</strong> – US$ 2,1 Milyar; 58 tahun. Perusahaannya, PT H.M Sampoerna, Tbk menjadi perusahaan rokok paling menguntungkan di Indonesia. Selain bisnis rokok, Sampoerna juga mengembangkan perkebunan dibawah kendali PT Sampoerna Agro Industri.</p>
<p>3. <strong>Eka Tjipta Widjaja &amp; keluarga </strong> – US$ 2,0 milyar; 80 tahun. Pemilik Sinar Mas Grup, yang bergerak di bidang perkebunan, kertas, perbankan, dan sekuritas.</p>
<p>4. <strong>Rachman Halim &amp; keluarga </strong> – US$ 1,8 Milyar; 59 tahun. PT Gudang Garam yang berbasis di Kediri, Jawa timur merupakan kepunyaannya. Saat ini Gudang Garam menjadi perusahaan rokok terbesar di Indonesia.</p>
<p>5. <strong>R. Budi Hartono &amp; keluarga</strong> – US$ 1,4 Milyar; 64 tahun. Selain bisnis rokok kretek dengan merek Djarum, Hartono dan keluarga juga merupakan penguasa sebagian saham bank swasta terbesar tanah air, BCA. Hartono juga mulai merambah ke bisnis properti, dengan proyek terbesarnya saat ini ialah kompleks hotel, mal, dan apartemen Grand Indonesia. <span id="more-298"></span></p>
<p>6. <strong>Aburizal Bakrie &amp; keluarga </strong> – US$ 1,2 Milyar; 59 tahun. Bakrie dan keluarga merupakan konglomerat tangguh. Bisnisnya aneka rupa, mulai pertambangan (Bumi Resources dan Energi Mega Persada), telekomunikasi (Bakrie Telecom), perkebunan (Bakrie Sumatra), properti (Bakrie Development), media (Anteve), dan masih banyak lagi.</p>
<p>7. <strong>Eddy William Katuari &amp; keluarga </strong>– US$ 1,0 Milyar; 60 tahun. Eddy William salah satu pebisnis yang dapat menyaingi eksistensi Unilever di Indonesia. Bisnisnya, dibawah bendera Wings Group, meliputi produk-produk kebutuhan sehari-hari, seperti sabun cuci, pasta gigi, dan lain-lain.</p>
<p>8. <strong>Trihatma Haliman </strong> – US$ 900 Juta, 54 tahun. Trihatma adalah sosok bertangan dingin. Semua produk-produk propertinya laku keras. Usahanya dibawah bendera Agung Podomoro.</p>
<p>9. <strong>Arifin Panigoro </strong> – US$ 815 Juta, 61 tahun.<br />
Arifin merupakan pemilik perusahaan minyak Medco Energy International. Selain MEDC, Arifin juga merupakan pengusaha <em>banking</em> yang handal.  </p>
<p>10. <strong>Liem Sioe Liong &amp; keluarga</strong> – US$ 800 Juta; 91 tahun. Pada masa kejayannya, Liem dan keluarga sempat menjadi konglomerat paling kaya se-Asia. Perusahaannya cukup banyak, dan diantara yang terbesar ialah Indomobil, Bogasari, dan Indofood. </p>
<p>11. Mochtar Riady &amp; keluarga – US$ 570 Juta; 76 tahun; Lippo Grup.</p>
<p>12. Peter Sondakh – US$ 530 Juta; 54 tahun; Rajawali Group.</p>
<p>13. Prajogo Pangestu – US$ 510 Juta; 55 tahun; Barito Pacific.</p>
<p>14. Martua Sitorus – US$ 475 Juta; 46 tahun; Wilmar International.</p>
<p>15. Paulus Tumewu &#8211; US$ 440 Juta; 54 tahun; Department Store Ramayana.</p>
<p>16. Murdaya Poo dan Siti Hartati Cakra – US$ 430 Juta; 65 dan 60 tahun; Murdaya Group.</p>
<p>17. Husein Djojonegoro &amp; keluarga – US$ 360 Juta; 57 tahun; ABC Groups.</p>
<p>18. Chairul Tanjung – US$ 310 Juta; 44 tahun; Para Group.</p>
<p>19. Hadi Surya – , US$ 305 Juta; Usia 70; Berlian Ladju.</p>
<p>20. Tan Kian – US$ 300 Juta; 48 tahun; Marriott Hotel dan Ritz Carlton Hotel.</p>
<p>21. Sjamsul Nursalim – US$ 295 Juta; 64 tahun; Gajah Tunggal.</p>
<p>22. George dan Sjakon Tahija – US$ 265 Juta; 48 tahun.</p>
<p>23. Edwin Soeryadjaya – US$ 230 Juta; 57 tahun; Grup Astra.</p>
<p>24. Kartini Muljadi dan Dian Paramita Tamzil – US$ 225 Juta; Tempo Scan Pacific.</p>
<p>25. Harjo Sutanto &amp; keluarga – US$ 220 Juta; Wings Group.</p>
<p>26. Soegiharto Sosrodjojo – US$ 215 Juta; 72 tahun; Sosro Group.</p>
<p>27. Tan Siong Kie – US$ 200 Juta; 90 tahun; Rodamas Group.</p>
<p>28. Aksa Mahmud – US$ 195 Juta; 61 tahun; Grup Bosowa.</p>
<p>29. Soetjipto Nagaria – US$ 150 Juta, 66 tahun; Summarecon Agung.</p>
<p>30. Ciputra &amp; keluarga – US$ 145 Juta, 74 tahun; Ciputra Group.</p>
<p>31. Kris Taenar Wiluan – US$ 140 Juta; 56 tahun; Citra Tubindo.</p>
<p>32. Sutanto Djuhar &amp; keluarga – US$ 135 Juta; 77 tahun; Bank First Pacific. </p>
<p>33. Husein Sutjiadi – US$ 120 Juta, 52 tahun; Davomas.</p>
<p>34. Boenjamin Setiawan &amp; keluarga – US$ 115 Juta; Kalbe Farma.</p>
<p>35. Tomy Winata – US$ 110 Juta, 48 tahun; Agung Sedayu.</p>
<p>36. Jusuf Kalla – US$ 105 Juta, 64 tahun; Kalla Group.</p>
<p>37. Minarsih Soedarpo &amp; keluarga – US$ 100 Juta; 84 tahun; Samudera Indonesia. </p>
<p>38. Alim Markus &amp; keluarga – US$ 95 Juta, 55 tahun; Maspion Group.</p>
<p>39. Jakob Oetama – US$ 90 Juta; 75 tahun; Kompas Media Group.</p>
<p>40. Tjandra Kusuma – US$ 80 Juta; Mulia Group.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/afandri81.wordpress.com/298/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/afandri81.wordpress.com/298/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/afandri81.wordpress.com/298/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/afandri81.wordpress.com/298/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/afandri81.wordpress.com/298/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/afandri81.wordpress.com/298/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/afandri81.wordpress.com/298/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/afandri81.wordpress.com/298/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/afandri81.wordpress.com/298/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/afandri81.wordpress.com/298/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=afandri81.wordpress.com&blog=1733555&post=298&subd=afandri81&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://afandri81.wordpress.com/2009/10/26/orang-kaya-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4d915c9572438cee3e7045d27fc801fd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">afandri81</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://afandri81.files.wordpress.com/2009/10/konglomerat-indonesia.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">konglomerat indonesia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Melancong ke Kota Tua Jakarta</title>
		<link>http://afandri81.wordpress.com/2009/10/24/melancong-ke-kota-tua-jakarta/</link>
		<comments>http://afandri81.wordpress.com/2009/10/24/melancong-ke-kota-tua-jakarta/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Oct 2009 08:37:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>afandri81</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wisata]]></category>
		<category><![CDATA[Betawi]]></category>
		<category><![CDATA[Glodok]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta Kota]]></category>
		<category><![CDATA[Kali Besar]]></category>
		<category><![CDATA[Museum Fatahillah]]></category>
		<category><![CDATA[Tionghoa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://afandri81.wordpress.com/?p=159</guid>
		<description><![CDATA[Pergi melancong ke kota tua Jakarta (Oud Batavia), ternyata memiliki keasikan tersendiri. Tak perlu harus merogoh kocek dalam-dalam, saya sudah bisa menikmati keindahan tempat-tempat bersejarah di lokasi awal mula kota Jakarta berdiri. Agar hemat diperjalanan, saya memilih moda transportasi murah seperti kereta listrik dan bis Transjakarta.
Sudah beberapa kali saya bertamasya ke kota tua. Tapi untuk [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=afandri81.wordpress.com&blog=1733555&post=159&subd=afandri81&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><div id="attachment_209" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><img src="http://afandri81.files.wordpress.com/2009/10/kali-besar-jakarta-kota.jpg?w=300&#038;h=225" alt="Kali Besar, Jakarta Kota" title="Kali Besar, Jakarta Kota" width="300" height="225" class="size-full wp-image-209" /><p class="wp-caption-text">Kali Besar, Jakarta Kota</p></div>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:27pt;text-align:justify;margin:0;">Pergi melancong ke kota tua Jakarta (<em>Oud Batavia</em>), ternyata memiliki keasikan tersendiri. Tak perlu harus merogoh kocek dalam-dalam, saya sudah bisa menikmati keindahan tempat-tempat bersejarah di lokasi awal mula kota Jakarta berdiri. Agar hemat diperjalanan, saya memilih moda transportasi murah seperti kereta listrik dan bis Transjakarta.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:27pt;text-align:justify;margin:0;">Sudah beberapa kali saya bertamasya ke kota tua. Tapi untuk perjalanan kali ini, saya memilih naik kereta listrik ekonomi. Harga tiketnya super murah. Untuk perjalanan dari stasiun Cakung hingga stasiun Jakarta Kota, cukup dengan tiga koin Rp 500. Setibanya di Jakarta Kota, keluar dari gerbang utara stasiun, saya berjalan kaki menyusuri pedestrian yang sempit dan berdebu. Tak jauh dari stasiun, saya berserobok dengan bangunan tua yang kokoh perkasa dengan lapangan besar di depannya. Kompleks bangunan ini kira-kira berukuran 100 meter kali 150 meter. Konon tempat ini dulu menjadi balai kota dan kantor bagi para penggede VOC. Dari bangunan besar inilah, VOC mengendalikan bisnisnya yang terbentang luas mulai dari Afrika Timur hingga Kepulauan Maluku. Kini bangunan yang berdiri sejak tahun 1710 itu, dikenal dengan Museum Fatahillah atau Museum Sejarah Jakarta. Museum ini memang terkesan angker. Di bawah tanah museum, terdapat beberapa ruang penjara setinggi tengkuk orang dewasa.<span id="more-159"></span> Ditempat inilah dulu Untung Suropati pernah menjalani hukuman dan menjalin kisah asmara dengan gadis anak penggede VOC. Museum ini berlantai tiga, dengan beberapa rumah kecil di sekitar kompleks museum. Di halaman museum terdapat meriam si Jagur, dan tiang bekas tempat eksekusi hukuman gantung bagi narapidana kelas kakap.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:27pt;text-align:justify;margin:0;">Menghadap ke arah utara, akan dijumpai kantor pos besar Jakarta Kota. Sebelum berpindah ke Gambir, di tempat inilah dulu  kantor pos pusat berada. Menyusur tiga ratus meter ke arah barat, saya tiba di jalan Kali Besar. Boulevard ini sangat eksotik. Terbagi dalam dua ruas jalan dengan kanal besar di tengahnya. Di ujung kanal, terlihat jembatan tua berkerangka besi kokoh membentang. Jembatan Kota Intan, begitu jembatan ini biasa disebut, dulunya dapat terangkat keatas jika jung-jung VOC hendak masuk lebih jauh ke dalam kota. Berada di Kali Besar terasa seperti di negeri-negeri Eropa. Di kiri-kanan jalan, penuh dengan bangunan-bangunan tua berarsitektur <em>art deco</em>. Bangunan tua tersebut sangat tak terawat. Bahkan beberapa gedung nampak keropos dan hampir rubuh. Menurut cerita, di sinilah awal mula bisnis Batavia menggeliat. Di tempat ini pulalah budak-budak dari Indonesia timur dan pantai Koromandel India, pertama kali berlabuh. Budak-budak impor, mengisi kekosongan tenaga kerja kasar untuk kota Batavia yang baru. Menurut Alwi Shahab, budayawan <em>cum</em> sejarawan Betawi, para budak inilah yang menjadi cikal-bakal keturunan orang Betawi.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:27pt;text-align:justify;margin:0;">Kemeriahan kota tua tak hanya sebatas di sini. Di seberang barat stasiun, berdiri bekas kantor De Javasche Bank. Di tempat inilah bank sentral Indonesia pertama kali berkantor. Bangunan tua dengan cat putih itu, kini telah berubah fungsi menjadi museum Bank Mandiri dan tempat kongkow para sosialita ibu kota. Menapak tiga ratus meter ke arah selatan museum ini, saya tiba di kawasan Pancoran. Di tempat ini, saya melihat deretan pedagang obat-obat Cina berjajar. Ada penjual yang menjajakan dengan kotak-kotak di kaki lima, namun lebih banyak yang berdagang di dalam toko-toko besar. Di lorong-lorong toko, banyak terlihat pelukis-pelukis amatir sedang menggambar foto si pemesan. Kesemrawutan kawasan Pancoran berlangsung sepanjang hari. Kuli-kuli angkut hingga penjaja makanan, berebut lahan di lorong-lorong pertokoan. Siang berganti malam, terang berganti gelap. Aktivitas Pancoran terasa tak meredup. Di malam hari, giliran wanita-wanita penjaja tubuh ambil bagian.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:27pt;text-align:justify;margin:0;">Kawasan Pancoran-Pinangsia, dikenal sebagai kawasan pecinan. Disini, nuansa Tionghoa amat kental terasa. Orang-orang penduduk asli Pancoran, berbicara dengan bahasa betawi dialek Mandarin. Adapun generasi-generasi baru Tionghoa, bercakap-cakap diantara mereka menggunakan bahasa Hokkien atau Teochew. Bangunan-bangunan berarsitektur Cina, dengan atap berkotak di ujung kiri dan kanan, masih banyak dijumpai. Datang ke kawasan ini, kurang sedap jika tak menikmati liang teh Cina atau biasa dikenal dengan <em>chinese tea</em>. Teh poci khas Tiongkok ini, banyak di jual di kios-kios makanan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:27pt;text-align:justify;margin:0;">Melanjutkan perjalanan, saya tiba di Pasar Glodok tepat di sebelah timur kawasan Pancoran. Glodok yang ternama itu, menjual aneka barang-barang elektronik, mulai dari televisi, kulkas, AC, DVD, hingga mini kompo. Di pasar inilah ratusan milyar uang berputar setiap harinya. Manisnya Glodok mengundang ribuan orang untuk mengadu nasib disini. Tak heran, banyak dijumpai preman-preman yang ikut mengais rejeki dari remah-remah uang yang beredar. Disamping orang-orang Tionghoa yang berdagang alat-alat elektronik, pasar ini juga dipenuhi oleh pedagang VCD/DVD bajakan. Profesi ini banyak dilakoni oleh pedagang-pedagang asal Batak. Ditempat ini pulalah diperkirakan sebagai titik pangkal sirkulasi VCD bajakan di seluruh Jakarta.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:27pt;text-align:justify;margin:0;">Perjalanan ke kota tua, saya akhiri untuk sholat di mesjid Kebun Jeruk. Mesjid peninggalan saudagar-saudagar Arab ini, telah berdiri sejak 250 tahun yang lalu. Dulunya, mesjid ini terletak percis di tepi kali Molenvliet, yang membelah jalan Gajah Mada dan Hayam Wuruk sekarang. Namun seiring berjalannya waktu dengan adanya perluasan infrastruktur kota, halaman luas mesjid Kebon Jeruk yang dulu tampak asri, kini tinggal kenangan.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/afandri81.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/afandri81.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/afandri81.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/afandri81.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/afandri81.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/afandri81.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/afandri81.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/afandri81.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/afandri81.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/afandri81.wordpress.com/159/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=afandri81.wordpress.com&blog=1733555&post=159&subd=afandri81&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://afandri81.wordpress.com/2009/10/24/melancong-ke-kota-tua-jakarta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4d915c9572438cee3e7045d27fc801fd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">afandri81</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://afandri81.files.wordpress.com/2009/10/kali-besar-jakarta-kota.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Kali Besar, Jakarta Kota</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kapitalis Modal Dengkul</title>
		<link>http://afandri81.wordpress.com/2009/10/23/147/</link>
		<comments>http://afandri81.wordpress.com/2009/10/23/147/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Oct 2009 15:42:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>afandri81</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ekonomi Bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[Kapitalis]]></category>
		<category><![CDATA[Pasar Modal]]></category>
		<category><![CDATA[Pencuci Uang]]></category>
		<category><![CDATA[Rekayasa Pasar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://afandri81.wordpress.com/?p=147</guid>
		<description><![CDATA[
Di zaman ekonomi kartal dewasa ini, segalanya menjadi mungkin. Orang-orang yang mencoba untuk menjadi kaya, cukuplah tampil parlente. Tak perlu sekolah tinggi-tinggi, asal bisa berhitung, baca peluang plus pergaulan luas, menjadi seorang miliuner tak sulit digapai. Hanya pakai jas, dasi, sedikit wewangian, dan diantar sopir dengan mobil bermerek, bisa menambat hati banyak orang. Tak terkecuali [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=afandri81.wordpress.com&blog=1733555&post=147&subd=afandri81&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img src="http://afandri81.files.wordpress.com/2009/10/kapitalisme.jpg?w=190&#038;h=290" alt="Kapitalisme" title="Kapitalisme" width="190" height="290" class="alignleft size-medium wp-image-251" />
<p class="MsoNormal" style="text-indent:27pt;text-align:justify;margin:0;">Di zaman ekonomi kartal dewasa ini, segalanya menjadi mungkin. Orang-orang yang mencoba untuk menjadi kaya, cukuplah tampil parlente. Tak perlu sekolah tinggi-tinggi, asal bisa berhitung, baca peluang plus pergaulan luas, menjadi seorang miliuner tak sulit digapai. Hanya pakai jas, dasi, sedikit wewangian, dan diantar sopir dengan mobil bermerek, bisa menambat hati banyak orang. Tak terkecuali pihak bank. Masuklah Anda ke bank dengan gaya necis macam ini, layanan prioritas tak kan sulit diraih. Tawaran kartu kredit platinum tanpa limit, serta bunga pinjaman yang menarik menanti Anda. Mau buka usaha tapi tak punya modal, tinggal pinjam uang ke bank. Cukup kasih komisi 1% ke pejabat bank, dijamin urusan Anda selesai secepat kilat. Buka usaha tak perlu pintar-pintar amat, asal bisa menej orang serta patpatgulipat dengan birokrat, bisnis Anda dijamin sukses. Untuk tenaga kerja, Anda tinggal <em>hire</em> alumni-alumni terbaik UI dan ITB. Kasih gaji tinggi dan minta mereka menjalankan usaha Anda sebaik mungkin.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:27pt;text-align:justify;margin:0;">Mau memperbesar skala usaha, banyak jalan menuju Roma. Mungkin salah satu cara yang tepat, masuk ke pasar modal. Sukses di pasar modal resepnya cuma satu, buat semenarik mungkin kinerja saham perusahaan Anda. Jadikan seolah-olah saham ini sebagai tempat investasi yang menguntungkan bagi banyak orang. Dimasa sekarang, dimana kepeng rupiah yang bicara, menciptakan yang seperti ini tidaklah terlalu sulit.<span id="more-147"></span> Anda tinggal bayar akuntan-akuntan kredibel, untuk memanipulasi laporan keuangan perusahaan Anda agar terlihat kinclong. Dan satu lagi, pesankan ke <em>market maker</em>, untuk menjaga harga saham perusahaan Anda agar tak terjerembab ke bawah.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:27pt;text-align:justify;margin:0;">Kalau lagi cetak laba besar, supaya uang yang masuk saku banyak dan sedikit untuk negara, tinggal suap pejabat pajak. Kalau usaha Anda lagi rugi tak usah khawatir, banyak investor-investor bodoh yang siap membeli perusahaan Anda dengan harga (rekayasa) pasar. Dari hasil penjualan itu sukur-sukur Anda mau melunasi hutang ke bank. Kalau tak mau, bawa kabur saja uang itu ke Singapura dan minta kekebalan hukum disana. Pemerintah Singapura akan dengan senang hati membantu Anda. Negeri Singa, surga bagi pencuci uang. Disana, koruptur kelas teri sampai penipu ulung hidup bebas berkeliaran. Di pulau jiran ini, sembari hidup bermewah-mewahan, sisihkan Sin$ 1 untuk membuat <em>virtual company</em>, sebagai kendaraan bisnis baru Anda. Dengan kendaraan baru ini, diharapkan perusahaan lama yang telah tergadai bisa diakuisisi kembali. Dan menjaga hidup yang penuh intrik serta muslihat, bisa terus berputar.</p>
<p>Sumber gambar : http://www.marxists.org</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/afandri81.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/afandri81.wordpress.com/147/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/afandri81.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/afandri81.wordpress.com/147/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/afandri81.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/afandri81.wordpress.com/147/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/afandri81.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/afandri81.wordpress.com/147/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/afandri81.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/afandri81.wordpress.com/147/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=afandri81.wordpress.com&blog=1733555&post=147&subd=afandri81&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://afandri81.wordpress.com/2009/10/23/147/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4d915c9572438cee3e7045d27fc801fd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">afandri81</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://afandri81.files.wordpress.com/2009/10/kapitalisme.jpg?w=190" medium="image">
			<media:title type="html">Kapitalisme</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>